RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sirkel Pertemanan Lulusan Pesantren

Dari bervariasinya prasangka dan keresahan tentang warna yang orang-orang pada masa kuliahku akan tularkan, beruntungnya, aku dipertemukan dengan mereka yang … apa ya sebutannya, berada pada koridor yang aman? Ha, pokoknya kalian paham lah maksudku; tanpa disadari pun, satu sama lain selalu mengingatkan kebaikan. Mereka yang … waras. Rasional.      Lebih lanjutnya, secara spesifik, kini teman-temanku lulusan pesantren semua. Hal terakhir yang bisa kutebak dari sirkel pertemanan yang akan kudapat pada masa kuliah. Pasalnya, kau harus selalu siap bertemu orang dengan beragam sifatnya yang tak terduga, pada jenjang kehidupan mana pun, apalagi pada masa peralihan usia remaja menjadi dewasa ini, dengan intensitas pertemuan yang melibatkan pola pikir logis, tapi juga berempati, tapi juga ‘bertahan hidup’ dengan mempertahankan imej, tapi juga rentan untuk menjadi tulus, kesemuanya memenuhi tuntutan sosial tapi jangan kehilangan prinsip dalam dirimu juga pada prosesnya. Aku nulisnya ribet banget ya, cape deh. Padahal maksud simpelku, ya, kita bakal terus ketemu orang banyak, dan masa perkuliahan ini lah notabene-nya orang mulai mengenal pergaulan yang bermacam-macam, paling buruknya; menyimpang dan bebas.    Aku menjadi salah satu yang terhindar — kalau bukan menghindar — dari sekumpulan individu yang kegemarannya sangat menjauhi prinsipku; gaya hidup hedon, kecenderungan mengumbar hal privasi di media sosial, mengupload status berisikan energi negatif (menyindir seseorang tertentu, sarkas terhadap sesuatu yang gak penting), enteng melontarkan bahasa kasar, oh, banyak kalau mau disebutin di sini, tapi, poin yang paling kugarisbawahinya adalah -> pacaran. [Shout out to the thoughtful and most admirable high school friends of mine, I am able to prevent myself into engaged to numerous act of romantic approach from boys since then. Never been in a relationship became one of the accomplishment I most proud of. Though, if I am to put it more matter-of-fact-ly, I’ve been holding this ‘sad girl’ title ever since in junior high school, ha! No wonder. The boys I interested in were never once return the same feelings! Believe it or not, that is the truth. ANYWAY, back to the topic.   Mau tahu persepsiku terhadap ‘anak pesantren’? Jujur, aku tidak mengkategorikannya akrab, atau ramah, tapi juga tidak buruk. Tapi lagi-lagi, aku bisa menetapkan penilaianku tersebut tidak berlandaskan pengalaman nyata yang valid, hanya terpengaruh dari pendapat pribadi dan tambahan kisah yang kudengar atau yang kubaca di berbagai media. Aku tidak mengabaikan bagian baiknya, tentu saja. Pesantren sebagai pembentuk karakter individu, tempat menempa mental, pilihan tepat agar anak membekali pengalaman dan pelajaran pertahanan hidup, belum lagi luar biasanya mereka yang mampu menghafal al-Qur’an sekaligus mengamalkannya, banyak. Aku mengakui itu semua, di beberapa pesantren yang berkualitas dan waras (nangkep kan, maksudku waras? terhindar dari penyelewengan yang lantas menjadi rahasia gelap pesantren).   Seperti yang kubilang tadi, landasan persepsi ku tidak cukup kuat untuk membenarkan ‘ke-ogah-an’ ku berurusan banyak-banyak dengan anak pesantren, sampai ironisya, kini hampir semua teman di angkatan kuliah-ku lulusan pesantren semua, haha.    Aku tidak menganggap itu pukulan telak, malahan bersyukur bisa dikelilingi pengaruh positif secara berkala. Kapan lagi kamu punya kehidupan kuliah yang dipenuhi ingatan untuk terus bermanfaat bagi orang lain, dorongan unruk murojaah hafalan Qur’an, kesadaran banyaknya ilmu agama yang tertinggal atau bahkan dilupakan, cincai menghadapi urusan hati terkait lawan jenis (alias galau, sad girl, kasmaran, apa pun itu) agar jangan sampai terbujuk bisikan setan untuk lantas pacaran? Oh, tidak semua orang bisa mendapat kemewahan tersebut, maka benarlah kalau kubilang aku ini sangat beruntung.    Kesemuanya terlaksana sambil tidak lupa untuk menjadi gaul dan asik, tidak naif dan tanggap akan perubahan. Kami ini bukan yang konservatif, oke?    Juga, aku memiliki sirkel kecil ini, terdiri atas lima orang; Aku, Afwa, Nabilla, Habib, Bayu. Sebelum ditanya, iya, mereka semua lulusan pesantren, cuma aku yang enggak. Sering gak ngumpul dan ada topik kamu gak bisa nyambung karena emang istilah yang mereka pakai banyak yang kamu gak tahu artinya? Sering, dong 🙂👍 dan dengan peka-nya, mereka suka mengartikan terlebih dulu bahkan ketika aku tidak menyuarakan ketidaktahuanku. Entah harus kusambut seperti apa inisiatif tersebut : )    Ada satu malam di mana kami semua ngobrol, garis besar topiknya adalah tentang pengalaman sekolah mereka di pesantren, dan momen itu menjadi titik poin yang mengubah persepsi ku terhadap ‘anak pesantren’. Kalau sebelumnya penilaianku hanya berkurang porsi ‘buruk’ nya, setelah mendengar kisah mereka menjadi berubah (oy, Bayu🫵🏻 kamu ini lebih muda dari aku [ya walaupun cuma satu tahun, sih], tapi kayaknya lebih banyak yang pernah kamu lalui dulu di semasa sekolah, dibanding aku).    Dan memanglah terbukti, tentang persepsiku yang dulu tidak memiliki landasan kuat. Kini setelah bertemu langsung orang-orangnya, aku bisa mematahkan opini tidak ramah ku yang dulu itu dan beralih menjadi kekaguman tulus. Well done, guys. More Photos Penulis : Nurrida Aishya Shafa Mulya Mahasiswi Perpustakaan & Sains Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @nurridashafa_ 

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Belajar dari Jogja : Relasi, Ruang, dan Rasa yang Tumbuh Bersama.

Jogja selalu punya cara mengajari sesuatu  -bukan hanya lewat ruang kelas atau lembaran silabus, tapi lewat ruang-ruang tak terduga yang menjadi tempat tumbuhnya relasi, percakapan, dan rasa. Selama menempuh pendidikan di kota ini, aku menemukan pelajaran yang tak pernah tertulis dalam kontrak kuliah: pentingnya relasi sebagai bagian dari proses intelektual dan emosional sebagai seorang mahasiswa.      Awalnya, aku tidak benar-benar menyadari betapa besar pengaruh hubungan antarmanusia dalam hidupku. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, aku menjalani hari-hari dengan ritme akademik yang kaku : hadir di kelas, mencatat, pulang. Tapi suatu ketika, sebuah pertemuan kecil mengubah arah pandangku. Saat itu, aku bertemu kembali dengan seorang teman lama dari SMP. Kami duduk di sebuah coffee shop di kawasan Jogja, lalu ia memperkenalkanku pada teman-temannya dari kampus lain. Obrolan yang awalnya hanya nostalgia berubah menjadi diskusi serius tentang isu- isu kampus, topik penelitian, bahkan keresahan pribadi kami sebagai mahasiswa.      Itu bukan satu-satunya momen penting. Di acara umum seperti seminar, workshop, aksi dll. yang kuikuti di luar kampus, aku juga bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai latar belakang dan universitas. Mereka datang dengan cerita dan cara pandang yang beragam—dan dari situ, aku merasa bahwa ruang-ruang seperti itu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam cara berpikirku.      Yang menarik, semua relasi yang terbentuk—baik dari teman SMP, teman mereka dari kampus lain, maupun kenalan baru dari seminar—secara alami menjadi bagian penting dalam proses belajarku. Mereka bukan hanya tempat bertukar informasi, tapi juga ruang untuk menguji gagasan, membahas pilihan, dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Diskusi yang terbangun bersama mereka tak melulu bersifat akademik, tapi sering kali menyentuh dimensi praktis dan personal yang memperkaya pemahamanku tentang banyak hal.      Dari pertemuan-pertemuan ini, aku menyadari bahwa relasi bisa menjadi bentuk pengetahuan yang hidup. Melalui mereka, wawasan bertambah, pemikiran berkembang, dan keputusan menjadi lebih terarah. Dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian seperti kehidupan kampus, kehadiran mereka menjadi bagian penting dari proses adaptasi dan pertumbuhan. Selama proses ini berlangsung, aku teringat pada sebuah kutipan dari Paulo Freire yang berbunyi: “Knowledge emerges only through invention and re-invention, through the restless, impatient, continuing, hopeful inquiry human beings pursue in the world, with the world, and with each other.” “Pengetahuan muncul hanya melalui penciptaan dan penciptaan kembali—melalui pencarian yang gelisah, tak sabar, terus-menerus, dan penuh harapan yang dijalani manusia dalam dunia, bersama dunia, dan bersama satu sama lain.”      Kutipan itu seolah menggambarkan bagaimana diskusi, pertemuan, dan hubungan sosial yang kujalani selama di Jogja telah menjadi bagian dari proses belajarku—bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai ruang tumbuh pengetahuan itu sendiri. Fenomena ini bisa dikaitkan dengan konsep “ruang ketiga” dari Ray Oldenburg, yakni ruang informal di luar rumah dan tempat kerja (atau kampus) yang memungkinkan percakapan santai namun bermakna. Coffee shop, seminar terbuka, bahkan obrolan yang tak sengaja terucap, mampu menjadikan ruang ketiga yang mempertemukan kami dalam percakapan bebas tekanan. Di sanalah pengetahuan tak lagi hanya dimonopoli oleh ruang kelas.      Selain itu, relasi yang terbentuk bisa dipahami sebagai modal sosial, istilah yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu—yakni sumber daya yang berasal dari jaringan sosial yang dimiliki seseorang. Dalam konteks ini, modal sosial tidak hanya membantuku dalam aspek praktis seperti mencari referensi atau bantuan akademik, tetapi juga membentuk kerangka berpikir yang lebih terbuka dan reflektif.      Jogja, dengan segala kelonggaran dan kehangatannya, memberi ruang bagi relasi-relasi itu untuk tumbuh. Kota ini mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar menghafal materi, tapi juga menyimak cerita orang lain, memahami sudut pandang baru, dan hadir dalam ruang-ruang bersama yang menciptakan rasa. Kini aku percaya, bahwa salah satu bekal terpenting yang kubawa pulang dari dunia kampus bukan hanya transkrip nilai, tetapi juga jaringan relasi yang pernah menemaniku di tengah malam yang kacau, pagi-pagi penuh keresahan, dan siang-siang penuh diskusi. Karena di antara buku dan tugas, relasilah yang membuatku bertahan dan bertumbuh.      Dan buat teman-teman kampusku, mungkin tulisan ini kesannya terlalu fokus sama relasi di luar kampus. Tapi jujur, kalian juga bagian penting dari cerita ini. Obrolan singkat di kelas, saling bantu pas tugas mepet deadline, atau sekadar duduk bareng di angkringan shaka—semua itu juga berperan besar dalam perjalanan belajarku di Jogja. Karena di antara tugas, deadline, dan segala tekanan, relasi-relasi kayak kalianlah yang bikin semuanya terasa lebih bisa dijalani tanpa menganal kata “Bersaing”. Dan aku bersyukur banget bisa punya kalian di cerita ini.Jadi, terima kasih juga untuk kalian. Karena di tengah sibuk dan riuhnya dunia kampus, kehadiran kalian bikin semuanya jadi lebih ringan dan bermakna. Awww… Penulis : Muhammad Azzam Muttaqien Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @azmmuttaqin

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Musyrifah Gen-Z

Berawal dari keinginan ku merantau untuk menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi, dengan tidak menghilangkan identitas ku sebagai santriwati yang telah menempuh pendidikan selama 6 tahun di pondok pesantren juga mengabdi satu tahun setelahnya. Bagiku merantau bukan suatu hal yang asing karena sejatinya mental ku sudah terlatih sejak lama untuk berada jauh dari orang tua. Saat itu aku berfikir dan menyusun rencana sematang mungkin bagaimana caranya nanti setelah aku merantau, lalu beralih pada jati diri yang baru, tetapi integritas diri ku sebagai santriwati tidak lantas hilang begitu saja terbawa arus zaman seperti kebanyakan orang yang menganalogikan dengan sebutan “mantan santri”. Singkat cerita, atas izin Allah aku menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Universitas Islam Mulia yang biasa disebut UIM merupakan perguruan tinggi swasta yang menjunjung nilai-nilai islam holistik, terbukti dari banyaknya jalur beasiswa bagi para santri, tahfidzul Quran dan jalur prestasi lainnya Hai sobat muda mulia… aku Nabilla mahasiswi semester 4 program studi administrasi kesehatan, dan disinilah kisah ku dimulai. Aku menjadi bagian dari mahasiswi kampus UIM melalui jalur penerimaan beasiswa tahfidz. Pertama kali datang ke Jogja, aku bertempat tinggal di asrama yang menjadi salah satu fasilitas kampus untuk mahasiswa yang berasal dari perantauan. Hari demi hari kujalani kehidupan baru ku di asrama kampus dengan berbagai kegiatan yang sangat produktif, mulai dari solat lima waktu berjama’ah, berangkat kuliah, kajian sore, tadarus Al-Quran dan kegiatan lainnya. Selain tinggal di asrama kampus, aku dan beberapa teman ku yang masuk melalui jalur beasiswa tahfidz juga pernah bertempat tinggal di Rumah Penghafal Quran (RPQ) Ainul Mardiyah yang merupakan kebijakan kampus untuk mahasiswi jalur beasiswa tahfidz. Keberadaan kami di RPQ dibawah bimbingan Ustadz Nurhidayat yang dibersamai ustadz dan ustadzah pengampu. Tujuan kami ditempatkan di RPQ untuk menjaga kuallitas hafalan agar tetap disiplin dan tidak lalai ditengah kesibukan kami sebagai mahasiswi. Tetapi karena suatu hal, akhirnya aku dan teman-teman seperjuangan ku pun pindah lagi dan kami memutuskan untuk menjadi anak kos yang berada di sekitar kampus. Kalo diingat, lucu juga perjalanan tempat tinggal kami yang berpindah-pindah padahal saat itu kami baru beranjak semester 2 dan sudah tiga tempat tinggal kami rasakan. Setelah menjalani kehidupan menjadi anak kos aku pun mencari kesibukan lain, seperti mulai mengajar mengaji di TPA sekitar dan juga menjadi guru mengaji privat. Selain itu, aku juga mencoba mendaftar menjadi musyrifah di salah satu unit pendidikan yayasan mulia. Dari berbagai kesibukan yang kujalani dan berbagai peluang pengalaman yang ingin kucoba, tidak lain sebagai upaya ku sebagai mahasiswi perantauan dengan tetap menjaga jati diri nya sebagai santri dengan segala kedisiplinan dalam kesehariannya baik dari segi ibadah, murojaah hafalan dan lingkar pergaulan. Setelah beberapa waktu menanti, tepatnya pada 20 juli 2024 aku resmi menjadi musyrifah di Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar Ash-Shiddiq Yogyakarta. Dengan segala rasa berat hati meninggalkan anak-anak TPA, anak les privat ku dan kehidupan nyaman menjadi anak kos yang rasanya lebih punya waktu fleksibel antara kuliah, tanggung jawab lain, istirahat, dan pastinya waktu main bareng temen-temen lebih bebas, hehe. Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar merupakan asrama putri yang difasilitasi untuk siswi boarding school SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Awal aku bergabung di asrama menjadi musyrifah, pastinya sangat merasa canggung dengan segala culture baru yang kutemui, terlebih harus mengenal karakter anak-anak yang beragam dengan usia mereka yang terpaut dekat dengan ku. Aku diamanahkan menjadi musyrifah siswi kelas 1 SMA. Untuk kesekian kalinya skill ku dalam beradaptasi diuji. Memulai lagi untuk saling mengenal hal-hal baru, dari kondisi asrama, aturan-aturan yang ada, juga mengenal banyak karakter orang dari berbagai daerah. Bagiku tinggal di asrama sebagai musyrifah tidak beda jauh dengan pengalaman ku mengabdi di pondok, dan panggilan ustadzah pun sudah tidak asing lagi di telinga ku. Beda hal dengan anak-anak yang sebagian besar baru merasakan kehidupan di asrama yang menuntut mereka untuk belajar mandiri dan tanggung jawab atas dirinya sendiri, walaupun beberapa anak sudah pernah tinggal di asrama atau dari pondok juga. Satu hal random yang pertama kali kudapati di awal perkenalan dengan anak-anak halaqoh ku yaitu soal panggilan ku untuk mereka. Disaat ustadzah lain memanggil mereka dengan sebutan “anak-anak”, tapi tidak dengan ku yang memanggil mereka dengan sebutan “adik-adik”. Bukan tanpa alasan aku memanggil mereka dengan sebutan “adik”, melainkan POV ku sebagai musyrifah gen Z dan merasa usia kami seperti layaknya kakak dan adik. Hingga suatu ketika, ada salah satu anak yang membalikkan panggilan ku, celetukan nya yang spontan membuat ku tersenyum dan sedikit salting hihii. Begini katanya “ustadzah kan panggil kita “adik-adik” (sambil meniru nada bicara ku), kenapa kita ga panggil ustadzah nabila jadi kak nabila atau mbak nabila saja, kan ustadzah masih muda kenapa dipanggil ustadzah?” Saat itu aku hanya bisa menjawab “ihh bisa aja kamu bercandanya”, tapi lain lagi dalam hati, spontan aku membatin, “hmm emang kalo jadi ustadzah harus sepuh dulu hahah”. Akhirnya perlahan aku terbiasa memanggil mereka dengan panggilan “nak” seperti ustadzah lain. Dibalik keseruan dengan berbagai hal random anak-anak, ada kalanya aku merasa lelah dengan kepadatan aktivitas kampus, sekaligus kewajiban ku di asrama yang setiap harinya terasa menanti sepulang ku dari kampus. Banyak faktor yang jadi penyebab kelelahan ku. Mulai dari jarak tempuh dari asrama ke kampus yang cukup jauh dan sangat menguras energi beserta segala keemosian ku di jalan. Oiya, jangan lupakan ruang kelas ku yang berada di lantai 4 dan kamar ku di lantai 3, bisa kebayang kan gimana setiap sampai kampus dan asrama aku harus menarik nafas lelah untuk menaiki setiap anak tangga. Sesampainya di asrama pun kadang ada saja hal diluar dugaan, mungkin ada anak yang sakit, atau laporan lainnya. Belum lagi semester 4 yang konon “nyatanya” bergelut dengan segala tugasnya yang tiada henti. Sisi positif yang bisa kuambil dari segala keluh kesah ku setiap harinya, yaitu selalu berusaha untuk menanamkan keihklasan atas apa yang sedang kujalani. Mungkin kalo kalian pernah dengar, ikhlas adalah pelajaran seumur hidup untuk kita benar-benar bisa memaknai dan menjalani esensi dari ikhlas itu sendiri. Kalimat andalan ku kalo lagi merasa capek dengan segala huru-hara duniawi “ikhlas bill, kan semua ini kamu yang pilih dan jalani”. Begitulah kira-kira motivasi untuk diri sendiri hihiii. Alhamdulillah nya sampai rentang waktu hampir

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #2 : Lompatan Quantum dari UIM ke UGM

Kini giliran mental yang dibahas dalam kisah padatku, sekaligus memperjelas alasan mengapa aku menyebut diriku sebagai mahasiswi beranomali amfibi. Sedikit klarifikasi, tolong jangan bayangkan amfibi dengan berbentuk katak. Ia bukan satu-satunya hewan amfibi di dunia ini. Bayangkan saja salamander, bentuknya jauh lebih imut ketimbang amit. Senyum tulus dari salamander tidak menyimpan makna tersembunyi layaknya katak yang seakan selalu memberi ancang-ancang untuk lompat.       Berbicara tentang lompat, apa kalian tau tentang lompatan kuantum? Aku memang anak IPS, namun ibuku seorang lulusan kedokteran, teori fisika dasar seperti ini lazim kudengar. Lompatan kuantum adalah transisi mendadak dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya dalam sistem kuantum. Contohnya -yang tentu saja kukutip dari internet karena aku tidak terlalu mengerti- seperti elektron dalam atom dapat berpindah dari satu orbit (tingkat energi) ke orbit lain dengan menyerap atau memancarkan foton.      Dalam konteks umum, lompatan kuantum dapat dianalogikan sebagai suatu perubahan ekstrim yang tak terduga. Kembali pada pembahasan utama, mentalku. Sebelumnya sempat kuangkat isu krisis kepribadianku dari ekstrovert menuju introvert sekaligus sebabnya : otak kecapean. Trailer kisah kali ini akan mengungkap lompatan kuantum yang melambungkan diriku pada fase kehidupan kuliah yang jauh melampui prediksiku. Kekeliruan dalam menaruh ekspektasi ini berujung menertawakan diri. Hahaha, mau sebanyak apa sih ini kejutan resiko setelah menginjakkan kaki di kampus top tri? ***      Peralihan dari kampus islam menuju kampus negri tidak dapat diremehkan. Dari segi pakaian, pergaulan, dan budaya bersenang-senang. Mengingat jurusanku berunsur Eropa, lompatan kuantum itu benar-benar aku rasakan.      Style berpakaianku sering dianggap terlalu tua, hanya karena menggunakan rok. Itulah mengapa akhirnya banyak gamis telah kupulangkan karena rasanya kurang leluasa dipakai untuk kelas ‘sastra prancis’. Format duduk pun tidak memandang gender, sejak hari pertama aku langsung harus duduk bersebelahan dengan laki-laki. Sepele memang, namun yang namanya perubahan tetap butuh proses adaptasi. Dan ini belum seberapa.      Suatu lembaga yang bekerja sama dengan jurusanku sering mengadakan event budaya yang memperkenalkan gaya Eropa, termasuk ‘minum’. Saat itu acaranya bernama testing wine, dimana siapa pun mahasiswa yang mendaftar akan diberi akses minum anggur. Yap, difasilitasi. Mayoritas teman angkatanku yang non-muslim mengikutinya, termasuk 2 anomali yang ber-ktp muslim.      Selain itu, fakultas ilmu budaya sendiri sering menjadi tuan rumah sebuah festival. Satu di antaranya yang kuikuti adalah Festival Kebudayaan Arab. Sisanya, entah kenapa bagiku makruh bila diikuti. Misal, seperti Festival Halloween. Festival berbudaya barat tersebut selalu mendapat desas desus berbunyi “paling pas puncak acara pada mab*k-mab*kan tuh,” Lagipula barat memang memiliki budaya minum.      Kurasa cukup sampai disini, khawatir aku malah mengekspos lebih banyak sisi kelam kampus bergengsi. Saatnya mengumbar sisi keren kampus, yang biasa dilihat pihak luar, tetapi bagi pihak internal biasa dirasakan sebagai tekanan.         Tidak sulit mencari apa saja penghargaan yang didapat oleh UGM. Sebagaimana menemukan keindahan pada kupu-kupu, sangat mudah. Hanya dengan melihat, keindahan akan terpancar dengan sendirinya. Tanpa sadar kita melupakan adanya proses berat yang perlu dilalui ulat sebelum itu. Sama halnya dengan mahasiswa UGM disini. Kampus yang telah harum dikenal seantero Yogyakarta, memiliki kisah juang setiap mahasiswa yang tidak boleh dihiraukan. Tentu saja aku salah satunya. Bukan haus validasi, hanya ingin berbagi peluh selama menjalani hari-hari pertama diajar oleh para dosen ber-‘darah’ UGM.      Entah sudah berapa lama pengalaman mengajar yang dimiliki dosen-dosenku disana. Mereka kelewat professional untuk mengajar para mahsiswa polos yang tidak tahu menahu tentang literatur Prancis sebelumnya. Selama ini buku yang kubaca hanyalah karya-karya domestik dari Ahmad Tohari, Dee Lestari, Leila S Chudori, Tere Liye, Umar Kayyam, Puthut Ea, Agus Mulyadi, dan penulis Indonesia lainnya. Asing sekali kudengar nama Albert Camus, Francois Sagan, Simone de Beauvoir dan kawan-kawan.      Terlebih bahasanya. Ayolah, bahasa Inggris saja aku nyaris tak berhasil sampai di tingkat intermediate, mana ada waktu aku berpindah ke bahasa lain. Ini semua akhirnya harus kujalani semenjak pengumuman hasil SNBT menyatakan aku diterima untuk jurusan ini, jurusan pilihan keduaku setelah sastra inggris.      Beberapa teman seangkatanku sudah lebih dulu mencuri start dari SMA karena mereka jurusan bahasa. Ilmu-ilmu dasar telah mereka kuasai, begitupula dengan pelafalan. Modal mereka berbeda jauh dariku yang hanya mengandalkan ‘duolingo’. Namun berkat ajaran dosen yang luar biasa, IPK-ku nyaris menyamai mereka semua.      Izinkan kuperinci bagian ‘luar biasa’ itu. Status mahasiswi amfibi sedikit mengekang jadwal belajar mandiriku. Sepulang dari UGM, aku masih perlu membaca materi kuliah dari UIM berikut mengerjakan tugas-tugas individunya. Di akhir pekan, aku merasa perlu balas dendam dengan ‘menggantungkan’ semua tas kuliahku. Aku tidak serajin itu mengisi akhir pekan dengan belajar kecuali ada tugas. Maka, satu-satunya masa aku dapat memaksimalkan belajar bahasa Prancis adalah ketika aku di kelas, saat memperhatikan dosen menjelaskan segala hal dengan bahasa Prancis.      Yap, kalian tidak salah baca, dengan bahasa Prancis. Aku sendiri heran, kok bisa ya aku faham? Perasaan baru setengah semester belajar. Memang ternyata kuncinya terletak pada pengajar. Seluruh teori pedagogi diterapkan secara menyeluruh dan tertata, bermula dari pembagian kelas menjadi 2 bagian agar memudahkan pemantauan. Dampaknya, setiap dosen akan mengajarkan 2 materi berulang setiap harinya demi memastikan setiap mahasiswa betul-betul paham.       Aku sangat menyesal sempat meragukan prinsip mengajar dosen di kampus negri terkenal ini. Kukira dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak akan membuat mereka tidak memperhatikan kemampuan setiap mahasiswanya. Ternyata, sekali ada mahasiswa nampak tertinggal, dia akan langsung dipanggil ke ruang dosen untuk dinasehati. Kebetulan orang itu teman yang sering duduk di sebelahku. Kami biasa duduk di baris belakang sejak awal pertama bertemu, karena sialnya kami sama-sama terlambat saat itu. Sungguh pertemuan memalukan memang.      Berbeda denganku, dia jarang memperhatikan dosen. Lebih sering memainkan HP atau tertidur. Dosen sering menyuruhku untuk membangunkannya. Singkat cerita saat Ia dipanggil, ternyata namaku ikut terseret. Dia memberitahuku bahwa dosen bimbingannya menyuruh kami untuk tidak lagi duduk di belakang. Kukira hanya peringatan ringan, paling juga lupa di pertemuan berikutnya. Ternyata pekan depan tepat saat dosen itu baru memasuki ruangan, beliau langsung melirikku dan temanku yang masih duduk di belakang lalu berkata dengan tatapan tajam dan nada tegas,  “Asseyez-vous devant vous deux!” (Kalian berdua, duduk depan) Itu kali terakhir aku meragukan ketegasan dan mode serius

TAZKIYA UIM

Sirkel Jiwa Pendidik

  Ada hadist yang berbunyi : Al arwaahu junuudun mujannadah famaa ta’aarafa minhaa intalafa. Memiliki arti “Ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu.” [HR. Muslim] Penafsiran hadist tersebut banyak mengarah pada proses pembentukan lingkaran sosial, atau yang akhir-akhir ini lebih lazim disebut ‘sirkel’. Hadist tersebut memaparkan bahwa sirkel seseorang akan terbentuk ketika memiliki ketertarikan yang sama pada sesuatu. Sebagai perincian kaidah tersebut, banyak teori ilmiah yang membahasnya dan membahasakan kondisi ini dengan sebutan ‘clique’. Sedikit disclaimer, artikel ini tidak akan menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut, tetapi fokus pada kisah kehidupan salah satu tokoh UIM yang dapat menjadi bukti nyata berlakunya kaidah pembentukan sirkel tersebut yaitu Drs. H. Nur Hidayat Pamungkas. M.Pd. Memiliki latar belakang keluarga pendidik, Pak Nur Hidayat terus dipertemukan dengan lingkungan yang menyongsong pendidikan bangsa. Prinsip ‘berperan di dunia pendidikan tidak akan pernah rugi’ yang dipegang, mengantarkan beliau pada 3 kampus di Yogyakarta yaitu STIKES, UAD, dan AKBID MMY. Tidak hanya itu, Pak Nur pun aktif mengunjungi banyak pesantren dan masjid untuk menyebarkan ilmu. Tak tertinggal, sebagai ilmu spesifik Pak Nur juga menjadi Pembimbing haji dan umroh di Hasuna Tour. Jiwa pendidik mendorong beliau untuk memberikan jalan kepada anak-anak yatim dan dhu’afa untuk dapat melanjutkan pendidikan. Maka posisi beliau sebagai Direktur Lembaga Pendamping dan Pengembangan (LP2U) Ummu Salamah mengambil peran tersebut. Beliau terus mengupayakan agar kesempatan menempuh pendidikan dapat dirasakan siapapun. Selama menjadi staf pengajar di kampus STIKES dan UAD, beliau kerap diajak diskusi pendidikan. Berbagai wawasan terkait perguruan tinggi akhirnya banyak didapat dari sesi-sesi diskusi tersebut. Pak Nur melanjutkan perjalanan ‘panggilan hati’-nya dengan merancang konsep universitas islami. Kaidah sirkel kembali bekerja, Pak Nur dipertemukan dengan Konsorsium Yayasan Mulia saat sedang bekerja di AKBID MMY (Akademi Bidan Mulia Madani Yogyakarta). Berbagai rapat diadakan, penyamaan konsep dilaksanakan, berdirilah ISTEK Mulia (Institut Sains & Teknologi Kesehatan) sebagai kampus adik dari AKBID MMY pada tahun 2022. Lengkap dengan banyaknya tawaran beasiswa seperti harapan Pak Nur sejak lama. Pada saat itu Pak Nur dipercayakan menjadi wakil rektor di ISTEK sekaligus membimbing AKBID MMY selama jalan berdampingan. Tak lama setelah itu, kini kedua kampus tersebut telah resmi menjadi universitas dengan mengusung nama UIM Yogyakarta (Universitas Islam Mulia Yogyakarta). Kurun waktu yang cukup cepat ini pun lagi-lagi adalah efek sirkel para pendidik yang memiliki visi sama sehingga saling bekerja sama dalam menghasilkan lembaga pendidikan berkualitas untuk para pemuda calon pemimpin bangsa. Penulis :  Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kampus Kontemporer Anti-Sekuler : Sinergi Ilmu Ulum & Islam di UIM

“Kampus Kontemporer Anti-Sekuler” adalah istilah yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara salah satu petinggi UIM, Pak Nur Hidayat Pamungkas. Satu tahun menjabat sebagai wakil rektor di ISTEK Mulia cukup memberikan sudut pandang universal mengenai akar berdirinya universitas islam ini. Beliau mengungkap “Islam tidak pernah mengekang ilmu pada bidang-bidang tertentu. Ilmu agama yang terpisahkan dari ilmu lain adalah pemikiran teramat kuno. UIM sama sekali tidak mengadopsi pemikiran tersebut,” Lantas apa yang dimaksud dengan Universitas Islam menurut pandangan Pak Nur? Beliau menjelaskan panjang lebar terkait hakikat ilmu agama yang sebenarnya bukan terletak pada spesifikasinya seperti fiqh, hadist, atau tafsir. Melainkan bagaimana kita dapat mengombinasikan ketiga konsep dasar tersebut ke dalam bidang ilmu yang sedang ditekuni. Bagi Mahasiswa UIM saat ini berarti masuk dalam bidang teknologi, kesehatan, dan perpustakaan. “…agar setiap mahasiswa memiliki pola pikir yang luas terkait tujuan pembelajarannya di kampus ini, seperti adminkes misal, jangan sampai berfikir dangkal hanya menjadi bagian administrasi di rumah sakit, tetapi harus juga memiliki tujuan berperan dalam penertiban masyarakat. Memunculkan pola pikir ini berawal dari memadukan ilmu-ilmu dari kampus dengan kepribadian islami. Kombinasi keduanya akan menghasilkan prinsip ‘profesiku adalah jalan dakwahku’ di setiap individu,” Upaya pemaduan keduanya dapat terlihat dari adanya kurikulum BPI (Bina Pribadi Islam) dan SII (Studi Islam Intregatif) di setiap semester. Dua mata kuliah ini adalah tali penghubung yang menjadi kunci utama tercapainya kampus kontemporer sebagai pencetak pribadi professional berdaya guna, lengkap dengan pribadi islami. Setiap pernyataan beliau sangat sejalan dengan visi UIM yang berbunyi Menjadi Perguruan Tinggi berasaskan pada nilai-nilai islam holistik, rahmatan lil’alamin dan secara konsisten memberikan kontribusi kepada perkembangan kemajuan dan peradaban kemanusiaan serta siap menjadi Centre of Excellent (Pusat Unggulan). “…contoh lain pada materi kebidanan akan bersinggungan dengan ilmu fiqh terkait kenajisan darah, korelasi-korelasi sejenis itu akan mengasah cara berfikir mahasiswa. Sehingga hasil dari kampus ini nanti bukan sekedar bidan biasa,” tambah Pak Nur.     Dapat disimpulkan, UIM akan menjadi kampus yang berperan dalam penggebrakkan tembok sekularisme yang telah tebal menghalangi kemajuan peradaban islam di Indonesia. Bahkan secara logika, bukankah aneh memisahkan suatu ilmu dari sumbernya? Sebagai bangsa bermayoritas islam, kita semua sepakat pedoman setiap aspek hidup kita adalah Al-Qur’an bukan?   Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

RuMah (Rubrik Mahasiswa ), Uncategorized

Guru Ngaji di Tengah Kota : Cerita Mahasiswa UIM Mengajar TPA.

Halo teman-teman Muda Mulia dimanapun kalian berada, semoga kita selalu senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT. Dan jangan lupa sholawat berbingkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga,sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman. Nah teman-teman perkenalkan nama saya Habib Muhammad Rizieq seorang mahasiswa di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dan juga sekaligus seorang guru ngaji TPA di sebuah masjid yang bernama masjid Al-Furqon. Masjid Al-Furqon ada di perum Jati Sawit asri, balecatur, Gamping, Sleman, sebuah masjid yang bisa dibilang sangat Makmur dan asri dengan halamannya yang cukup luas untuk sebuah masjid yang berada di tengah kota. Adapun kegiatan rutinan yang ada di masjid Al-Furqon sangat beragam mulai dari kegiatan harian seperti sholat berjamaah, kemudian ada kegiatan mingguan seperti pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu yang alhamdulillah rutin dilakukan setiap hari jumat, sampai acara bulanan dan tahunan seperti pengajian akbar ahad kliwon yang diadakan setiap ahad kliwon. Dan yang saya sangat kagumi dari masyrakat disekitar masjid adalah rasa kekeluargaannya yang masih sangat kental dan terjaga dari dulu, sebuah fenomena yang sangat jarang kita temukan di perkotaan di zaman sekarang. Sebagai seorang muslim, tentu saja perintah yang pertama kali Allah perintahkan bukanlah sholat, zakat, puasa, dll. Melainkan kita dituntut untuk belajar, sebagaimana firman Allah di surah Al-Alaq ayat pertama yang artinya “bacalah”. Dari ayat ini Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, baik dia orang yang muda sampai tua, miskin atau kaya kita semua diperintahkan untuk menuntut ilmu. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu akhirat yang akan menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya pun tergerak untuk menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa dengan menjadi seorang guru di sebuah TPA masjid. Alhamdulillah kesempatan menjadi seorang guru tiba ketika Ramadhan tahun 2024 lalu, dimana kami mendapat kesempatan untuk mengajar TPA selama bulan Ramadhan bersama 4 orang teman yang lain. Berbagai bidang ilmu kami ajarkan mulai dari mengaji, hafalan doa sholat dan harian, hafalan surah-surah pendek, dll. Adapun untuk santrinya ada beragam mulai dari yang masih TK sampai yang paling besar tingkat SMP, berbagai watak dan sifat dari anak-anak yang berbeda tentunya membuat kami belajar bagaimana memahami dan mengatasi sifat mereka yang menurut saya masih kurang dalam berhadapan kepada seorang guru, sehingga menjadi focus kami untuk membina adab dan akhlak para santri. Setelah Ramadhan 2024, saya mengira proses mengajar sudah selesai, ternyata qadarullah saya mendapat panggilan lagi untuk terus mengajar sampai sekarang. Tentu saja ini sebuah kesempatan emas bagi saya untuk membuat ladang pahala, selain ilmu yang saya bagikan kepada ade-ade santri bermanfaat bagi masa depan mereka, ini juga menguntungkan bagi saya karena ini bisa menjadi sebuah ladang pahala jariyah yang sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya mengajak kepada semua teman-teman maupun pembaca, untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat mengajarkan ilmu yang dimiliki walau ilmu yang kita miliki masih sedikit. Kita tidak tahu hal sepele yang kita ajarkan kepada seseorang bisa saja berdampak besar bagi kehidupan mereka kelak di masa depan, maka dari itu teman-teman terus bersemangatlah menuntut ilmu dan jangan lupa untuk di sharing yaa, agar ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat dan menjadi ladang pahala jariyah bagi kita. Nah teman-teman pembaca yang saya hormati, itu dia sedikit cerita dan nasihat dari saya sebagai seorang mahasiswa UIM sekaligus seorang guru TPA. Walaupun yang kami ajarkan hanya sedikit, tetapi ini menjadi sebuah pengalaman yang penuh dengan pelajaran hidup dan  tidak akan saya lupakan sampai tua nanti. *** Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini (btw ini artikel yang saya buat pertama kali, jadi mohon maaf kalau masih banyak kurangnya). Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Penulis : Habieb Muhammad Rizieq Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : habib_mhmmd07

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #1

Puncak keinginan manusia menurut Abraham Maslow adalah self-actualization, yaitu posisi dimana kita berada pada potensi terbaik dan paling kita dambakan. ‘Panggilan hidup’, lebih gampangnya. Jauh sebelum teori hierarki tersebut ditemukan, Abraham yang kita junjung sebagai bapak para nabi telah lebih dahulu memberikan contoh nyata perjalanannya mencari tuhan dalam kitab ummat ini. Dari kisah pencarian tersebut, tersirat sebuah metode pengenalan identitas diri. Aspek akal bermain kuat, menghadirkan beribu pertanyaan kenapa, siapa, bagaimana, untuk apa, yang menghantui masa mudanya. Tuhan bukanlah satu-satunya yang Ia cari, melainkan juga alasan dan tujuan. Apa yang semestinya dilakukan suatu makhluk di dunia ini. Sebagaimana titik mula perjalanan Ibrahim diabadikan pada kitabullah ayat 74-79 surat Al-An’am, perjalanan para penerusnya juga akan abadi pada kitab yang setia disimpan para malaikat. Memasuki usia remaja, disitulah langkah pertama kita tercatat. Maka di tulisan kali ini, izinkan saya membagikan sedikit teaser perjalanan mencari jati diri melalui kisah pribadi sebagai mahasiswa di 2 kampus Yogyakarta. … Awal Perjalanan dan Dilema Diperlukan pemikiran sedalam itu sebelum akhirnya aku memutuskan kuliah di 2 kampus sekaligus dalam satu waktu. Lebih tepatnya, bertahan. Sejak mula siapa sih manusia waras yang mau sukarela merepotkan diri sendiri sampai menjadikan kesehatan fisik dan mental sebagai jaminan? Baiklah, saatnya memberi gambaran singkat. Sejak hasil SNBP tahun 2024 lalu diumumkan, aku sadar ini akan membawa banyak perubahan terhadap statusku sebagai mahasiswi ‘normal’ di UIM. Namun tepatnya akan seperti apa bentuk abnormal tersebut? Pertanyaan ini langsung terjawab setelah aku berdiskusi dengan kaprodi. “Asal berkomitmen aja Mbak, kita disini bisa fleksibel selagi Mbak bisa bertanggung jawab mengerjakan tugas dan mengikuti ujian secara jujur,” begitu simpul beliau. Walaupun sempat tak terima karena tidak ada kontrak apapun, aku merasa tidak masalah selagi beliau telah mengetahui fakta bahwa aku akan kuliah di UGM. Siapa sangka inilah awal mula mentalku teruji. Kaprodi sudah berkali-kali meyakinkanku agar menjalani kuliah seperti biasa saja. Menghadiri kelas ketika bisa, mengerjakan setiap tugas yang diberikan, membaca materi dosen secara mandiri. Namun tidak kurang dari 3 dosen mempertanyakan statusku sebagai mahasiswa disana. Tak terkecuali teman-teman angkatan. Memang, bukan masalah besar. Tapi cukup membuatku terganggu hingga berujung mempertanyakan kembali perihal izinku kuliah di 2 tempat sekaligus. Aku beneran boleh kan kuliah dobel disini?! Hal yang lebih menyebalkan datang ketika semua itu terjadi seakan mempertanyakan loyalitasku dengan UIM. Ingin sekali rasanya aku berteriak, KURANG EFFORT APA GUE NYEMPETIN DATENG SIANG TERIK KE KAMPUS WALAUPUN UDAH KELAS DARI JAM 7 PAGI?! sambil memperlihatkan layar HP yang menampilkan jarak antara UIM ke UGM di google maps ; 13,3 kilometer atau setara dengan hampir setengah jam waktu tempuh. Ironis memang, aku emosi terhadap konsekuensi yang kupilih secara pribadi ini. Namun rasanya, hal tersebut tak akan terjadi apabila tidak ada pertanyaan berulang mengenai statusku di UIM. Ternyata ini hanyalah satu dari sekian banyak tantangan yang tidak terprediksi. Secara fisik, bisa kalian tebak. Tentu saja berawal dari faktor jarak antara kedua kampus yang bukan lazim ditempuh setiap hari dalam rentang waktu yang sebentar. Normalnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at aku akan berangkat ke kampus dari UGM jam 1 kurang 20 setelah menamatkan kelas 3 matkul hari itu. Sesampainya di UIM, aku akan mengikuti 1 atau 2 kelas yang berakhir paling lama jam setengah 4 sore. Pada Rabu dan Jum’at aku bisa langsung pulang ke kos, namun tidak pada hari Senin. Aku perlu kembali lagi ke UGM untuk mengikuti sesi tutor bahasa yang dimulai pukul 15.15. Jarak 13,3 kilometer kembali kutempuh. Bila kalian berfikir masuk angin adalah dampak yang kukhawatirkan, itu salah. Tubuhku sama sekali bukan tipe yang gampang ditembus angin jalan dan dirusak polusi kendaraan maupun terik matahari. Saat-saat mengendarai motor justru ‘istirahat’ bagiku. Mengganti gigi setiap belokan, menyalip  di antara kesempitan, menekan gas lebih kencang saat melihat peluang luas, melakukan peregangan selagi menunggu lampu merah, semua itu kusambil dengan mendengarkan lagu kencang. Setiap sampai di ringroad, aku akan meneriakkan lirik yang sedang kudengar. Semua itu sangat melepas stress.    Bukan pula terlambat makan, karena sejak kecil ibuku berkali-kali mengingatkan bahwa aku memiliki lambung lemah yang perlu dijaga. Lambungku sudah terlalu baik menoleransi hobi makan pedas, maka aku pun berusaha memenuhi keinginannya setiap peringatan lapar datang. Paling ekstrim terjadi saat sedang mengendarai motor, untungnya aku selalu sedia bekal praktis seperti roti, susu, atau yogurt. Aku akan memakannya dengan memanfaatkan 7 lampu merah yang kulewati dalam perjalanan. Sehingga rasa kenyang menyambut bersamaan dengan setibanya aku di UIM. Tekanan lahir yang kudapat adalah ketika aku merasa bersalah tidak memberikan otakku istirahat. Bagaimanapun, otak termasuk dalam anggota tubuh bukan? Inilah ujian fisik yang kumaksud. Rasa lelah yang dihasilkannya berefek pada kerusakan identitasku sebagai extrovert, aku tak lagi semangat berinteraksi pada siapa pun. Terlebih di UGM, karena disanalah kandang orang-orang yang baru kukenal berkumpul. Tidak ada energi tersisa untuk basa basi, apalagi bersosialisasi.             Permasalahan itu tak begitu serius mengingat kepribadian introvert bukanlah suatu kesalahan. Aku mengambil sisi baiknya, dimana aku lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan hobiku sejak lama, membaca. Setiap waktu istirahat, di UGM maupun UIM, aku akan buru-buru memasang earphone di telinga dan membuka buku yang kubawa untuk memblokir interaksi dari orang sekitar. “Di atas pala lu udah kayak ada tulisan do not disturb, dah pokoknya” ungkap salah seorang saksi mata (temanku di UGM). Aku beruntung urusan jadwal ujian keduanya tidak bertabrakan. Aku meragukan kapasitas otakku bila harus menghadapi hal tersebut. Agaknya burn out sudah menjadi suatu kepastian. Di sisi lain hal ini memangkas banyak waktu liburanku. Ketika UGM telah usai menjalani UAS, harusnya libur semester panjang yang menyambut. Namun bagiku tidak, aku masih harus mengikuti KBM di UIM karena masih ada 3 pekan pertemuan sebelum UAS benar-benar dijalankan. Selepas UAS, hanya tersisa 1 pekan kuota liburanku dari UGM. Seringnya pula aku kehabisan tiket kereta. Ujung-ujungnya Cosplay jadi Bang Thoyyib, jarang pulang.             Perbedaan jadwal ujian itu pula yang melatihku untuk tidak stuck di satu agenda. Tidak ada waktu untuk mengenang soal-soal UTS dari UGM yang kubimbangi. Aku harus langsung menuju UIM melanjutkan kelas selagi teman-teman kelasku membahas jawaban mereka yang beragam pada soal-soal menjebak. Berlaku sebaliknya, saat menjalankan rutinitas KBM biasa di UGM, aku tidak bisa berleha-leha manja di

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sehari Jadi Mahasiswi Asrama Universitas Islam Mulia Yogyakarta

Hai MudaMulia!Kenalin, aku Syefi Amanda Zahrani, mahasiswi Psikologi semester 2 angkatan 2024 di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Mau tahu keseharian aku sebagai anak asrama sekaligus pejuang kampus? Yuk, simak cerita lengkapnya!  Bangun Pagi, Sambut Hari dengan Semangat Hari-hariku dimulai dari momen sunyi penuh syahdu. Sekitar jam 03.30 pagi, aku dan teman-teman asrama udah bangun buat shalat tahajud bareng. Kadang habis tahajud, sambil nunggu adzan subuh, aku pilih antara lanjut nugas, ngaji, atau… tidur lagi bentar (relate banget kan?hehehe) Pas adzan subuh jam 04.30 berkumandang, kami shalat berjamaah dan lanjut dzikir pagi. Setelah itu, kegiatan pagi jalan terus: piket asrama, nyetrika baju, sarapan, dan siap-siap mandi. Kuliah? Gaspol Terus! Jam 08.00, aku jalan ke kampus — literally cuma tinggal jalan kaki karena asrama ada di belakang kampus (enak banget kan?). Di kelas, aku ketemu teman-teman lain yang tinggal di luar asrama. Belajar bareng, diskusi seru, sampai ketawa-ketawa kecil nunggu dosen dateng. Pas adzan dzuhur, kami break buat shalat berjamaah di musholla. Habis itu, lanjut istirahat siang tipis-tipis sebelum masuk kelas lagi jam 13.00. Walaupun siang hari itu waktu ngantuk-ngantuknya, aku tetap semangat. Soalnya setiap mata kuliah psikologi tuh selalu seru, banyak bahas tentang sisi unik manusia. Waktu terus jalan sampai akhirnya adzan ashar jam 15.30, tanda kelas beres dan siap lanjut ke aktivitas sore. Sore di Asrama: Recharge Batin dan Hati Sampai asrama, aku langsung shalat ashar berjamaah. Sore hari di asrama itu waktunya kajian rutin bareng ustadzah. Sebelum kajian mulai jam 16.00, biasanya aku santai dulu, rebahan tipis-tipis sambil ngilangin capek seharian. Abis kajian selesai jam 17.00, waktunya bebas: ada yang mandi, makan, ngobrol, bahkan ada juga yang sore-sore jalan-jalan santai. Pas adzan Maghrib, semua rutinitas berhenti. Kami shalat berjamaah, dzikir sore, dan lanjut murojaah hafalan Al-Qur’an — momen recharge ruhani yang bikin hati adem. Malam: Waktunya Winding Down Saat adzan Isya’ berkumandang, kami lagi-lagi shalat berjamaah. Setelah itu, kegiatan bebas lagi: nugas, ngemil bareng, cerita-cerita, atau sekadar me-time di kamar. Biasanya, jam 22.00 aku udah mulai persiapan buat tidur. Setelah hari yang super padat, kasur tuh rasanya kayak surga dunia! Nah MudaMulia, begitulah sepotong cerita tentang keseharianku sebagai anak asrama di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Meskipun kegiatannya kelihatan biasa aja, tapi tiap harinya selalu ada momen spesial yang ngasih pelajaran hidup. Karena sejatinya, dalam kesederhanaan itulah kita menemukan keindahan. Yuk, terus semangat ngejalanin hari-hari kita! Karena proses yang tulus bakal ngebawa kita ke hasil yang luar biasa. See you di cerita-cerita seru lainnya!   Terimakasih… 🙂 Penulis : Syefi Amanda Zahrani Mahasiswi Psikologi UIM Instagram : @sya_hze 

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Beritahu Shafa yang Dulu, Ia Kini Mengajar

Aku seperti termakan omonganku sendiri. Dari dulu, kalau menyangkut mengajar, aku tidak pernah berminat. Planning pilihan jurusan kuliah? Aku hindari apapun itu yang ada ‘pendidikan’-nya. Padahal, Ibu dan kakak laki-lakiku adalah guru—dua orang yang justru menanamkan benih ketertarikan itu lewat cerita-cerita mereka, semangat mereka, dan cara mereka memperlakukan murid-muridnya. Tapi waktu itu, aku masih belum merasa itu dunia yang ingin aku masuki. Maksudku, ya ampun, jangankan meraih gelar resmi sarjana pendidikan, untuk sekadar mengajar di rumah versi kecil-kecilan aja aku gak mau, hehe. Tapi itu dulu, sebelum usiaku 17. Apa yang lantas memacuku untuk mewujudkan harapan ibuku itu; simpel saja, mengajar, dengan tulus (pastinya)? Di samping alasan utama yaitu kesadaran dan pengetahuan penuh tentang sejumlah hadits yang mengajarkan apa arti sebaik-baiknya ilmu—yaitu ilmu yang bermanfaat bagi orang lain—aku ingin bilang ada juga kontribusi secara tidak langsung dari seseorang, yang saat itu kehadirannya memang bertepatan ketika aku mengalami character development. Tapi, sungguh, bahkan sebelum bertemu ia dan terinspirasi untuk menjadi sepertinya juga, pikiranku akan kemungkinan diriku mengajar sudah mulai terbuka sejak 2021, sampai akhirnya aku baru benar-benar bergerak untuk mewujudkannya pada akhir 2023. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari, no. 5027) Ini adalah pertama kalinya aku merantau, berada di kota orang lain, jauh dari keluarga. 19 tahun hidupku kujalani di kota kelahiran. Strategi pertamaku adalah membuat leaflet les/bimbel bahasa Inggris privat dan berkelompok, dan menyebarkannya di grup RT tempat kos ku berada. Ada satu figur yang sangat berjasa atas distribusi iklan tersebut, yaitu Mba Riska — tetanggaku — berhasil menarik beberapa anak yang ingin belajar bahasa Inggris secara privat. Sebagai ekpresi terima kasihku, aku turut membantu Mba Riska mengajar TPA dekat kos ku, Dari situlah awal mulanya. Kronologi penemuan kesempatanku mengabdi pada masyarakat dalam bentuk berbagi ilmu pengetahuan berlanjut melibatkan rekan-rekan lain, kebanyakan adalah teman kuliah. Setelah ini, aku akan menceritakan bagaimana permulaan pikiranku mulai terbuka pada 2021 silam. Permulaan Sosok paling berperan dalam kisahku yang terinspirasi untuk menjadi pengajar adalah Ibu; yang merupakan seorang guru, lebih tepatnya guru taman kanak-kanak—karirnya dimulai pada tahun 2006, dan masih bertahan hingga sekarang, yang berarti 2024 kemarin terhitung 18 tahun mengemban tanggung jawab tersebut. Selain sosok solo tersebut, ada dua peristiwa yang berpengaruh juga, yaitu 1) saat keluargaku (dan tetangga kami, tentu saja) terkena musibah banjir, dan 2) saat Ayah, aku, dan Ibu mendapat hasil positif ketika tes COVID-19. Aku ceritain yang pertama dulu, ya. “Terkadang kita melupakan bahwa dalam menyalurkan ilmu dan membenahi suatu perkara terkait murid hanya dengan harapan atau solusi duniawi. Hati manusia adalah sepenuhnya milik Allah, bukan? Perkara kapankah anak tersebut menjadi versi dirinya yang terbaik itu urusan Allah, kita hanya harus memberikan yang terbaik sebagai upaya menanamkan moral serta ilmu agama untuk mereka.” -Ibu Erlyn (2024) Februari 2021 menjadi bulan yang tak terduga oleh keluarga kami. Selain terkena banjir, ada lagi sebenarnya rentetan kejadian yang kerap memberi kejutan, kesemuanya memiliki sisi baik dan sebaliknya, sungguh, dan tentu tidak ada bandingannya dengan saudara lain yang tidak lebih beruntung. Lagi-lagi, dari jarak ini sambil memegang teropong, kalau berbicara masa lampau yang saat itu terasa lumayan berat untuk dilalui, yang tersisa untuk dirasa hanyalah rasa syukur yang membuncah, bahwa “tuh, ternyata pada akhirnya, itu semua bisa kan terlalui dan sekarang alhamdulillah semua baik-baik saja.” (Benarlah Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya). Terlebih, fakta bahwa saat itu adalah masa COVID-19 yang masih meresahkan, cemas itu nyata, mengudara jadi teman setia semua orang yang berkegiatan, belum ada cetusan new normal, membuat semuanya terasa menantang. Pasca peristiwa, kami membenahi banyak hal. Dan, inilah poin yang mau aku sampaikan; teman-teman ibu ku banyak sekali memberi bantuan. Dalam bentuk apapun. Mulai dari bantuan emosional, finansial, tenaga dan waktu. Pada masa itu, karena sekolahku dilakukan secara daring atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), aku banyak berada di rumah—sambil jagain adekku—sedangkan Ibu tetap ke sekolah seperti biasa (WFO), jadi yang selalu di rumah menerima kiriman dari beberapa teman Ibu, atau bahkan kedatangan orangnya langsung, segala macam, itu adalah aku. Serangkaian kebaikan dari banyak orang seperti itu sukses membuatku haru. Dan aku menyadari, ini lah yang mahal; jalinan persaudaraan yang terpelihara sangat baik, landasannya sudah bukan lagi dunia tapi akhirat. “Bu, enak ya rasanya punya banyak teman yang bisa Ibu pedulikan, bisa Ibu sayangi dan begitu pun sebaliknya, semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan.” Kesadaran bahwa lingkup persaudaraan ini dapat terbentuk bukan hanya karena sesama muslim tapi juga sesama seorang guru pun gak luput dari kepalaku. Pokoknya, saat itu aku kayak langsung mengerti apa yang pernah Ibu ucap; jadi guru itu mungkin memang bukan profesi yang gaji nya besar sekali, tapi Nak, mulia nya peran kami (jika diiringi niat lurus) itu tidak dapat dibantah oleh siapa pun dan keberkahan yang dibawanya justru lebih besar dari hitungan angka matematika yang diajarkan manusia biasa, Insyaa Allah. Aku masih ingat suatu pagi abis dapat kiriman cemilan manis yang lagi nge-tren saat itu tapi aku belum sempet beli (dan, iya bisa ditebak dong aku girang bukan main. Makanan manis itu kelemahanku hehe), aku langsung chat Ibu “Bu, pokoknya nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku pengen bantu teman Ibu juga yang banyak. Kok pada baik-baik banget sih buu *emot haru.” Agak ngakak ya. Itu ungkapan yang memuncak sejujurnya, setelah berhari-hari membatin betapa beruntungnya aku dan keluargaku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti itu. Yang kedua, beberapa bulan kemudian masih di tahun yang sama, saat Ayah, aku, dan Ibu terjangkit COVID-19. Pasiennya bergiliran (tuh, kan, lagi-lagi fakta yang patut disyukuri, soalnya bagaimana kalau saat itu kami bertiga terjangkit positifnya di waktu yang bersamaan?). Yang pertama Ayah, selama hampir sebulan, lalu aku selama 17 hari. Kami berdua hanya karantina mandiri di kamar masing-masing, dan tes yang kami lakukan itu rapid, bukan swab (hayo masih ingat gak bedanya apa? Hehe. Simpelnya, kalau rapid hasilnya cepat keluar dan gak lebih akurat dari swab). Lalu Ibu. Karantina nya ibu berlangsung selama dua minggu, dan di rumah sakit, karena Ibu ambil tes swab dan gejalanya lebih jelas dan mencemaskan dibanding Ayah dan aku. Bisa dibayangkan, rumah tanpa Ibu kayak gak ada jantungnya. Aku gak ada motivasi buat bantu urusan rumah

Scroll to Top