RuMah (Rubrik Mahasiswa )

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi#5 (Wejangan ala-ala untuk para MABA)

Konsep ‘perkuliahan’ cukup rumit. Bukan tanpa alasan takarir twibbon ospek UIM mengandung kalimat berbunyi “Menyandang gelar MAHA di atas kata SlSWA berarti siap mengemban tanggung jawab yang lebih besar dan penuh arti”.    Teman saya menulis artikel berjudul “Belajar dari Jogja” (bila kalian sedang senggang, sangat dianjurkan untuk membaca sekalian artikel tersebut) bahwa ilmu tidak hanya sebatas apa yang kita dapat di kelas melainkan juga di forum-forum diskusi dalam tongkrongan-tongkrongan ringan bersama teman lain. Durasi hidup setiap manusia sangatlah terbatas untuk ilmu yang tiada batas. Menanggulangi hal tersebut, hei para mahasiswa, sadarilah betapa pentingnya kalian mencari komunitas intelektual. Mungkin kisah pengalamanku di bawah dapat menjadi refleksi. ***     Tidak ada yang dapat mengalahkan sensasi terkejut saat melihat realitas telah melampui ekspetasi. Setinggi-tingginya katak melompat, Ia akan sadar masih ada burung yang selalu berada jauh di atasnya. Itulah yang aku rasakan saat pertama kali dosen menampilkan satu persatu tugas laman web (telah dibahas pada seri sebelumnya) di kelas.      Ide yang sebelumnya kuanggap ‘genial’ ternyata terhitung sangat normal. Bila dibandingkan tugas karya teman-temanku yang lain (contoh milik temanku yang mendapat pujian dosen: https://aimamarifaaa.wixsite.com/mysite) milikku benar-benar sangatlah standar. Tidak ada istimewanya. Bahkan untuk ide bisnisnya saja masih terlalu abstrak. Benar-benar tidak ada yang bisa dibanggakan. UGM berhasil membuatku ciut untuk ke sekian kalinya.     Tidak apa, mentalku sudah cukup terlatih. Justru aku menganggap semua ini adalah nilai lingkungan positif dimana aku terus disadarkan agar tak bosan mengembangkan diri. Seperti kata orang bijak, “Bila kau merasa menjadi orang paling pintar diantara yang lain, artinya kau salah ruangan,”       Meskipun dengan berdinamika bersama UGM menjadikan pola pikirku semakin liar (sempat ku-mention di seri ketiga mahasiswi amphibi), setidaknya aku bisa meng-klaim bahwa aku telah berada di ruang belajar yang benar. Tidak hanya pada matkul Bahasa Prancis Administrasi dan Bisnis, aku juga dibuat kerdil setelah sadar pengetahuanku tentang Sejarah Eropa sangatlah minim disbanding teman-temanku khususnya yang beragama kristen/katolik. Padahal, agamaku sendiri juga ikut berperan mencetak Sejarah penting pada akhir abad pertengahan dalam tragedi runtuhnya Byzantium ke tangan kekaisaran Ottoman. Tidak hanya itu, aku pun baru tahu secara kronologis mengapa Eropa bagian Selatan bisa sangat dipengaruhi oleh budaya islam.     Wah, terlalu luas ya ilmu di dunia ini. Ini baru di bidang Sejarah yang lingkupnya sekedar humaniora. Masih ada lingkup saintek yang juga terbagi menjadi puluhan bidang ilmu lainnya. Benar saja firman Allah di surat Al-Khafi ayat 109, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”     Seringnya manusia berlagak pintar sebelum sadar bahwa yang Ia ketahui belum seberapa. Contohnya ya, aku. Mentang-mentang bisa kuliah di dua kampus dan bisa menguasai Bahasa Prancis dengan nilai A semua dalam waktu satu tahun, lagaknya bisa punya ide paling cemerlang di tugas pembuatan web. Dasar emang.     Setelah disadarkan, aku sempat menghubungi temanku di jurusan informatika UIM. Kami mendiskusikan hal-hal terkait website, berujung aku kembali disadarkan bahwa wawasanku tentang software dan per-situs-an sangatlah minim. Padahal jurusanku di UIM masuk ke fakultas sains teknologi. Ranah digital anak perpustakaan memang tidak sebanyak anak informatika, namun harusnya bukan menjadi alasan untuk meremehkan ilmu tersebut di era yang sudah serba canggih ini.     Memiliki banyak teman pintar adalah sebuah privillage. Sisi menguntungkannya akan terasa ketika dia mulai menjelaskan berbagai hal yang tidak pernah kita dengar sebelumnya menggunakan bahasa paling sederhana. Bahkan, dia akan sengaja menghubung-hubungkan objek pembahasannya dengan apa yang lazim ditemui dalam jurusan kita. Contoh yang kualami, temanku memulai penjelasan terkait perbedaan situs berbayar dan gratisan dengan menganalogikan bahasa koding dengan Bahasa Prancis. “Koding itu kan Bahasa pengantar kita untuk berkomunikasi dengan computer, jenis bahasnaya ya khusus. Bisa python, javascript, atau php. Sama kayak kalo kamu ngomong sama bule Prancis kan pasti makeknya yo basa prancis toh, bukan boso Jawa atau Sunda? Nah, pada dasarnya kita kalau gunain Bahasa itu gratis, kamu gunain kosa kata prancis kan gak bayar, sama kalau ngoding terus buat system yang ngebuat situs itu gratis, itungannya kita cuma ‘ngobrol’ sama komputer,” Kurang lebih begitu kalimat yang dia lontarkan. Penjelasan berikutnya dia analogikan dengan sesuatu yang lain, namun masih di lingkup yang dekat denganku. “Yang berbayar itu kalau kita pengen situs yang dibuat ini bisa diakses orang. Disini kita butuh server. Anggep aja server tuh kayak penerbit, kalau kamu mau tulisanmu dibaca lebih banyak orang kan kamu perlu bayar buat pencetakkan dan pendistribusiannya. Server itu yang biasanya ada di akhir link itu loh, misal ‘.co.id.’ Dengan server itu, hasil kodingan kita jadi bisa dilihat orang lain dengan jumlah tertentu,”     Tidak berlebihan bila aku menganggap penjelasannya setara dengan matkul 2 sks Pengantar Situs Internet. Karena setelah itu dia juga memberikan contoh cara kerja situs canva sebagai pembeda dengan system hasil kodingan pribadi. Cukup rumit bila kujelaskan ulang, lagipula aku juga tak sehandal dia dalam menyederhanakan materi yang rumit. Kembali lagi pada teoriku di awal, semua ini bisa dia lakukan karena cukup baik mengenalku sehingga dapat merumuskan cara paling efektif saat membagikan wawasan yang dimilikinya.     Semoga kalian semakin faham betapa ilmu yang disampaikan teman akan sama bergunanya dengan kuliah dosen. Mulai sekarang, bila kalian berkesempatan ngobrol dengan teman antarjurusan atau bahkan kakak tingkat, tidak usah ragu untuk mengajak ‘TW’ (Tukar Wawasan). Kalau bisa sih, hindari motif receh semacam ‘modus pdkt’ ya! Masih banyak loh manfaat yang bisa kita dapat tanpa terlibat percintaan di dunia kampus, apalagi baru semester pertama.     Jangan juga sampai salah artikan tulisanku ini sebagai perintah untuk sering-sering nongkrong gak jelas loh ya. Ada hukum alam yang bekerja: syarat memperoleh teman-teman cerdas ber-value tinggi adalah dengan fokus meningkatkan kualitas pribadi terlebih dahulu. Pembahasan lebih jauh akan kubahas di tulisan selanjutnya ya!     Sebagai penutup, izinkan aku memamerkan tampakkan tugas web yang sudah diperbaharui temanku ini: *** Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi#4

Halo sobat mulia yang berbahagia! Gimana liburan semesternya?😊 Tidak usah dijawab, kalimat sapaan di atas hanya bentuk penegasan bahwa tulisan ini ditujukan khusus untuk para mahasiswa UIM yang masih menikmati masa awal-awal liburan, ketika mahasiswa kampus negri lain sudah memasuki pekan ketiga perkuliahan. Termasuk UGM, tentunya. Hingga hari ini sudah terhitung 5 tugas yang perlu dikumpulkan sekian hari ke depan. Mohon jangan salah faham, mahasiswi amfibi ini tidak sedang membandingkan nasib. Aku hanya ingin memanfaatkan keadaan yang berbeda ini dengan menunjukkan pada kalian hasil kolaborasi kedua jurusan yang sedang kuemban; Perpustakaan Sains Informasi dan Sastra Prancis. Kuharap kalian bersedia meluangkan waktu untuk membacanya 😀 Berawal dari tugas individu dosen di mata kuliah Bahasa Prancis Adminstrasi dan Bisnis Kami diperintahkan untuk membuat blog berisi penjelasan ide bisnis yang belum pernah ada sebelumnya. Berhubung dosen tidak memberikan persyaratan apa pun terkait platform blog, aku pun memutuskan untuk menggunakan warta mulia sebagai laman beranda perusahaan lalu blog pribadiku sebagai salah satu layanannya. Beruntung, Keputusan tersebut didukung oleh editor web ini.😎 Sebagai mahasiswi amfibi, otakku sudah memiliki setting otomatis untuk berfikir secara ‘bi-majoring’, yaitu selalu mempertimbangkan ilmu dari kedua jurusanku sekaligus pada salah satunya. Contoh, pernah terjadi sebelumnya di UIM pada mata kuliah Kerjasama dan Jaringan Informasi Perpustakaan, dosen memberikan tugas untuk menganalisis bentuk Kerjasama internasional antar perpustakaan dan perguruan tinggi di Indonesia. Saat itu aku memilih anak lembaga dari IFI (Insititut Francais Indonesie) yang bernama Warung Prancis sebagai objek penelitian. Ide ini tentu tidak akan muncul bila aku tidak mengambil studi Saspran di UGM, karena kedua nama tempat tersebut saja baru kudengar setelah diperkenalkan oleh dosen dan kating disana. Metode berfikir yang sama kembali kugunakan untuk tugas kali ini. Berangkat dari matakuliah Klasifikasi 1 dan Klasifikasi 2 dari UIM yang telah kupelajari selama 2 semester, mucullah ide bisnis berupa jasa informasi literasi. Dengan nama ‘SIL Enterprise’, dimana inisial dari nama saya sendiri dijadikan akronim berbahasa Prancis dari Services Information des Litteraires’.  SIL Entreprise menawarkan 3 jenis layanan utama yaitu… Eh, maaf kesannya jadi sampai sini saja deh penjelasan berbahasa Indonesianya😁😁. Kalau kalian memang benar tertarik dimana letak pemanfaatan matkul klasifikasinya, silahkan terjemahkan sendiri ya laman di bawah. Biar ga keliatan banget aku excited sendirian :v Setelah ini, aku izin mengganti mode salamander yang ‘merayap di daratan’.😉 *** BIENVENUE ASIL ENTREPRISE!!! L’Introduction S = Services I = Informations de L = Littéraires Adaptée par le nom initiale de l’initiateur, Syifa Iswi Liani de 2024. Située dans la ville centre a Jogja Contact disponible: Tel. 6285708383876 Email. silentreprise@gmail.com Trois Services Principal de: Bibliothécaire .1 L’organisateur .2 Le consultant .3 Mettez vos besoins en accord avec des serveur précédent! Bibliothecaire, les serveurs ayant gros achat. Le plus indispensable. Redigée par le propiétaire directement. Les explications des 2 autres: L’organisateur -Organiser des evenements litteraires -Faire l’atelier du litterature -Promouvoir les evenements du communauté Le consultant -Aider le processus du mémoire -Reccomander des références -Realiser le soutenance et faire révisions nécessaire Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Intagram : @sil_syifa05

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Papua dalam Bingkai Positive: Alam, Budaya, dan Pendidikan yang Menginspirasi

Apa yang kamu ketahui tentang PAPUA…apa yang anda pikirkan pertama kali ketika dengar nama PAPUA…apakah tentang hutan dan alamnya? Ataukah orang-orangnya? Apakah tanahnya yang subur? Ataukah lautnya yang biru terbentang luas dari timur ke barat?      Ataukah jangan-jangan anda hanya tahu PAPUA sebatas daerah yang belum maju baik secara infrastruktur, Pendidikan, dan Kesehatan…ataukah anda berpikir selalu tentang konflik yang sering dengar di media?   Harapan penulis melalui tulisan ini dapat memperkenalkan “PAPUA Dalam Bingkai Positive”. Sebagai anak asli Papua, saya dengan bangga tanpa membusungkan dada ingin menyuarakan PAPUA tidak selamanya tentang “ketertinggalan, dan konflik, ”.  ***    Suatu daerah tidak dapat terpisahkan dari budaya dan adat istiadat. Budaya tidak dapat terpisahkan, karena budaya adalah identitas diri. Anda akan dikenal dari nilai budaya yang ada didalam diri, tanpa harus menjelaskan. Papua adalah tempat yang masih sangat kental dengan budaya. Zaman boleh canggih tetapi tidak untuk memunahkan. Nilai kebudayaan yang terkandung didalam suatu daerah sangat tinggi nilainya. Budaya yang diturunkan turun temurun memberikan nuansa abadi dalam bingkai penghargaan budaya. Budaya harus dilestarikan bukan menghilangkan hanya karena mengikuti perkembangan Zaman yang terus berubah dari waktu ke waktu.    Ketika menginjakan kaki kali pertama di tanah Papua anda akan di suguhkan dengan pemandangan hijau, udara yang sejuk sampe menembus sela-sela paru-paru, ukiran dan monumen yang biasanya dipajang baik di tepi jalan, bangunan rumah bahkan dari busana yang di gunakan hari-harinya. Pepohonan yang berdiri kokoh disetiap pekarangan utama maupun sebagai pembatas jalan antara jalur kiri dan kanan.    Seperti tempat-tempat lain pada umumnya, setiap pagi terlihat anak anak sekolah yang berseragam, berbagai seragam dari Paud sampai dengan SMA bahkan Ketika sedikit bergeser ke pertengahan kota milhat mahasiswa-mahasiswi dengan almet kuning yang adalah salah satu dari kampus ternama yang ada di ibu kota Jayapura Papua. Keseharian pada umumnya ada berangkat sekolah, mengikuti kegiatan belajar, kemudian berjumpa lagi dengan mereka yang berangkat untuk bercocok tanam. Di bagian lain ada yang sedang dengan seragam kantor berlarian mengejar apel pagi, masuk kantor haru tepat waktu.     Bergeser sedikit ke bagian pedesaan terpencil, mereka juga dengan aktivitas tidak beda jauh dengan bagian perkotaan. Berseragam sekolah berlarian memasuki ruang kelas. Dengan  keterbatasan teknologi jaringan dan infrastruktur tidak menjadi halangan untuk berangkat ke sekolah. Dengan jelas melihat guru-guru yang berusaha menyesuaikan diri, keseharian, dan mengupayakan segala hal untuk dapat membagikan ilmu yang mereka miliki.     Kedatangan mereka disana seringkali hanya mengandalkan pesawat missi kecil yang akan pulang balik untuk mengantar dan menjemput. Bahkan belajar seadanya dengan fasilitas seadanya tidak menjadi alasan untuk menjelajahi dunia lewat pembelajaran setiap harinya. Menjadi kebanggaan ketika ilmu yang disebar luaskan tanpa membatasi jarak, golongan dan status.    Tidak akan asing menemukan mereka yang sedang memegang buku bacaan, Papua memiliki banyak sekali tempat pelatihan atau kursus Bahasa inggris yang biasanya di manfaatkan untuk melanjutkan perkuliahan di luar negeri. Tetapi juga untuk kebutuhan kerja. Pentingnya pendidikan sangat di indahkan dengan bukti nyata didukung penuh langsung dari pemerintah daerah setempat untuk anak-anak asli Papua yang berhak menerima beasiswa pemerintah daerah. Yaitu mereka yang memenuhi beberapa kriteria untuk memperoleh biaya gratis bersekolah baik itu tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai dengan tingkat perkuliahan atau Perguruan Tinggi. Dengan harapan bahwa mereka di biayai untuk kembali membangun daearah asal mereka dengan skill dan talenta yang sudah ada diasah secara matang dan intelektual tinggi. Adapun program yang sudah menghasilakn banyak lulusan putra-putri asli Papua dari luar maupun dalam Indonesia adalah program Mantan Gubernur Papua Bapak Lukas Enembe, “Seribu dokter dan Guru” melalui Lembaga Badan Pengelolah Sumber Daya Manusia (BPSDM)     Tidak lupa jalannya proses pendidikan didukung oleh asupan gizi yang hampir 95% adalah bahan alami yang mana bahan makanan mentah diambil dan diolah secara manual. Berhubung memiliki tanah yang begitu subur sehingga semua jenis makanan yang bisa ditanam kemudian di olah untuk menjadi konsumsi keluarga seisi rumah. Makanan pokok kami bukanlah nasi melainkan semua jenis umbi-umbian dan sayuran serta buah buahan hijau dan segar. Porsi satu ubi manis sudah menjadi sarapan yang cukup untuk sampai pada jam 12 siang lalu kemudian akan berulang sampai dengan jam 5 sore. Ini adalah cara kami bertahan hidup dengan hasil alam yang begitu lengkap yang diciptakan oleh Tuhan begitu sempurna. Dan juga hasil laut yaitu segala jenis ikan segar yang biasanya dikonsumsi dengan berbagai menu masakan. Yang mana selalu menjadi perpaduan yang cocok dengan hidangan papeda.     Di sisi lain dengan minimnya jumlah kendaraan di bagian perkotaan, menjadi hal positive untuk bisa menghirup urada segar tanpa polusi udara. Walaupun di beberapa kota yang tersebebar di pulau PAPUA yang juga sudah cukup maju dalam memiliki dan mengendarai kendaraan bahkan beberapa wilayah kabupaten yang masih dalam pembangunan sudah menjadi jalur utama untuk akses keluar masuk antar kampung dan kota untuk men-supply bahan makan serta kebutuhan utama lainnya. Ketika bergeser di daerah ibu kota PAPUA. Terbentang luas danau sentai dengan keindahan perbukitan kecil yang mengelilingi danau dari timur ke barat kemudian lautan Jayapura yang terbentang luas di lengkapi dengan pasir putih yang membentang luas, serta aliran sungai yang begitu sejuk dan memiliki warna biru kehijauan. Kemudian bergeser sedikit ke Papua Barat disanalah destinasi tempat wisata dunia yaitu pulau Raja Ampat yang sudah masuk dalam daftar UNESCO menjadi ikon penting dalam keindahan alam Papua. Kemudian naik sedikit di pegunungan Papua terdapat gunung salju yaitu Gunung gartenz, lalua wamena dengan bunga mei yang hanya akan ada di bulan mei lalu danau hambema yang ada wamena. Danau Habema adalah salah satu danau yang ada di daerah pegunungan selain Danau Rombebai yang juga adalah danau terbesar setelah Danau Sentani, Danau Paniai, Danau Anggi yang terkenal dengan keindahan alamnya, Danau Anggi, Danau Rawa Biru yang menjadi daya Tarik wisatawan, dan Danau Emfote. Lalu Jembatan merah yang ada di kabupaten Jayapuran yang juga menghubungkan dua pantai, pantai Hamadi dan Holtekam.     Alam menjadi destinasi wisata dan hiburan utama tetapi juga dengan kehadiran beberapa mall besar yang tersebar luas di sana, menjadi pilihan lainnya untuk merefreshkan diri seperti Mall Matahari Jayapura, Mall Borobudur Sentani, dan masih banyak lagi. Ini adalah bukti bahwa Papua tidak hanya dari alamnya tetapi dari pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sirkel Pertemanan Lulusan Pesantren

Dari bervariasinya prasangka dan keresahan tentang warna yang orang-orang pada masa kuliahku akan tularkan, beruntungnya, aku dipertemukan dengan mereka yang … apa ya sebutannya, berada pada koridor yang aman? Ha, pokoknya kalian paham lah maksudku; tanpa disadari pun, satu sama lain selalu mengingatkan kebaikan. Mereka yang … waras. Rasional.      Lebih lanjutnya, secara spesifik, kini teman-temanku lulusan pesantren semua. Hal terakhir yang bisa kutebak dari sirkel pertemanan yang akan kudapat pada masa kuliah. Pasalnya, kau harus selalu siap bertemu orang dengan beragam sifatnya yang tak terduga, pada jenjang kehidupan mana pun, apalagi pada masa peralihan usia remaja menjadi dewasa ini, dengan intensitas pertemuan yang melibatkan pola pikir logis, tapi juga berempati, tapi juga ‘bertahan hidup’ dengan mempertahankan imej, tapi juga rentan untuk menjadi tulus, kesemuanya memenuhi tuntutan sosial tapi jangan kehilangan prinsip dalam dirimu juga pada prosesnya. Aku nulisnya ribet banget ya, cape deh. Padahal maksud simpelku, ya, kita bakal terus ketemu orang banyak, dan masa perkuliahan ini lah notabene-nya orang mulai mengenal pergaulan yang bermacam-macam, paling buruknya; menyimpang dan bebas.    Aku menjadi salah satu yang terhindar — kalau bukan menghindar — dari sekumpulan individu yang kegemarannya sangat menjauhi prinsipku; gaya hidup hedon, kecenderungan mengumbar hal privasi di media sosial, mengupload status berisikan energi negatif (menyindir seseorang tertentu, sarkas terhadap sesuatu yang gak penting), enteng melontarkan bahasa kasar, oh, banyak kalau mau disebutin di sini, tapi, poin yang paling kugarisbawahinya adalah -> pacaran. [Shout out to the thoughtful and most admirable high school friends of mine, I am able to prevent myself into engaged to numerous act of romantic approach from boys since then. Never been in a relationship became one of the accomplishment I most proud of. Though, if I am to put it more matter-of-fact-ly, I’ve been holding this ‘sad girl’ title ever since in junior high school, ha! No wonder. The boys I interested in were never once return the same feelings! Believe it or not, that is the truth. ANYWAY, back to the topic.   Mau tahu persepsiku terhadap ‘anak pesantren’? Jujur, aku tidak mengkategorikannya akrab, atau ramah, tapi juga tidak buruk. Tapi lagi-lagi, aku bisa menetapkan penilaianku tersebut tidak berlandaskan pengalaman nyata yang valid, hanya terpengaruh dari pendapat pribadi dan tambahan kisah yang kudengar atau yang kubaca di berbagai media. Aku tidak mengabaikan bagian baiknya, tentu saja. Pesantren sebagai pembentuk karakter individu, tempat menempa mental, pilihan tepat agar anak membekali pengalaman dan pelajaran pertahanan hidup, belum lagi luar biasanya mereka yang mampu menghafal al-Qur’an sekaligus mengamalkannya, banyak. Aku mengakui itu semua, di beberapa pesantren yang berkualitas dan waras (nangkep kan, maksudku waras? terhindar dari penyelewengan yang lantas menjadi rahasia gelap pesantren).   Seperti yang kubilang tadi, landasan persepsi ku tidak cukup kuat untuk membenarkan ‘ke-ogah-an’ ku berurusan banyak-banyak dengan anak pesantren, sampai ironisya, kini hampir semua teman di angkatan kuliah-ku lulusan pesantren semua, haha.    Aku tidak menganggap itu pukulan telak, malahan bersyukur bisa dikelilingi pengaruh positif secara berkala. Kapan lagi kamu punya kehidupan kuliah yang dipenuhi ingatan untuk terus bermanfaat bagi orang lain, dorongan unruk murojaah hafalan Qur’an, kesadaran banyaknya ilmu agama yang tertinggal atau bahkan dilupakan, cincai menghadapi urusan hati terkait lawan jenis (alias galau, sad girl, kasmaran, apa pun itu) agar jangan sampai terbujuk bisikan setan untuk lantas pacaran? Oh, tidak semua orang bisa mendapat kemewahan tersebut, maka benarlah kalau kubilang aku ini sangat beruntung.    Kesemuanya terlaksana sambil tidak lupa untuk menjadi gaul dan asik, tidak naif dan tanggap akan perubahan. Kami ini bukan yang konservatif, oke?    Juga, aku memiliki sirkel kecil ini, terdiri atas lima orang; Aku, Afwa, Nabilla, Habib, Bayu. Sebelum ditanya, iya, mereka semua lulusan pesantren, cuma aku yang enggak. Sering gak ngumpul dan ada topik kamu gak bisa nyambung karena emang istilah yang mereka pakai banyak yang kamu gak tahu artinya? Sering, dong 🙂👍 dan dengan peka-nya, mereka suka mengartikan terlebih dulu bahkan ketika aku tidak menyuarakan ketidaktahuanku. Entah harus kusambut seperti apa inisiatif tersebut : )    Ada satu malam di mana kami semua ngobrol, garis besar topiknya adalah tentang pengalaman sekolah mereka di pesantren, dan momen itu menjadi titik poin yang mengubah persepsi ku terhadap ‘anak pesantren’. Kalau sebelumnya penilaianku hanya berkurang porsi ‘buruk’ nya, setelah mendengar kisah mereka menjadi berubah (oy, Bayu🫵🏻 kamu ini lebih muda dari aku [ya walaupun cuma satu tahun, sih], tapi kayaknya lebih banyak yang pernah kamu lalui dulu di semasa sekolah, dibanding aku).    Dan memanglah terbukti, tentang persepsiku yang dulu tidak memiliki landasan kuat. Kini setelah bertemu langsung orang-orangnya, aku bisa mematahkan opini tidak ramah ku yang dulu itu dan beralih menjadi kekaguman tulus. Well done, guys. More Photos Penulis : Nurrida Aishya Shafa Mulya Mahasiswi Perpustakaan & Sains Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @nurridashafa_ 

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Belajar dari Jogja : Relasi, Ruang, dan Rasa yang Tumbuh Bersama.

Jogja selalu punya cara mengajari sesuatu  -bukan hanya lewat ruang kelas atau lembaran silabus, tapi lewat ruang-ruang tak terduga yang menjadi tempat tumbuhnya relasi, percakapan, dan rasa. Selama menempuh pendidikan di kota ini, aku menemukan pelajaran yang tak pernah tertulis dalam kontrak kuliah: pentingnya relasi sebagai bagian dari proses intelektual dan emosional sebagai seorang mahasiswa.      Awalnya, aku tidak benar-benar menyadari betapa besar pengaruh hubungan antarmanusia dalam hidupku. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, aku menjalani hari-hari dengan ritme akademik yang kaku : hadir di kelas, mencatat, pulang. Tapi suatu ketika, sebuah pertemuan kecil mengubah arah pandangku. Saat itu, aku bertemu kembali dengan seorang teman lama dari SMP. Kami duduk di sebuah coffee shop di kawasan Jogja, lalu ia memperkenalkanku pada teman-temannya dari kampus lain. Obrolan yang awalnya hanya nostalgia berubah menjadi diskusi serius tentang isu- isu kampus, topik penelitian, bahkan keresahan pribadi kami sebagai mahasiswa.      Itu bukan satu-satunya momen penting. Di acara umum seperti seminar, workshop, aksi dll. yang kuikuti di luar kampus, aku juga bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai latar belakang dan universitas. Mereka datang dengan cerita dan cara pandang yang beragam—dan dari situ, aku merasa bahwa ruang-ruang seperti itu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam cara berpikirku.      Yang menarik, semua relasi yang terbentuk—baik dari teman SMP, teman mereka dari kampus lain, maupun kenalan baru dari seminar—secara alami menjadi bagian penting dalam proses belajarku. Mereka bukan hanya tempat bertukar informasi, tapi juga ruang untuk menguji gagasan, membahas pilihan, dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Diskusi yang terbangun bersama mereka tak melulu bersifat akademik, tapi sering kali menyentuh dimensi praktis dan personal yang memperkaya pemahamanku tentang banyak hal.      Dari pertemuan-pertemuan ini, aku menyadari bahwa relasi bisa menjadi bentuk pengetahuan yang hidup. Melalui mereka, wawasan bertambah, pemikiran berkembang, dan keputusan menjadi lebih terarah. Dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian seperti kehidupan kampus, kehadiran mereka menjadi bagian penting dari proses adaptasi dan pertumbuhan. Selama proses ini berlangsung, aku teringat pada sebuah kutipan dari Paulo Freire yang berbunyi: “Knowledge emerges only through invention and re-invention, through the restless, impatient, continuing, hopeful inquiry human beings pursue in the world, with the world, and with each other.” “Pengetahuan muncul hanya melalui penciptaan dan penciptaan kembali—melalui pencarian yang gelisah, tak sabar, terus-menerus, dan penuh harapan yang dijalani manusia dalam dunia, bersama dunia, dan bersama satu sama lain.”      Kutipan itu seolah menggambarkan bagaimana diskusi, pertemuan, dan hubungan sosial yang kujalani selama di Jogja telah menjadi bagian dari proses belajarku—bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai ruang tumbuh pengetahuan itu sendiri. Fenomena ini bisa dikaitkan dengan konsep “ruang ketiga” dari Ray Oldenburg, yakni ruang informal di luar rumah dan tempat kerja (atau kampus) yang memungkinkan percakapan santai namun bermakna. Coffee shop, seminar terbuka, bahkan obrolan yang tak sengaja terucap, mampu menjadikan ruang ketiga yang mempertemukan kami dalam percakapan bebas tekanan. Di sanalah pengetahuan tak lagi hanya dimonopoli oleh ruang kelas.      Selain itu, relasi yang terbentuk bisa dipahami sebagai modal sosial, istilah yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu—yakni sumber daya yang berasal dari jaringan sosial yang dimiliki seseorang. Dalam konteks ini, modal sosial tidak hanya membantuku dalam aspek praktis seperti mencari referensi atau bantuan akademik, tetapi juga membentuk kerangka berpikir yang lebih terbuka dan reflektif.      Jogja, dengan segala kelonggaran dan kehangatannya, memberi ruang bagi relasi-relasi itu untuk tumbuh. Kota ini mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar menghafal materi, tapi juga menyimak cerita orang lain, memahami sudut pandang baru, dan hadir dalam ruang-ruang bersama yang menciptakan rasa. Kini aku percaya, bahwa salah satu bekal terpenting yang kubawa pulang dari dunia kampus bukan hanya transkrip nilai, tetapi juga jaringan relasi yang pernah menemaniku di tengah malam yang kacau, pagi-pagi penuh keresahan, dan siang-siang penuh diskusi. Karena di antara buku dan tugas, relasilah yang membuatku bertahan dan bertumbuh.      Dan buat teman-teman kampusku, mungkin tulisan ini kesannya terlalu fokus sama relasi di luar kampus. Tapi jujur, kalian juga bagian penting dari cerita ini. Obrolan singkat di kelas, saling bantu pas tugas mepet deadline, atau sekadar duduk bareng di angkringan shaka—semua itu juga berperan besar dalam perjalanan belajarku di Jogja. Karena di antara tugas, deadline, dan segala tekanan, relasi-relasi kayak kalianlah yang bikin semuanya terasa lebih bisa dijalani tanpa menganal kata “Bersaing”. Dan aku bersyukur banget bisa punya kalian di cerita ini.Jadi, terima kasih juga untuk kalian. Karena di tengah sibuk dan riuhnya dunia kampus, kehadiran kalian bikin semuanya jadi lebih ringan dan bermakna. Awww… Penulis : Muhammad Azzam Muttaqien Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @azmmuttaqin

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Musyrifah Gen-Z

Berawal dari keinginan ku merantau untuk menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi, dengan tidak menghilangkan identitas ku sebagai santriwati yang telah menempuh pendidikan selama 6 tahun di pondok pesantren juga mengabdi satu tahun setelahnya. Bagiku merantau bukan suatu hal yang asing karena sejatinya mental ku sudah terlatih sejak lama untuk berada jauh dari orang tua. Saat itu aku berfikir dan menyusun rencana sematang mungkin bagaimana caranya nanti setelah aku merantau, lalu beralih pada jati diri yang baru, tetapi integritas diri ku sebagai santriwati tidak lantas hilang begitu saja terbawa arus zaman seperti kebanyakan orang yang menganalogikan dengan sebutan “mantan santri”. Singkat cerita, atas izin Allah aku menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Universitas Islam Mulia yang biasa disebut UIM merupakan perguruan tinggi swasta yang menjunjung nilai-nilai islam holistik, terbukti dari banyaknya jalur beasiswa bagi para santri, tahfidzul Quran dan jalur prestasi lainnya Hai sobat muda mulia… aku Nabilla mahasiswi semester 4 program studi administrasi kesehatan, dan disinilah kisah ku dimulai. Aku menjadi bagian dari mahasiswi kampus UIM melalui jalur penerimaan beasiswa tahfidz. Pertama kali datang ke Jogja, aku bertempat tinggal di asrama yang menjadi salah satu fasilitas kampus untuk mahasiswa yang berasal dari perantauan. Hari demi hari kujalani kehidupan baru ku di asrama kampus dengan berbagai kegiatan yang sangat produktif, mulai dari solat lima waktu berjama’ah, berangkat kuliah, kajian sore, tadarus Al-Quran dan kegiatan lainnya. Selain tinggal di asrama kampus, aku dan beberapa teman ku yang masuk melalui jalur beasiswa tahfidz juga pernah bertempat tinggal di Rumah Penghafal Quran (RPQ) Ainul Mardiyah yang merupakan kebijakan kampus untuk mahasiswi jalur beasiswa tahfidz. Keberadaan kami di RPQ dibawah bimbingan Ustadz Nurhidayat yang dibersamai ustadz dan ustadzah pengampu. Tujuan kami ditempatkan di RPQ untuk menjaga kuallitas hafalan agar tetap disiplin dan tidak lalai ditengah kesibukan kami sebagai mahasiswi. Tetapi karena suatu hal, akhirnya aku dan teman-teman seperjuangan ku pun pindah lagi dan kami memutuskan untuk menjadi anak kos yang berada di sekitar kampus. Kalo diingat, lucu juga perjalanan tempat tinggal kami yang berpindah-pindah padahal saat itu kami baru beranjak semester 2 dan sudah tiga tempat tinggal kami rasakan. Setelah menjalani kehidupan menjadi anak kos aku pun mencari kesibukan lain, seperti mulai mengajar mengaji di TPA sekitar dan juga menjadi guru mengaji privat. Selain itu, aku juga mencoba mendaftar menjadi musyrifah di salah satu unit pendidikan yayasan mulia. Dari berbagai kesibukan yang kujalani dan berbagai peluang pengalaman yang ingin kucoba, tidak lain sebagai upaya ku sebagai mahasiswi perantauan dengan tetap menjaga jati diri nya sebagai santri dengan segala kedisiplinan dalam kesehariannya baik dari segi ibadah, murojaah hafalan dan lingkar pergaulan. Setelah beberapa waktu menanti, tepatnya pada 20 juli 2024 aku resmi menjadi musyrifah di Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar Ash-Shiddiq Yogyakarta. Dengan segala rasa berat hati meninggalkan anak-anak TPA, anak les privat ku dan kehidupan nyaman menjadi anak kos yang rasanya lebih punya waktu fleksibel antara kuliah, tanggung jawab lain, istirahat, dan pastinya waktu main bareng temen-temen lebih bebas, hehe. Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar merupakan asrama putri yang difasilitasi untuk siswi boarding school SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Awal aku bergabung di asrama menjadi musyrifah, pastinya sangat merasa canggung dengan segala culture baru yang kutemui, terlebih harus mengenal karakter anak-anak yang beragam dengan usia mereka yang terpaut dekat dengan ku. Aku diamanahkan menjadi musyrifah siswi kelas 1 SMA. Untuk kesekian kalinya skill ku dalam beradaptasi diuji. Memulai lagi untuk saling mengenal hal-hal baru, dari kondisi asrama, aturan-aturan yang ada, juga mengenal banyak karakter orang dari berbagai daerah. Bagiku tinggal di asrama sebagai musyrifah tidak beda jauh dengan pengalaman ku mengabdi di pondok, dan panggilan ustadzah pun sudah tidak asing lagi di telinga ku. Beda hal dengan anak-anak yang sebagian besar baru merasakan kehidupan di asrama yang menuntut mereka untuk belajar mandiri dan tanggung jawab atas dirinya sendiri, walaupun beberapa anak sudah pernah tinggal di asrama atau dari pondok juga. Satu hal random yang pertama kali kudapati di awal perkenalan dengan anak-anak halaqoh ku yaitu soal panggilan ku untuk mereka. Disaat ustadzah lain memanggil mereka dengan sebutan “anak-anak”, tapi tidak dengan ku yang memanggil mereka dengan sebutan “adik-adik”. Bukan tanpa alasan aku memanggil mereka dengan sebutan “adik”, melainkan POV ku sebagai musyrifah gen Z dan merasa usia kami seperti layaknya kakak dan adik. Hingga suatu ketika, ada salah satu anak yang membalikkan panggilan ku, celetukan nya yang spontan membuat ku tersenyum dan sedikit salting hihii. Begini katanya “ustadzah kan panggil kita “adik-adik” (sambil meniru nada bicara ku), kenapa kita ga panggil ustadzah nabila jadi kak nabila atau mbak nabila saja, kan ustadzah masih muda kenapa dipanggil ustadzah?” Saat itu aku hanya bisa menjawab “ihh bisa aja kamu bercandanya”, tapi lain lagi dalam hati, spontan aku membatin, “hmm emang kalo jadi ustadzah harus sepuh dulu hahah”. Akhirnya perlahan aku terbiasa memanggil mereka dengan panggilan “nak” seperti ustadzah lain. Dibalik keseruan dengan berbagai hal random anak-anak, ada kalanya aku merasa lelah dengan kepadatan aktivitas kampus, sekaligus kewajiban ku di asrama yang setiap harinya terasa menanti sepulang ku dari kampus. Banyak faktor yang jadi penyebab kelelahan ku. Mulai dari jarak tempuh dari asrama ke kampus yang cukup jauh dan sangat menguras energi beserta segala keemosian ku di jalan. Oiya, jangan lupakan ruang kelas ku yang berada di lantai 4 dan kamar ku di lantai 3, bisa kebayang kan gimana setiap sampai kampus dan asrama aku harus menarik nafas lelah untuk menaiki setiap anak tangga. Sesampainya di asrama pun kadang ada saja hal diluar dugaan, mungkin ada anak yang sakit, atau laporan lainnya. Belum lagi semester 4 yang konon “nyatanya” bergelut dengan segala tugasnya yang tiada henti. Sisi positif yang bisa kuambil dari segala keluh kesah ku setiap harinya, yaitu selalu berusaha untuk menanamkan keihklasan atas apa yang sedang kujalani. Mungkin kalo kalian pernah dengar, ikhlas adalah pelajaran seumur hidup untuk kita benar-benar bisa memaknai dan menjalani esensi dari ikhlas itu sendiri. Kalimat andalan ku kalo lagi merasa capek dengan segala huru-hara duniawi “ikhlas bill, kan semua ini kamu yang pilih dan jalani”. Begitulah kira-kira motivasi untuk diri sendiri hihiii. Alhamdulillah nya sampai rentang waktu hampir

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #2 : Lompatan Quantum dari UIM ke UGM

Kini giliran mental yang dibahas dalam kisah padatku, sekaligus memperjelas alasan mengapa aku menyebut diriku sebagai mahasiswi beranomali amfibi. Sedikit klarifikasi, tolong jangan bayangkan amfibi dengan berbentuk katak. Ia bukan satu-satunya hewan amfibi di dunia ini. Bayangkan saja salamander, bentuknya jauh lebih imut ketimbang amit. Senyum tulus dari salamander tidak menyimpan makna tersembunyi layaknya katak yang seakan selalu memberi ancang-ancang untuk lompat.       Berbicara tentang lompat, apa kalian tau tentang lompatan kuantum? Aku memang anak IPS, namun ibuku seorang lulusan kedokteran, teori fisika dasar seperti ini lazim kudengar. Lompatan kuantum adalah transisi mendadak dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya dalam sistem kuantum. Contohnya -yang tentu saja kukutip dari internet karena aku tidak terlalu mengerti- seperti elektron dalam atom dapat berpindah dari satu orbit (tingkat energi) ke orbit lain dengan menyerap atau memancarkan foton.      Dalam konteks umum, lompatan kuantum dapat dianalogikan sebagai suatu perubahan ekstrim yang tak terduga. Kembali pada pembahasan utama, mentalku. Sebelumnya sempat kuangkat isu krisis kepribadianku dari ekstrovert menuju introvert sekaligus sebabnya : otak kecapean. Trailer kisah kali ini akan mengungkap lompatan kuantum yang melambungkan diriku pada fase kehidupan kuliah yang jauh melampui prediksiku. Kekeliruan dalam menaruh ekspektasi ini berujung menertawakan diri. Hahaha, mau sebanyak apa sih ini kejutan resiko setelah menginjakkan kaki di kampus top tri? ***      Peralihan dari kampus islam menuju kampus negri tidak dapat diremehkan. Dari segi pakaian, pergaulan, dan budaya bersenang-senang. Mengingat jurusanku berunsur Eropa, lompatan kuantum itu benar-benar aku rasakan.      Style berpakaianku sering dianggap terlalu tua, hanya karena menggunakan rok. Itulah mengapa akhirnya banyak gamis telah kupulangkan karena rasanya kurang leluasa dipakai untuk kelas ‘sastra prancis’. Format duduk pun tidak memandang gender, sejak hari pertama aku langsung harus duduk bersebelahan dengan laki-laki. Sepele memang, namun yang namanya perubahan tetap butuh proses adaptasi. Dan ini belum seberapa.      Suatu lembaga yang bekerja sama dengan jurusanku sering mengadakan event budaya yang memperkenalkan gaya Eropa, termasuk ‘minum’. Saat itu acaranya bernama testing wine, dimana siapa pun mahasiswa yang mendaftar akan diberi akses minum anggur. Yap, difasilitasi. Mayoritas teman angkatanku yang non-muslim mengikutinya, termasuk 2 anomali yang ber-ktp muslim.      Selain itu, fakultas ilmu budaya sendiri sering menjadi tuan rumah sebuah festival. Satu di antaranya yang kuikuti adalah Festival Kebudayaan Arab. Sisanya, entah kenapa bagiku makruh bila diikuti. Misal, seperti Festival Halloween. Festival berbudaya barat tersebut selalu mendapat desas desus berbunyi “paling pas puncak acara pada mab*k-mab*kan tuh,” Lagipula barat memang memiliki budaya minum.      Kurasa cukup sampai disini, khawatir aku malah mengekspos lebih banyak sisi kelam kampus bergengsi. Saatnya mengumbar sisi keren kampus, yang biasa dilihat pihak luar, tetapi bagi pihak internal biasa dirasakan sebagai tekanan.         Tidak sulit mencari apa saja penghargaan yang didapat oleh UGM. Sebagaimana menemukan keindahan pada kupu-kupu, sangat mudah. Hanya dengan melihat, keindahan akan terpancar dengan sendirinya. Tanpa sadar kita melupakan adanya proses berat yang perlu dilalui ulat sebelum itu. Sama halnya dengan mahasiswa UGM disini. Kampus yang telah harum dikenal seantero Yogyakarta, memiliki kisah juang setiap mahasiswa yang tidak boleh dihiraukan. Tentu saja aku salah satunya. Bukan haus validasi, hanya ingin berbagi peluh selama menjalani hari-hari pertama diajar oleh para dosen ber-‘darah’ UGM.      Entah sudah berapa lama pengalaman mengajar yang dimiliki dosen-dosenku disana. Mereka kelewat professional untuk mengajar para mahsiswa polos yang tidak tahu menahu tentang literatur Prancis sebelumnya. Selama ini buku yang kubaca hanyalah karya-karya domestik dari Ahmad Tohari, Dee Lestari, Leila S Chudori, Tere Liye, Umar Kayyam, Puthut Ea, Agus Mulyadi, dan penulis Indonesia lainnya. Asing sekali kudengar nama Albert Camus, Francois Sagan, Simone de Beauvoir dan kawan-kawan.      Terlebih bahasanya. Ayolah, bahasa Inggris saja aku nyaris tak berhasil sampai di tingkat intermediate, mana ada waktu aku berpindah ke bahasa lain. Ini semua akhirnya harus kujalani semenjak pengumuman hasil SNBT menyatakan aku diterima untuk jurusan ini, jurusan pilihan keduaku setelah sastra inggris.      Beberapa teman seangkatanku sudah lebih dulu mencuri start dari SMA karena mereka jurusan bahasa. Ilmu-ilmu dasar telah mereka kuasai, begitupula dengan pelafalan. Modal mereka berbeda jauh dariku yang hanya mengandalkan ‘duolingo’. Namun berkat ajaran dosen yang luar biasa, IPK-ku nyaris menyamai mereka semua.      Izinkan kuperinci bagian ‘luar biasa’ itu. Status mahasiswi amfibi sedikit mengekang jadwal belajar mandiriku. Sepulang dari UGM, aku masih perlu membaca materi kuliah dari UIM berikut mengerjakan tugas-tugas individunya. Di akhir pekan, aku merasa perlu balas dendam dengan ‘menggantungkan’ semua tas kuliahku. Aku tidak serajin itu mengisi akhir pekan dengan belajar kecuali ada tugas. Maka, satu-satunya masa aku dapat memaksimalkan belajar bahasa Prancis adalah ketika aku di kelas, saat memperhatikan dosen menjelaskan segala hal dengan bahasa Prancis.      Yap, kalian tidak salah baca, dengan bahasa Prancis. Aku sendiri heran, kok bisa ya aku faham? Perasaan baru setengah semester belajar. Memang ternyata kuncinya terletak pada pengajar. Seluruh teori pedagogi diterapkan secara menyeluruh dan tertata, bermula dari pembagian kelas menjadi 2 bagian agar memudahkan pemantauan. Dampaknya, setiap dosen akan mengajarkan 2 materi berulang setiap harinya demi memastikan setiap mahasiswa betul-betul paham.       Aku sangat menyesal sempat meragukan prinsip mengajar dosen di kampus negri terkenal ini. Kukira dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak akan membuat mereka tidak memperhatikan kemampuan setiap mahasiswanya. Ternyata, sekali ada mahasiswa nampak tertinggal, dia akan langsung dipanggil ke ruang dosen untuk dinasehati. Kebetulan orang itu teman yang sering duduk di sebelahku. Kami biasa duduk di baris belakang sejak awal pertama bertemu, karena sialnya kami sama-sama terlambat saat itu. Sungguh pertemuan memalukan memang.      Berbeda denganku, dia jarang memperhatikan dosen. Lebih sering memainkan HP atau tertidur. Dosen sering menyuruhku untuk membangunkannya. Singkat cerita saat Ia dipanggil, ternyata namaku ikut terseret. Dia memberitahuku bahwa dosen bimbingannya menyuruh kami untuk tidak lagi duduk di belakang. Kukira hanya peringatan ringan, paling juga lupa di pertemuan berikutnya. Ternyata pekan depan tepat saat dosen itu baru memasuki ruangan, beliau langsung melirikku dan temanku yang masih duduk di belakang lalu berkata dengan tatapan tajam dan nada tegas,  “Asseyez-vous devant vous deux!” (Kalian berdua, duduk depan) Itu kali terakhir aku meragukan ketegasan dan mode serius

RuMah (Rubrik Mahasiswa ), Uncategorized

Guru Ngaji di Tengah Kota : Cerita Mahasiswa UIM Mengajar TPA.

Halo teman-teman Muda Mulia dimanapun kalian berada, semoga kita selalu senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT. Dan jangan lupa sholawat berbingkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga,sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman. Nah teman-teman perkenalkan nama saya Habib Muhammad Rizieq seorang mahasiswa di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dan juga sekaligus seorang guru ngaji TPA di sebuah masjid yang bernama masjid Al-Furqon. Masjid Al-Furqon ada di perum Jati Sawit asri, balecatur, Gamping, Sleman, sebuah masjid yang bisa dibilang sangat Makmur dan asri dengan halamannya yang cukup luas untuk sebuah masjid yang berada di tengah kota. Adapun kegiatan rutinan yang ada di masjid Al-Furqon sangat beragam mulai dari kegiatan harian seperti sholat berjamaah, kemudian ada kegiatan mingguan seperti pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu yang alhamdulillah rutin dilakukan setiap hari jumat, sampai acara bulanan dan tahunan seperti pengajian akbar ahad kliwon yang diadakan setiap ahad kliwon. Dan yang saya sangat kagumi dari masyrakat disekitar masjid adalah rasa kekeluargaannya yang masih sangat kental dan terjaga dari dulu, sebuah fenomena yang sangat jarang kita temukan di perkotaan di zaman sekarang. Sebagai seorang muslim, tentu saja perintah yang pertama kali Allah perintahkan bukanlah sholat, zakat, puasa, dll. Melainkan kita dituntut untuk belajar, sebagaimana firman Allah di surah Al-Alaq ayat pertama yang artinya “bacalah”. Dari ayat ini Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, baik dia orang yang muda sampai tua, miskin atau kaya kita semua diperintahkan untuk menuntut ilmu. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu akhirat yang akan menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya pun tergerak untuk menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa dengan menjadi seorang guru di sebuah TPA masjid. Alhamdulillah kesempatan menjadi seorang guru tiba ketika Ramadhan tahun 2024 lalu, dimana kami mendapat kesempatan untuk mengajar TPA selama bulan Ramadhan bersama 4 orang teman yang lain. Berbagai bidang ilmu kami ajarkan mulai dari mengaji, hafalan doa sholat dan harian, hafalan surah-surah pendek, dll. Adapun untuk santrinya ada beragam mulai dari yang masih TK sampai yang paling besar tingkat SMP, berbagai watak dan sifat dari anak-anak yang berbeda tentunya membuat kami belajar bagaimana memahami dan mengatasi sifat mereka yang menurut saya masih kurang dalam berhadapan kepada seorang guru, sehingga menjadi focus kami untuk membina adab dan akhlak para santri. Setelah Ramadhan 2024, saya mengira proses mengajar sudah selesai, ternyata qadarullah saya mendapat panggilan lagi untuk terus mengajar sampai sekarang. Tentu saja ini sebuah kesempatan emas bagi saya untuk membuat ladang pahala, selain ilmu yang saya bagikan kepada ade-ade santri bermanfaat bagi masa depan mereka, ini juga menguntungkan bagi saya karena ini bisa menjadi sebuah ladang pahala jariyah yang sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya mengajak kepada semua teman-teman maupun pembaca, untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat mengajarkan ilmu yang dimiliki walau ilmu yang kita miliki masih sedikit. Kita tidak tahu hal sepele yang kita ajarkan kepada seseorang bisa saja berdampak besar bagi kehidupan mereka kelak di masa depan, maka dari itu teman-teman terus bersemangatlah menuntut ilmu dan jangan lupa untuk di sharing yaa, agar ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat dan menjadi ladang pahala jariyah bagi kita. Nah teman-teman pembaca yang saya hormati, itu dia sedikit cerita dan nasihat dari saya sebagai seorang mahasiswa UIM sekaligus seorang guru TPA. Walaupun yang kami ajarkan hanya sedikit, tetapi ini menjadi sebuah pengalaman yang penuh dengan pelajaran hidup dan  tidak akan saya lupakan sampai tua nanti. *** Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini (btw ini artikel yang saya buat pertama kali, jadi mohon maaf kalau masih banyak kurangnya). Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Penulis : Habieb Muhammad Rizieq Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : habib_mhmmd07

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #1

Puncak keinginan manusia menurut Abraham Maslow adalah self-actualization, yaitu posisi dimana kita berada pada potensi terbaik dan paling kita dambakan. ‘Panggilan hidup’, lebih gampangnya. Jauh sebelum teori hierarki tersebut ditemukan, Abraham yang kita junjung sebagai bapak para nabi telah lebih dahulu memberikan contoh nyata perjalanannya mencari tuhan dalam kitab ummat ini. Dari kisah pencarian tersebut, tersirat sebuah metode pengenalan identitas diri. Aspek akal bermain kuat, menghadirkan beribu pertanyaan kenapa, siapa, bagaimana, untuk apa, yang menghantui masa mudanya. Tuhan bukanlah satu-satunya yang Ia cari, melainkan juga alasan dan tujuan. Apa yang semestinya dilakukan suatu makhluk di dunia ini. Sebagaimana titik mula perjalanan Ibrahim diabadikan pada kitabullah ayat 74-79 surat Al-An’am, perjalanan para penerusnya juga akan abadi pada kitab yang setia disimpan para malaikat. Memasuki usia remaja, disitulah langkah pertama kita tercatat. Maka di tulisan kali ini, izinkan saya membagikan sedikit teaser perjalanan mencari jati diri melalui kisah pribadi sebagai mahasiswa di 2 kampus Yogyakarta. … Awal Perjalanan dan Dilema Diperlukan pemikiran sedalam itu sebelum akhirnya aku memutuskan kuliah di 2 kampus sekaligus dalam satu waktu. Lebih tepatnya, bertahan. Sejak mula siapa sih manusia waras yang mau sukarela merepotkan diri sendiri sampai menjadikan kesehatan fisik dan mental sebagai jaminan? Baiklah, saatnya memberi gambaran singkat. Sejak hasil SNBP tahun 2024 lalu diumumkan, aku sadar ini akan membawa banyak perubahan terhadap statusku sebagai mahasiswi ‘normal’ di UIM. Namun tepatnya akan seperti apa bentuk abnormal tersebut? Pertanyaan ini langsung terjawab setelah aku berdiskusi dengan kaprodi. “Asal berkomitmen aja Mbak, kita disini bisa fleksibel selagi Mbak bisa bertanggung jawab mengerjakan tugas dan mengikuti ujian secara jujur,” begitu simpul beliau. Walaupun sempat tak terima karena tidak ada kontrak apapun, aku merasa tidak masalah selagi beliau telah mengetahui fakta bahwa aku akan kuliah di UGM. Siapa sangka inilah awal mula mentalku teruji. Kaprodi sudah berkali-kali meyakinkanku agar menjalani kuliah seperti biasa saja. Menghadiri kelas ketika bisa, mengerjakan setiap tugas yang diberikan, membaca materi dosen secara mandiri. Namun tidak kurang dari 3 dosen mempertanyakan statusku sebagai mahasiswa disana. Tak terkecuali teman-teman angkatan. Memang, bukan masalah besar. Tapi cukup membuatku terganggu hingga berujung mempertanyakan kembali perihal izinku kuliah di 2 tempat sekaligus. Aku beneran boleh kan kuliah dobel disini?! Hal yang lebih menyebalkan datang ketika semua itu terjadi seakan mempertanyakan loyalitasku dengan UIM. Ingin sekali rasanya aku berteriak, KURANG EFFORT APA GUE NYEMPETIN DATENG SIANG TERIK KE KAMPUS WALAUPUN UDAH KELAS DARI JAM 7 PAGI?! sambil memperlihatkan layar HP yang menampilkan jarak antara UIM ke UGM di google maps ; 13,3 kilometer atau setara dengan hampir setengah jam waktu tempuh. Ironis memang, aku emosi terhadap konsekuensi yang kupilih secara pribadi ini. Namun rasanya, hal tersebut tak akan terjadi apabila tidak ada pertanyaan berulang mengenai statusku di UIM. Ternyata ini hanyalah satu dari sekian banyak tantangan yang tidak terprediksi. Secara fisik, bisa kalian tebak. Tentu saja berawal dari faktor jarak antara kedua kampus yang bukan lazim ditempuh setiap hari dalam rentang waktu yang sebentar. Normalnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at aku akan berangkat ke kampus dari UGM jam 1 kurang 20 setelah menamatkan kelas 3 matkul hari itu. Sesampainya di UIM, aku akan mengikuti 1 atau 2 kelas yang berakhir paling lama jam setengah 4 sore. Pada Rabu dan Jum’at aku bisa langsung pulang ke kos, namun tidak pada hari Senin. Aku perlu kembali lagi ke UGM untuk mengikuti sesi tutor bahasa yang dimulai pukul 15.15. Jarak 13,3 kilometer kembali kutempuh. Bila kalian berfikir masuk angin adalah dampak yang kukhawatirkan, itu salah. Tubuhku sama sekali bukan tipe yang gampang ditembus angin jalan dan dirusak polusi kendaraan maupun terik matahari. Saat-saat mengendarai motor justru ‘istirahat’ bagiku. Mengganti gigi setiap belokan, menyalip  di antara kesempitan, menekan gas lebih kencang saat melihat peluang luas, melakukan peregangan selagi menunggu lampu merah, semua itu kusambil dengan mendengarkan lagu kencang. Setiap sampai di ringroad, aku akan meneriakkan lirik yang sedang kudengar. Semua itu sangat melepas stress.    Bukan pula terlambat makan, karena sejak kecil ibuku berkali-kali mengingatkan bahwa aku memiliki lambung lemah yang perlu dijaga. Lambungku sudah terlalu baik menoleransi hobi makan pedas, maka aku pun berusaha memenuhi keinginannya setiap peringatan lapar datang. Paling ekstrim terjadi saat sedang mengendarai motor, untungnya aku selalu sedia bekal praktis seperti roti, susu, atau yogurt. Aku akan memakannya dengan memanfaatkan 7 lampu merah yang kulewati dalam perjalanan. Sehingga rasa kenyang menyambut bersamaan dengan setibanya aku di UIM. Tekanan lahir yang kudapat adalah ketika aku merasa bersalah tidak memberikan otakku istirahat. Bagaimanapun, otak termasuk dalam anggota tubuh bukan? Inilah ujian fisik yang kumaksud. Rasa lelah yang dihasilkannya berefek pada kerusakan identitasku sebagai extrovert, aku tak lagi semangat berinteraksi pada siapa pun. Terlebih di UGM, karena disanalah kandang orang-orang yang baru kukenal berkumpul. Tidak ada energi tersisa untuk basa basi, apalagi bersosialisasi.             Permasalahan itu tak begitu serius mengingat kepribadian introvert bukanlah suatu kesalahan. Aku mengambil sisi baiknya, dimana aku lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan hobiku sejak lama, membaca. Setiap waktu istirahat, di UGM maupun UIM, aku akan buru-buru memasang earphone di telinga dan membuka buku yang kubawa untuk memblokir interaksi dari orang sekitar. “Di atas pala lu udah kayak ada tulisan do not disturb, dah pokoknya” ungkap salah seorang saksi mata (temanku di UGM). Aku beruntung urusan jadwal ujian keduanya tidak bertabrakan. Aku meragukan kapasitas otakku bila harus menghadapi hal tersebut. Agaknya burn out sudah menjadi suatu kepastian. Di sisi lain hal ini memangkas banyak waktu liburanku. Ketika UGM telah usai menjalani UAS, harusnya libur semester panjang yang menyambut. Namun bagiku tidak, aku masih harus mengikuti KBM di UIM karena masih ada 3 pekan pertemuan sebelum UAS benar-benar dijalankan. Selepas UAS, hanya tersisa 1 pekan kuota liburanku dari UGM. Seringnya pula aku kehabisan tiket kereta. Ujung-ujungnya Cosplay jadi Bang Thoyyib, jarang pulang.             Perbedaan jadwal ujian itu pula yang melatihku untuk tidak stuck di satu agenda. Tidak ada waktu untuk mengenang soal-soal UTS dari UGM yang kubimbangi. Aku harus langsung menuju UIM melanjutkan kelas selagi teman-teman kelasku membahas jawaban mereka yang beragam pada soal-soal menjebak. Berlaku sebaliknya, saat menjalankan rutinitas KBM biasa di UGM, aku tidak bisa berleha-leha manja di

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sehari Jadi Mahasiswi Asrama Universitas Islam Mulia Yogyakarta

Hai MudaMulia!Kenalin, aku Syefi Amanda Zahrani, mahasiswi Psikologi semester 2 angkatan 2024 di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Mau tahu keseharian aku sebagai anak asrama sekaligus pejuang kampus? Yuk, simak cerita lengkapnya!  Bangun Pagi, Sambut Hari dengan Semangat Hari-hariku dimulai dari momen sunyi penuh syahdu. Sekitar jam 03.30 pagi, aku dan teman-teman asrama udah bangun buat shalat tahajud bareng. Kadang habis tahajud, sambil nunggu adzan subuh, aku pilih antara lanjut nugas, ngaji, atau… tidur lagi bentar (relate banget kan?hehehe) Pas adzan subuh jam 04.30 berkumandang, kami shalat berjamaah dan lanjut dzikir pagi. Setelah itu, kegiatan pagi jalan terus: piket asrama, nyetrika baju, sarapan, dan siap-siap mandi. Kuliah? Gaspol Terus! Jam 08.00, aku jalan ke kampus — literally cuma tinggal jalan kaki karena asrama ada di belakang kampus (enak banget kan?). Di kelas, aku ketemu teman-teman lain yang tinggal di luar asrama. Belajar bareng, diskusi seru, sampai ketawa-ketawa kecil nunggu dosen dateng. Pas adzan dzuhur, kami break buat shalat berjamaah di musholla. Habis itu, lanjut istirahat siang tipis-tipis sebelum masuk kelas lagi jam 13.00. Walaupun siang hari itu waktu ngantuk-ngantuknya, aku tetap semangat. Soalnya setiap mata kuliah psikologi tuh selalu seru, banyak bahas tentang sisi unik manusia. Waktu terus jalan sampai akhirnya adzan ashar jam 15.30, tanda kelas beres dan siap lanjut ke aktivitas sore. Sore di Asrama: Recharge Batin dan Hati Sampai asrama, aku langsung shalat ashar berjamaah. Sore hari di asrama itu waktunya kajian rutin bareng ustadzah. Sebelum kajian mulai jam 16.00, biasanya aku santai dulu, rebahan tipis-tipis sambil ngilangin capek seharian. Abis kajian selesai jam 17.00, waktunya bebas: ada yang mandi, makan, ngobrol, bahkan ada juga yang sore-sore jalan-jalan santai. Pas adzan Maghrib, semua rutinitas berhenti. Kami shalat berjamaah, dzikir sore, dan lanjut murojaah hafalan Al-Qur’an — momen recharge ruhani yang bikin hati adem. Malam: Waktunya Winding Down Saat adzan Isya’ berkumandang, kami lagi-lagi shalat berjamaah. Setelah itu, kegiatan bebas lagi: nugas, ngemil bareng, cerita-cerita, atau sekadar me-time di kamar. Biasanya, jam 22.00 aku udah mulai persiapan buat tidur. Setelah hari yang super padat, kasur tuh rasanya kayak surga dunia! Nah MudaMulia, begitulah sepotong cerita tentang keseharianku sebagai anak asrama di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Meskipun kegiatannya kelihatan biasa aja, tapi tiap harinya selalu ada momen spesial yang ngasih pelajaran hidup. Karena sejatinya, dalam kesederhanaan itulah kita menemukan keindahan. Yuk, terus semangat ngejalanin hari-hari kita! Karena proses yang tulus bakal ngebawa kita ke hasil yang luar biasa. See you di cerita-cerita seru lainnya!   Terimakasih… 🙂 Penulis : Syefi Amanda Zahrani Mahasiswi Psikologi UIM Instagram : @sya_hze 

Scroll to Top

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Warning: getimagesize(https://s01.flagcounter.com/count/QvdR/bg_FFFFFF/txt_000000/border_022ACC/columns_2/maxflags_6/viewers_0/labels_0/pageviews_1/flags_0/percent_0/): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Fatal error: Uncaught ErrorException: md5_file(/home/u1607603/public_html/wp-content/litespeed/js/5413843931c39d0b5782086474fea025.js.tmp): Failed to open stream: No such file or directory in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php:148 Stack trace: #0 [internal function]: litespeed_exception_handler() #1 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php(148): md5_file() #2 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(842): LiteSpeed\Optimizer->serve() #3 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(392): LiteSpeed\Optimize->_build_hash_url() #4 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(265): LiteSpeed\Optimize->_optimize() #5 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(226): LiteSpeed\Optimize->_finalize() #6 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): LiteSpeed\Optimize->finalize() #7 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(205): WP_Hook->apply_filters() #8 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/core.cls.php(464): apply_filters() #9 [internal function]: LiteSpeed\Core->send_headers_force() #10 /home/u1607603/public_html/wp-includes/functions.php(5481): ob_end_flush() #11 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): wp_ob_end_flush_all() #12 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(365): WP_Hook->apply_filters() #13 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(522): WP_Hook->do_action() #14 /home/u1607603/public_html/wp-includes/load.php(1308): do_action() #15 [internal function]: shutdown_action_hook() #16 {main} thrown in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php on line 148