RuMah (Rubrik Mahasiswa ), Uncategorized

Guru Ngaji di Tengah Kota : Cerita Mahasiswa UIM Mengajar TPA.

Halo teman-teman Muda Mulia dimanapun kalian berada, semoga kita selalu senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT. Dan jangan lupa sholawat berbingkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga,sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman. Nah teman-teman perkenalkan nama saya Habib Muhammad Rizieq seorang mahasiswa di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dan juga sekaligus seorang guru ngaji TPA di sebuah masjid yang bernama masjid Al-Furqon. Masjid Al-Furqon ada di perum Jati Sawit asri, balecatur, Gamping, Sleman, sebuah masjid yang bisa dibilang sangat Makmur dan asri dengan halamannya yang cukup luas untuk sebuah masjid yang berada di tengah kota. Adapun kegiatan rutinan yang ada di masjid Al-Furqon sangat beragam mulai dari kegiatan harian seperti sholat berjamaah, kemudian ada kegiatan mingguan seperti pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu yang alhamdulillah rutin dilakukan setiap hari jumat, sampai acara bulanan dan tahunan seperti pengajian akbar ahad kliwon yang diadakan setiap ahad kliwon. Dan yang saya sangat kagumi dari masyrakat disekitar masjid adalah rasa kekeluargaannya yang masih sangat kental dan terjaga dari dulu, sebuah fenomena yang sangat jarang kita temukan di perkotaan di zaman sekarang. Sebagai seorang muslim, tentu saja perintah yang pertama kali Allah perintahkan bukanlah sholat, zakat, puasa, dll. Melainkan kita dituntut untuk belajar, sebagaimana firman Allah di surah Al-Alaq ayat pertama yang artinya “bacalah”. Dari ayat ini Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, baik dia orang yang muda sampai tua, miskin atau kaya kita semua diperintahkan untuk menuntut ilmu. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu akhirat yang akan menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya pun tergerak untuk menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa dengan menjadi seorang guru di sebuah TPA masjid. Alhamdulillah kesempatan menjadi seorang guru tiba ketika Ramadhan tahun 2024 lalu, dimana kami mendapat kesempatan untuk mengajar TPA selama bulan Ramadhan bersama 4 orang teman yang lain. Berbagai bidang ilmu kami ajarkan mulai dari mengaji, hafalan doa sholat dan harian, hafalan surah-surah pendek, dll. Adapun untuk santrinya ada beragam mulai dari yang masih TK sampai yang paling besar tingkat SMP, berbagai watak dan sifat dari anak-anak yang berbeda tentunya membuat kami belajar bagaimana memahami dan mengatasi sifat mereka yang menurut saya masih kurang dalam berhadapan kepada seorang guru, sehingga menjadi focus kami untuk membina adab dan akhlak para santri. Setelah Ramadhan 2024, saya mengira proses mengajar sudah selesai, ternyata qadarullah saya mendapat panggilan lagi untuk terus mengajar sampai sekarang. Tentu saja ini sebuah kesempatan emas bagi saya untuk membuat ladang pahala, selain ilmu yang saya bagikan kepada ade-ade santri bermanfaat bagi masa depan mereka, ini juga menguntungkan bagi saya karena ini bisa menjadi sebuah ladang pahala jariyah yang sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya mengajak kepada semua teman-teman maupun pembaca, untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat mengajarkan ilmu yang dimiliki walau ilmu yang kita miliki masih sedikit. Kita tidak tahu hal sepele yang kita ajarkan kepada seseorang bisa saja berdampak besar bagi kehidupan mereka kelak di masa depan, maka dari itu teman-teman terus bersemangatlah menuntut ilmu dan jangan lupa untuk di sharing yaa, agar ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat dan menjadi ladang pahala jariyah bagi kita. Nah teman-teman pembaca yang saya hormati, itu dia sedikit cerita dan nasihat dari saya sebagai seorang mahasiswa UIM sekaligus seorang guru TPA. Walaupun yang kami ajarkan hanya sedikit, tetapi ini menjadi sebuah pengalaman yang penuh dengan pelajaran hidup dan  tidak akan saya lupakan sampai tua nanti. *** Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini (btw ini artikel yang saya buat pertama kali, jadi mohon maaf kalau masih banyak kurangnya). Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Penulis : Habieb Muhammad Rizieq Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : habib_mhmmd07

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #1

Puncak keinginan manusia menurut Abraham Maslow adalah self-actualization, yaitu posisi dimana kita berada pada potensi terbaik dan paling kita dambakan. ‘Panggilan hidup’, lebih gampangnya. Jauh sebelum teori hierarki tersebut ditemukan, Abraham yang kita junjung sebagai bapak para nabi telah lebih dahulu memberikan contoh nyata perjalanannya mencari tuhan dalam kitab ummat ini. Dari kisah pencarian tersebut, tersirat sebuah metode pengenalan identitas diri. Aspek akal bermain kuat, menghadirkan beribu pertanyaan kenapa, siapa, bagaimana, untuk apa, yang menghantui masa mudanya. Tuhan bukanlah satu-satunya yang Ia cari, melainkan juga alasan dan tujuan. Apa yang semestinya dilakukan suatu makhluk di dunia ini. Sebagaimana titik mula perjalanan Ibrahim diabadikan pada kitabullah ayat 74-79 surat Al-An’am, perjalanan para penerusnya juga akan abadi pada kitab yang setia disimpan para malaikat. Memasuki usia remaja, disitulah langkah pertama kita tercatat. Maka di tulisan kali ini, izinkan saya membagikan sedikit teaser perjalanan mencari jati diri melalui kisah pribadi sebagai mahasiswa di 2 kampus Yogyakarta. … Awal Perjalanan dan Dilema Diperlukan pemikiran sedalam itu sebelum akhirnya aku memutuskan kuliah di 2 kampus sekaligus dalam satu waktu. Lebih tepatnya, bertahan. Sejak mula siapa sih manusia waras yang mau sukarela merepotkan diri sendiri sampai menjadikan kesehatan fisik dan mental sebagai jaminan? Baiklah, saatnya memberi gambaran singkat. Sejak hasil SNBP tahun 2024 lalu diumumkan, aku sadar ini akan membawa banyak perubahan terhadap statusku sebagai mahasiswi ‘normal’ di UIM. Namun tepatnya akan seperti apa bentuk abnormal tersebut? Pertanyaan ini langsung terjawab setelah aku berdiskusi dengan kaprodi. “Asal berkomitmen aja Mbak, kita disini bisa fleksibel selagi Mbak bisa bertanggung jawab mengerjakan tugas dan mengikuti ujian secara jujur,” begitu simpul beliau. Walaupun sempat tak terima karena tidak ada kontrak apapun, aku merasa tidak masalah selagi beliau telah mengetahui fakta bahwa aku akan kuliah di UGM. Siapa sangka inilah awal mula mentalku teruji. Kaprodi sudah berkali-kali meyakinkanku agar menjalani kuliah seperti biasa saja. Menghadiri kelas ketika bisa, mengerjakan setiap tugas yang diberikan, membaca materi dosen secara mandiri. Namun tidak kurang dari 3 dosen mempertanyakan statusku sebagai mahasiswa disana. Tak terkecuali teman-teman angkatan. Memang, bukan masalah besar. Tapi cukup membuatku terganggu hingga berujung mempertanyakan kembali perihal izinku kuliah di 2 tempat sekaligus. Aku beneran boleh kan kuliah dobel disini?! Hal yang lebih menyebalkan datang ketika semua itu terjadi seakan mempertanyakan loyalitasku dengan UIM. Ingin sekali rasanya aku berteriak, KURANG EFFORT APA GUE NYEMPETIN DATENG SIANG TERIK KE KAMPUS WALAUPUN UDAH KELAS DARI JAM 7 PAGI?! sambil memperlihatkan layar HP yang menampilkan jarak antara UIM ke UGM di google maps ; 13,3 kilometer atau setara dengan hampir setengah jam waktu tempuh. Ironis memang, aku emosi terhadap konsekuensi yang kupilih secara pribadi ini. Namun rasanya, hal tersebut tak akan terjadi apabila tidak ada pertanyaan berulang mengenai statusku di UIM. Ternyata ini hanyalah satu dari sekian banyak tantangan yang tidak terprediksi. Secara fisik, bisa kalian tebak. Tentu saja berawal dari faktor jarak antara kedua kampus yang bukan lazim ditempuh setiap hari dalam rentang waktu yang sebentar. Normalnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at aku akan berangkat ke kampus dari UGM jam 1 kurang 20 setelah menamatkan kelas 3 matkul hari itu. Sesampainya di UIM, aku akan mengikuti 1 atau 2 kelas yang berakhir paling lama jam setengah 4 sore. Pada Rabu dan Jum’at aku bisa langsung pulang ke kos, namun tidak pada hari Senin. Aku perlu kembali lagi ke UGM untuk mengikuti sesi tutor bahasa yang dimulai pukul 15.15. Jarak 13,3 kilometer kembali kutempuh. Bila kalian berfikir masuk angin adalah dampak yang kukhawatirkan, itu salah. Tubuhku sama sekali bukan tipe yang gampang ditembus angin jalan dan dirusak polusi kendaraan maupun terik matahari. Saat-saat mengendarai motor justru ‘istirahat’ bagiku. Mengganti gigi setiap belokan, menyalip  di antara kesempitan, menekan gas lebih kencang saat melihat peluang luas, melakukan peregangan selagi menunggu lampu merah, semua itu kusambil dengan mendengarkan lagu kencang. Setiap sampai di ringroad, aku akan meneriakkan lirik yang sedang kudengar. Semua itu sangat melepas stress.    Bukan pula terlambat makan, karena sejak kecil ibuku berkali-kali mengingatkan bahwa aku memiliki lambung lemah yang perlu dijaga. Lambungku sudah terlalu baik menoleransi hobi makan pedas, maka aku pun berusaha memenuhi keinginannya setiap peringatan lapar datang. Paling ekstrim terjadi saat sedang mengendarai motor, untungnya aku selalu sedia bekal praktis seperti roti, susu, atau yogurt. Aku akan memakannya dengan memanfaatkan 7 lampu merah yang kulewati dalam perjalanan. Sehingga rasa kenyang menyambut bersamaan dengan setibanya aku di UIM. Tekanan lahir yang kudapat adalah ketika aku merasa bersalah tidak memberikan otakku istirahat. Bagaimanapun, otak termasuk dalam anggota tubuh bukan? Inilah ujian fisik yang kumaksud. Rasa lelah yang dihasilkannya berefek pada kerusakan identitasku sebagai extrovert, aku tak lagi semangat berinteraksi pada siapa pun. Terlebih di UGM, karena disanalah kandang orang-orang yang baru kukenal berkumpul. Tidak ada energi tersisa untuk basa basi, apalagi bersosialisasi.             Permasalahan itu tak begitu serius mengingat kepribadian introvert bukanlah suatu kesalahan. Aku mengambil sisi baiknya, dimana aku lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan hobiku sejak lama, membaca. Setiap waktu istirahat, di UGM maupun UIM, aku akan buru-buru memasang earphone di telinga dan membuka buku yang kubawa untuk memblokir interaksi dari orang sekitar. “Di atas pala lu udah kayak ada tulisan do not disturb, dah pokoknya” ungkap salah seorang saksi mata (temanku di UGM). Aku beruntung urusan jadwal ujian keduanya tidak bertabrakan. Aku meragukan kapasitas otakku bila harus menghadapi hal tersebut. Agaknya burn out sudah menjadi suatu kepastian. Di sisi lain hal ini memangkas banyak waktu liburanku. Ketika UGM telah usai menjalani UAS, harusnya libur semester panjang yang menyambut. Namun bagiku tidak, aku masih harus mengikuti KBM di UIM karena masih ada 3 pekan pertemuan sebelum UAS benar-benar dijalankan. Selepas UAS, hanya tersisa 1 pekan kuota liburanku dari UGM. Seringnya pula aku kehabisan tiket kereta. Ujung-ujungnya Cosplay jadi Bang Thoyyib, jarang pulang.             Perbedaan jadwal ujian itu pula yang melatihku untuk tidak stuck di satu agenda. Tidak ada waktu untuk mengenang soal-soal UTS dari UGM yang kubimbangi. Aku harus langsung menuju UIM melanjutkan kelas selagi teman-teman kelasku membahas jawaban mereka yang beragam pada soal-soal menjebak. Berlaku sebaliknya, saat menjalankan rutinitas KBM biasa di UGM, aku tidak bisa berleha-leha manja di

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sehari Jadi Mahasiswi Asrama Universitas Islam Mulia Yogyakarta

Hai MudaMulia!Kenalin, aku Syefi Amanda Zahrani, mahasiswi Psikologi semester 2 angkatan 2024 di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Mau tahu keseharian aku sebagai anak asrama sekaligus pejuang kampus? Yuk, simak cerita lengkapnya!  Bangun Pagi, Sambut Hari dengan Semangat Hari-hariku dimulai dari momen sunyi penuh syahdu. Sekitar jam 03.30 pagi, aku dan teman-teman asrama udah bangun buat shalat tahajud bareng. Kadang habis tahajud, sambil nunggu adzan subuh, aku pilih antara lanjut nugas, ngaji, atau… tidur lagi bentar (relate banget kan?hehehe) Pas adzan subuh jam 04.30 berkumandang, kami shalat berjamaah dan lanjut dzikir pagi. Setelah itu, kegiatan pagi jalan terus: piket asrama, nyetrika baju, sarapan, dan siap-siap mandi. Kuliah? Gaspol Terus! Jam 08.00, aku jalan ke kampus — literally cuma tinggal jalan kaki karena asrama ada di belakang kampus (enak banget kan?). Di kelas, aku ketemu teman-teman lain yang tinggal di luar asrama. Belajar bareng, diskusi seru, sampai ketawa-ketawa kecil nunggu dosen dateng. Pas adzan dzuhur, kami break buat shalat berjamaah di musholla. Habis itu, lanjut istirahat siang tipis-tipis sebelum masuk kelas lagi jam 13.00. Walaupun siang hari itu waktu ngantuk-ngantuknya, aku tetap semangat. Soalnya setiap mata kuliah psikologi tuh selalu seru, banyak bahas tentang sisi unik manusia. Waktu terus jalan sampai akhirnya adzan ashar jam 15.30, tanda kelas beres dan siap lanjut ke aktivitas sore. Sore di Asrama: Recharge Batin dan Hati Sampai asrama, aku langsung shalat ashar berjamaah. Sore hari di asrama itu waktunya kajian rutin bareng ustadzah. Sebelum kajian mulai jam 16.00, biasanya aku santai dulu, rebahan tipis-tipis sambil ngilangin capek seharian. Abis kajian selesai jam 17.00, waktunya bebas: ada yang mandi, makan, ngobrol, bahkan ada juga yang sore-sore jalan-jalan santai. Pas adzan Maghrib, semua rutinitas berhenti. Kami shalat berjamaah, dzikir sore, dan lanjut murojaah hafalan Al-Qur’an — momen recharge ruhani yang bikin hati adem. Malam: Waktunya Winding Down Saat adzan Isya’ berkumandang, kami lagi-lagi shalat berjamaah. Setelah itu, kegiatan bebas lagi: nugas, ngemil bareng, cerita-cerita, atau sekadar me-time di kamar. Biasanya, jam 22.00 aku udah mulai persiapan buat tidur. Setelah hari yang super padat, kasur tuh rasanya kayak surga dunia! Nah MudaMulia, begitulah sepotong cerita tentang keseharianku sebagai anak asrama di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Meskipun kegiatannya kelihatan biasa aja, tapi tiap harinya selalu ada momen spesial yang ngasih pelajaran hidup. Karena sejatinya, dalam kesederhanaan itulah kita menemukan keindahan. Yuk, terus semangat ngejalanin hari-hari kita! Karena proses yang tulus bakal ngebawa kita ke hasil yang luar biasa. See you di cerita-cerita seru lainnya!   Terimakasih… 🙂 Penulis : Syefi Amanda Zahrani Mahasiswi Psikologi UIM Instagram : @sya_hze 

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Beritahu Shafa yang Dulu, Ia Kini Mengajar

Aku seperti termakan omonganku sendiri. Dari dulu, kalau menyangkut mengajar, aku tidak pernah berminat. Planning pilihan jurusan kuliah? Aku hindari apapun itu yang ada ‘pendidikan’-nya. Padahal, Ibu dan kakak laki-lakiku adalah guru—dua orang yang justru menanamkan benih ketertarikan itu lewat cerita-cerita mereka, semangat mereka, dan cara mereka memperlakukan murid-muridnya. Tapi waktu itu, aku masih belum merasa itu dunia yang ingin aku masuki. Maksudku, ya ampun, jangankan meraih gelar resmi sarjana pendidikan, untuk sekadar mengajar di rumah versi kecil-kecilan aja aku gak mau, hehe. Tapi itu dulu, sebelum usiaku 17. Apa yang lantas memacuku untuk mewujudkan harapan ibuku itu; simpel saja, mengajar, dengan tulus (pastinya)? Di samping alasan utama yaitu kesadaran dan pengetahuan penuh tentang sejumlah hadits yang mengajarkan apa arti sebaik-baiknya ilmu—yaitu ilmu yang bermanfaat bagi orang lain—aku ingin bilang ada juga kontribusi secara tidak langsung dari seseorang, yang saat itu kehadirannya memang bertepatan ketika aku mengalami character development. Tapi, sungguh, bahkan sebelum bertemu ia dan terinspirasi untuk menjadi sepertinya juga, pikiranku akan kemungkinan diriku mengajar sudah mulai terbuka sejak 2021, sampai akhirnya aku baru benar-benar bergerak untuk mewujudkannya pada akhir 2023. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari, no. 5027) Ini adalah pertama kalinya aku merantau, berada di kota orang lain, jauh dari keluarga. 19 tahun hidupku kujalani di kota kelahiran. Strategi pertamaku adalah membuat leaflet les/bimbel bahasa Inggris privat dan berkelompok, dan menyebarkannya di grup RT tempat kos ku berada. Ada satu figur yang sangat berjasa atas distribusi iklan tersebut, yaitu Mba Riska — tetanggaku — berhasil menarik beberapa anak yang ingin belajar bahasa Inggris secara privat. Sebagai ekpresi terima kasihku, aku turut membantu Mba Riska mengajar TPA dekat kos ku, Dari situlah awal mulanya. Kronologi penemuan kesempatanku mengabdi pada masyarakat dalam bentuk berbagi ilmu pengetahuan berlanjut melibatkan rekan-rekan lain, kebanyakan adalah teman kuliah. Setelah ini, aku akan menceritakan bagaimana permulaan pikiranku mulai terbuka pada 2021 silam. Permulaan Sosok paling berperan dalam kisahku yang terinspirasi untuk menjadi pengajar adalah Ibu; yang merupakan seorang guru, lebih tepatnya guru taman kanak-kanak—karirnya dimulai pada tahun 2006, dan masih bertahan hingga sekarang, yang berarti 2024 kemarin terhitung 18 tahun mengemban tanggung jawab tersebut. Selain sosok solo tersebut, ada dua peristiwa yang berpengaruh juga, yaitu 1) saat keluargaku (dan tetangga kami, tentu saja) terkena musibah banjir, dan 2) saat Ayah, aku, dan Ibu mendapat hasil positif ketika tes COVID-19. Aku ceritain yang pertama dulu, ya. “Terkadang kita melupakan bahwa dalam menyalurkan ilmu dan membenahi suatu perkara terkait murid hanya dengan harapan atau solusi duniawi. Hati manusia adalah sepenuhnya milik Allah, bukan? Perkara kapankah anak tersebut menjadi versi dirinya yang terbaik itu urusan Allah, kita hanya harus memberikan yang terbaik sebagai upaya menanamkan moral serta ilmu agama untuk mereka.” -Ibu Erlyn (2024) Februari 2021 menjadi bulan yang tak terduga oleh keluarga kami. Selain terkena banjir, ada lagi sebenarnya rentetan kejadian yang kerap memberi kejutan, kesemuanya memiliki sisi baik dan sebaliknya, sungguh, dan tentu tidak ada bandingannya dengan saudara lain yang tidak lebih beruntung. Lagi-lagi, dari jarak ini sambil memegang teropong, kalau berbicara masa lampau yang saat itu terasa lumayan berat untuk dilalui, yang tersisa untuk dirasa hanyalah rasa syukur yang membuncah, bahwa “tuh, ternyata pada akhirnya, itu semua bisa kan terlalui dan sekarang alhamdulillah semua baik-baik saja.” (Benarlah Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya). Terlebih, fakta bahwa saat itu adalah masa COVID-19 yang masih meresahkan, cemas itu nyata, mengudara jadi teman setia semua orang yang berkegiatan, belum ada cetusan new normal, membuat semuanya terasa menantang. Pasca peristiwa, kami membenahi banyak hal. Dan, inilah poin yang mau aku sampaikan; teman-teman ibu ku banyak sekali memberi bantuan. Dalam bentuk apapun. Mulai dari bantuan emosional, finansial, tenaga dan waktu. Pada masa itu, karena sekolahku dilakukan secara daring atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), aku banyak berada di rumah—sambil jagain adekku—sedangkan Ibu tetap ke sekolah seperti biasa (WFO), jadi yang selalu di rumah menerima kiriman dari beberapa teman Ibu, atau bahkan kedatangan orangnya langsung, segala macam, itu adalah aku. Serangkaian kebaikan dari banyak orang seperti itu sukses membuatku haru. Dan aku menyadari, ini lah yang mahal; jalinan persaudaraan yang terpelihara sangat baik, landasannya sudah bukan lagi dunia tapi akhirat. “Bu, enak ya rasanya punya banyak teman yang bisa Ibu pedulikan, bisa Ibu sayangi dan begitu pun sebaliknya, semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan.” Kesadaran bahwa lingkup persaudaraan ini dapat terbentuk bukan hanya karena sesama muslim tapi juga sesama seorang guru pun gak luput dari kepalaku. Pokoknya, saat itu aku kayak langsung mengerti apa yang pernah Ibu ucap; jadi guru itu mungkin memang bukan profesi yang gaji nya besar sekali, tapi Nak, mulia nya peran kami (jika diiringi niat lurus) itu tidak dapat dibantah oleh siapa pun dan keberkahan yang dibawanya justru lebih besar dari hitungan angka matematika yang diajarkan manusia biasa, Insyaa Allah. Aku masih ingat suatu pagi abis dapat kiriman cemilan manis yang lagi nge-tren saat itu tapi aku belum sempet beli (dan, iya bisa ditebak dong aku girang bukan main. Makanan manis itu kelemahanku hehe), aku langsung chat Ibu “Bu, pokoknya nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku pengen bantu teman Ibu juga yang banyak. Kok pada baik-baik banget sih buu *emot haru.” Agak ngakak ya. Itu ungkapan yang memuncak sejujurnya, setelah berhari-hari membatin betapa beruntungnya aku dan keluargaku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti itu. Yang kedua, beberapa bulan kemudian masih di tahun yang sama, saat Ayah, aku, dan Ibu terjangkit COVID-19. Pasiennya bergiliran (tuh, kan, lagi-lagi fakta yang patut disyukuri, soalnya bagaimana kalau saat itu kami bertiga terjangkit positifnya di waktu yang bersamaan?). Yang pertama Ayah, selama hampir sebulan, lalu aku selama 17 hari. Kami berdua hanya karantina mandiri di kamar masing-masing, dan tes yang kami lakukan itu rapid, bukan swab (hayo masih ingat gak bedanya apa? Hehe. Simpelnya, kalau rapid hasilnya cepat keluar dan gak lebih akurat dari swab). Lalu Ibu. Karantina nya ibu berlangsung selama dua minggu, dan di rumah sakit, karena Ibu ambil tes swab dan gejalanya lebih jelas dan mencemaskan dibanding Ayah dan aku. Bisa dibayangkan, rumah tanpa Ibu kayak gak ada jantungnya. Aku gak ada motivasi buat bantu urusan rumah

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Inspirasi Mahasiswa dari Papua : Perjalanan Apriliana Segenil dari Silimo ke Yogyakarta.

Perjalanan Inspiratif Apriliana Segenil: Dari Silimo Menuju Kampus Impian di Yogyakarta Nama lengkap saya Apriliana Segenil, dikenal sebagai April atau Ape Segenil. Saya lahir di Silimo, Kabupaten Yahukimo, Propinsi Papua Pegunungan, pada 6 April 2002. Silimo merupakan desa terpenkecil; perjalanan dari Silimo ke Jayapura membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat kecil (pesawat misi). Akses ke desa tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur udara karena kondisi medan yang sulit untuk pembangunan infrastruktur jalan darat. Oleh karena itu, transportasi udara menjadi satu-satunya akses bagi penduduk desa hingga saat ini. Saya adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dan kedua orang tua saya berprofesi sebagai pendeta dan penginjil di Jemaat Bethel Silimo. Sejak usia enam tahun, saya dibesarkan dan menempuh pendidikan di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Propinsi Papua. Sebagai mahasiswa semester dua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIM), saat ini saya berdomisili di Kabupaten Bantul. Cerita ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalanan akademik saya hingga dapat melanjutkan studi S1 di UIM Yogyakarta, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa perantauan. Kehidupan perantauan memang penuh tantangan, namun melangkah keluar dari zona nyaman merupakan upaya untuk meraih masa depan yang lebih baik. Pengalaman ini menunjukkan proses kehidupan yang kompleks dan penuh dinamika, mirip dengan jalan raya yang tak selamanya beraspal. Pendidikan dan Kehidupan Asrama: Fondasi Karakter Kuat Sejak usia enam tahun, saya telah terpisah dari orang tua dan saudara kandung, tinggal di asrama dengan sistem orang tua asuh. Para pengasuh di asrama berperan sebagai orang tua pengganti, menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Bersama lima teman lainnya, kami direkrut dari Sekolah Papua Harapan, setelah melalui seleksi di Taman Kanak-Kanak Let-Let Silimo, satu-satunya TK di desa asal saya. Kami kemudian bersama-sama melanjutkan pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Provinsi Papua. Kehidupan asrama memberikan pengalaman berharga, baik dalam pengembangan akademis maupun rohani, menekankan pentingnya hubungan erat dengan Tuhan karena “WE ARE NOTHING WITHOUT HIM”. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk mengasihi dan menghargai mereka yang bukan sedarah dan sekandung dengan saya, yang juga sama pentingnya adalah mengajarkan tentang kerasnya hidup ini Pengalaman Internasional yang Mengubah Pandangan Setelah menyelesaikan pendidikan SD-Menengah Atas (SMA) di Sekolah Papua Harapan (SPH), saya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi tanpa penundaan. Pengalaman hidup di asrama sejak usia enam tahun, berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya telah membentuk karakter saya. Hal ini merupakan pengalaman kedua saya merantau; yang pertama saya meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk bersekolah di Jayapura, dan keputusan untuk melanjutkan studi di Yogyakarta merupakan langkah signifikan lainnya. Sebelumnya saya mengikuti program perkuliahan daring selama dua tahun (2021-2023) di Papua Hope Language Institute (PHLI). PHLI adalah lembaga yang memfasilitasi mahasiswa berprestasi orang asli Papua untuk studi di luar negeri dengan seleksi program beasiswa pemerintah PAPUA. Pemerintah melalui PHLI memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di Seattle Pacific University, Amerika Serikat (daring), mengambil jurusan Nutrisi. Minat saya terhadap perawatan kesehatan dan keinginan untuk berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat di daerah terpencil menjadi motivasi utama. Saya percaya kesehatan fisik dan rohani saling berkaitan, sehingga pembinaan iman merupakan bagian penting. PHLI juga merupakan lembaga yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan (KRISTEN), menyediakan program ibadah mingguan secara rutin. Selain pengajar lokal, Papua Hope Language Institute (PHLI) juga menyediakan bimbingan dari dosen Amerika dan akses ke kelas daring di Corban dan George Fox University, tempat saya mengambil beberapa mata kuliah. Pada Agustus 2023, saya lulus dari PHLI dan menerima sertifikat penguasaan bahasa. Rencana studi lanjut di luar negeri terpaksa dibatalkan karena berpulangnya Bapak Lukas Enembe, Gubernur Papua yang merupakan sponsor program beasiswa bagi para dokter dan guru anak asli PAPUA (Program Seribu Dokter & Guru), termasuk saya. Meskipun demikian, saya bersyukur atas pengalaman berharga selama tiga tahun di PHLI yang telah memberikan bekal pengetahuan yang berharga. Menemukan Kampus Baru dan Merajut Asa di UIM Yogyakarta Setelah lulus dari PHLI pada Agustus 2023, saya melanjutkan rencana studi S1. Dengan sempat mendaftar di beberapa perguruan tinggi di Jayapura, namun saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua, sehingga mendaftar di beberapa perguruan tinggi di luar Papua. Hampir semua jalur pendaftaran perguruan tinggi telah ditutup, menyebabkan kebingungan. Suatu hari saat mengakses media sosial (Instagram), saya menemukan informasi penerimaan mahasiswa baru di UIM Yogyakarta. Rasa tak percaya muncul, mengingat persyaratan masuk perguruan tinggi umumnya cukup ketat. Namun, saya memutuskan untuk mendaftar. Puji Tuhan, saya diterima di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dengan potongan beasiswa sebesar 79%, berkat pendaftaran pada bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Meskipun memiliki ketertarikan di bidang medis sebelumnya, saya memilih untuk mengambil program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia (UIM) karena selaras dengan minat dan pengalaman saya. Dimana saya mengajar Bahasa Inggris dasar kepada anak-anak usia SD hingga SMA bahkan beberapa Mahasiswa (“English Basic for Beginner”) di lingkungan tempat saya tinggal, telah membangkitkan minat dan kepuasan dalam bidang pendidikan, sehingga saya memilih untuk menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk mengembangkan minat di bidang pendidikan. Penerimaan ini merupakan berkat dan anugerah dari TUHAN yang tak terduga, sebuah pencapaian luar biasa dalam perjalanan pendidikan saya. Lingkungan Kampus yang Toleran dan Inklusif Kampus ini sangat toleran, mulai dari rektor, dosen, karyawan, hingga mahasiswa dan warga sekitar. Lingkungan yang aman dan nyaman membuat saya dapat berkuliah tanpa rasa khawatir. Sebagai mahasiswa perantau dari Indonesia Timur, saya merasa diterima dan menjadi bagian integral dari UIM Yogyakarta. Pemilihan UIM Yogyakarta sebagai kampus utama didasari oleh reputasi akademiknya, program studi yang sesuai dengan minat saya, dan suasana belajar yang kondusif. Untuk menutup, seperti ada pepatah, “Sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu punya tempat untuk pulang, yaitu keluarga. Seorang perantau pergi untuk kembali dan membuktikan perubahan pada diri sendiri, keluarga, dan bangsa.” Tekad ini mendorong saya untuk memaksimalkan kesempatan berkuliah demi meraih cita-cita dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Penulis : Apriliana Segenil Mahasiswi Bahasa Inggris UIM Yogyakarta Instagram : @apriliana_segenil

AKSI UIM (Artikel Kritis dan Solutif Mahasiswa UIM)

Feminisme dalam Islam

Feminisme, Liberalisme, dan Islam: Perspektif Kritis Seorang Muslimah Prolog  Di tengah arus zaman yang kian deras dan kompleks, feminisme bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Ia hadir sebagai respons atas ketimpangan yang mengakar, dan dalam perjalanannya, bersinggungan erat dengan berbagai ideologi besar dunia—salah satunya, liberalisme. Sebagai dua kekuatan pemikiran yang turut membentuk lanskap sosial di muka bumi ini, tulisan ini mencoba menelusuri relasi keduanya, menggali titik temu dan ketegangan yang muncul ketika perjuangan hak perempuan bersandar pada prinsip-prinsip kebebasan individual. Namun dalam riuhnya perdebatan modern tentang perempuan dan perannya, kadang kita lupa menoleh pada jejak yang telah lebih dahulu hadir—sebuah sosok yang diam tapi pasti, kuat namun tak kehilangan kelembutan, menjadi teladan bukan karena suara kerasnya, melainkan karena keberanian dan keyakinannya yang tenang. Semoga pembacaan ini menjadi pengingat, bahwa arah perjuangan kita tak harus selalu baru untuk menjadi benar. … Halo. Namaku Shafa. Bagi yang mengenalku, bukan rahasia lagi kalau aku memang suka banget budaya Eropa. Dari banyaknya informasi yang kuterima tentang bidang tersebut, melalui berbagai macam media; buku, film, media sosial, berita, dan lain-lain, aku bersyukur masih dapat kesempatan buat mempertahankan kelogisanku sebagai perempuan muslim yang hidup pada zaman sekarang, kesadaranku untuk memisahkan mana yang tidak sesuai ajaran Islam dan tidak boleh dibiarkan memengaruhi perilaku/prinsip ku. Nah, dari pengalaman tersebut, aku terinspirasi untuk menulis artikel ini, sharing pendapat serta pengetahuanku tentang topik feminisme. Tentunya, seperti yang aku mention tadi, karena aku banyak melahap konten dari negara-negara orang berkulit putih, di sini aku hanya menyeret beberapa pendekatan dari dunia industri hiburan Barat, ya, baik perfilmannya maupun dunia sastra-nya, bukan tulisan ilmiah yang didukung beberapa judul studi literatur valid dan relevan. So, let’s just get started! I.Feminisme dan liberalisme Feminisme dapat didefinisikan sebagai suatu paham seputar berbagai isu terkait perempuan di seluruh dunia dengan cara-cara terpilih yang dapat diterapkan pada budaya atau masyarakat tertentu. Perlu digarisbawahi, cara-cara terpilih dan budaya atau masyarakat tertentu. Aku pernah melihat suatu video di media sosial yang memperlihatkan seorang wanita muslim ditanyai, “Apa kamu mengkategorikan dirimu feminis?” Sang wanita butuh waktu sekitar tiga detik sebelum menjawab dengan mantap, “Aku rasa tergantung pada definisi feminis yang kamu maksud. Kita hidup pada zaman di mana feminisme dikorelasikan dengan stereotip perempuan tangguh, berkarir cemerlang, tidak menikah, mandiri dan bebas, pengaruh persebaran sudut pandang orang-orang non-muslim. Kalau yang kamu maksud feminisme seperti itu, yang lekat dan tercampur budaya Barat, maka aku bukan (feminis). Tapi, kalau yang kamu maksud adalah feminisme yang berada pada koridor lurus ajaran-ajaran Islam, tidak keras dan berpedoman pada tokoh wanita tangguh pada zaman Rasulullah (yang tentu saja disesuaikan dengan perubahan zaman sekarang), maka iya, aku adalah seorang feminis.” Wah, setuju banget ini mah! Jawaban wanita tersebut sangat mewakili banyaknya muslimah modern-namun-berprinsip yang resah terhadap rentetan pro dan kontra tentang feminisme, tidak terkecuali aku sendiri. Ngomongin feminisme, apa, sih, landasan dasar dari paham tersebut? Harapan supaya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan bisa terwujud, ‘amarah’ kaum perempuan yang terpelihara selama berabad-abad. Bagi individu yang awam tentang feminisme, sebenernya gak nyalahin kalau pada salah kaprah dalam mendefinisikan istilah tersebut sebagai suatu paham yang seolah ngotot dalam menegakkan keadilan bagi perempuan, terkesan judes tak beralasan terhadap kaum laki-laki. Gak nyalahin, sebab arus informasi yang deras pada zaman sekarang ini memang banyak berkontribusi pada bias pemahaman suatu individu. Tidak jarang memang ada yang sengaja membelokkan arti sesungguhnya atau menambahkan unsur yang tidak diperlukan, supaya banyak yang berkerut kening saat mempelajari topik ini dan lantas menghakimi lalu membenci. Aku pernah memposting story di IG yang bertuliskan “Life without sexist, misogynist, and left-wing-feminist. Life when a rainbow is just a rainbow. Life when a woman is a woman, a man is a man.” Artinya adalah:  “Hidup tanpa kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Hidup ketika pelangi hanyalah sebatas pelangi. Hidup ketika seorang wanita adalah wanita, pria adalah pria.” Itu merupakan ungkapan keresahanku terhadap budaya Barat (terutama Amerika, tentu saja) yang semakin saja menormalisasikan perilaku sinting mengakui eksistensi gender dan seksualitas lain (iya, tentang si LGBTQ+ itu, lho) dan sebagai pelopor menjamurnya kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Buat yang belum tahu apa itu seorang seksis dan misoginis, biar aku jelaskan dulu. Seksisme berarti prasangka atau diskriminasi gender, keyakinan bahwa satu jenis kelamin secara intrinsik lebih unggul daripada yang lain. Iya, bisa terjadi pada masing-masing jenis kelamin, tapi seringnya terhadap perempuan (sejarah mencatat itu!). Jadi, seksis dapat dipahami adalah seorang yang rasis terhadap jenis kelamin lainnya. Misogini berarti kebencian dan penghinaan terhadap kaum perempuan. Ini adalah bentuk seksisme yang memosisikan perempuan pada status sosial yang lebih rendah daripada laki-laki, mengamankan peran sosial patriarki. Left-winged feminist merujuk pada impostor aktivis feminisme yang memunculkan bias penilaian terhadap paham tersebut. … Balik lagi ke story IG ku. Gambar yang aku sertakan pada tulisan itu menampilkan ilustrasi gaya hidup tentram, sederhana, cantik, murni. Yang aku maksud dari tulisan dan gambar itu adalah, se-waras ini, lho, kehidupan tanpa kehadiran mereka-mereka itu, dan pada saat sebelum pelangi dikontaminasi sebagai identitas lambang LGBTQ+, serta sebelum normalisasi gender dan jenis kelamin buatan. Oh, ya, gender dan jenis kelamin itu berbeda, ya. Jenis kelamin sudah jelas hanya ada dua, laki-laki dan perempuan (yang bilang ada lagi selain dua itu, berarti dia tersesat, kasihan). Ada pun gender, menurut Mualimah dan Yusuf dalam buku Diskriminasi Gender dalam Promosi Jabatan (2022), adalah “konstruksi sosial tentang perbedaan peran, kedudukan, serta kesempatan antara perempuan dan pria, dalam kehidupan keluarga atau masyarakat.” I.I Feminisme yang sehat Pada umur 16 kemarin (kelas dua SMA), setelah menonton film Little Women (2019) yang dibintangi Saoirse Ronan, Timothee Chalamet, dan salah satu aktris sekaligus tokoh feminisme terkenal yaitu Emma Watson, aku mendapat pandangan baru terkait feminisme yang sehat, yang tidak terkontaminasi kepercayaan sayap kiri generasi sekarang: bahwa itu bukan selalu tentang perempuan menjadi bebas, tidak menikah, berkarir cemerlang, segala cerocosan tentang perempuan harus punya kebebasan dan pilihan sendiri bla bla bla, tapi implementasi yang sehat adalah membiarkan perempuan lain menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri, tak terkecuali menjadi wanita berkeluarga. Perlu digaris bawahi, sering dilupakan konsep lain feminisme adalah menghargai pilihan setiap perempuan. Tentang Emma Watson dan pilihannya membintangi film tersebut. Jadi, tokoh utama di Little Women yang bernama Jo March (baik novel maupun adaptasi filmnya) ini merepresentasikan tokoh ‘perempuan berjiwa bebas’. Ia punya tiga saudara perempuan, salah satunya Meg, yang bertolak belakang dengan Jo. Keputusan Emma Watson memilih tokoh Meg, dan bukannya Jo lumayan mengejutkan saat itu. Pasalnya, seperti yang aku bilang tadi, Watson

Uncategorized

Meriah dan Penuh Makna! Inilah Momen Spesial Milad Pertama Universitas Islam Mulia (UIM) Yogyakarta

Yogyakarta, 17 Februari 2025 – Perayaan Milad ke-1 Universitas Islam Mulia (UIM) Yogyakarta menjadi tonggak penting dalam perjalanan kampus muda yang penuh semangat ini. Acara yang berlangsung secara khidmat dan meriah ini memperlihatkan komitmen UIM untuk terus tumbuh sebagai institusi pendidikan Islam yang unggul dan berdaya saing global. Rangkaian acara dimulai dengan Orasi Ilmiah yang disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Eko Pujiyanto, S.Si., M.T. Dalam orasinya yang visioner, beliau menyoroti peran strategis perguruan tinggi Islam dalam membangun peradaban dan mencetak generasi unggul di tengah tantangan globalisasi. Pesan-pesan inspiratif yang beliau sampaikan membakar semangat sivitas akademika untuk terus berinovasi dan berkontribusi nyata bagi bangsa dan umat. Simbol Syukur dan Harapan untuk Masa Depan Setelah orasi ilmiah, acara berlanjut dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas satu tahun perjalanan UIM Yogyakarta. Momen ini dipimpin langsung oleh Rektor UIM, Anwaruddin Hisyam, M.Sc., Ph.D, dan turut disaksikan oleh perwakilan Ketua BPH Yayasan Mulia, serta tamu undangan lainnya. Dalam sambutannya, sang Rektor menyampaikan harapan besar agar UIM Yogyakarta terus berkembang menjadi kampus unggulan yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat—Rahmatan Lil ‘Alamin. Doa Bersama Penuh Haru Nuansa religius dan kekhusyukan turut mewarnai acara saat doa bersama dipanjatkan oleh Ustadz Nur Hidayat Pamungkas, M.Pd. Doa ini menjadi bentuk pengharapan agar UIM senantiasa diberi keberkahan, kemajuan, dan perlindungan dalam menjalankan visi besarnya di masa depan. Ekspresi Seni dan Semangat Kebhinekaan Mahasiswa Sebagai penutup yang tak kalah menarik, panggung Milad UIM disemarakkan oleh pentas seni mahasiswa dari berbagai program studi. Penampilan yang penuh kreativitas dan kolaborasi ini menjadi cerminan semangat kebersamaan serta kekayaan budaya dalam bingkai keberagaman kampus. Acara Milad ke-1 UIM Yogyakarta bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi refleksi atas capaian dan cita-cita kampus dalam menghadirkan pendidikan Islam yang modern, inklusif, dan berorientasi global. Kontributor : UIM Yogyakarta

Uncategorized

Gaji 20 Juta! UIM Yogyakarta Buka Jalan Lulusan Kerja di Jepang Tanpa Downgrade!

Gaji 20 Juta! UIM Yogyakarta Resmi Jalin Strategic Partnership Employment in Japan dengan PT Kebun Teknologi Indonesia Yogyakarta,  – Kabar baik bagi lulusan Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIM Y) dan SMK! Kampus ini telah menjalin kerja sama Strategic Partnership Employment in Japan dengan PT Kebun Teknologi Indonesia untuk membuka peluang kerja di Jepang dengan gaji mencapai Rp20 juta per bulan. Program ini tidak hanya menjanjikan pekerjaan sesuai bidang keahlian, tetapi juga memungkinkan lulusan untuk mengembangkan karier secara profesional di Jepang tanpa risiko downgrade. Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Peluang Terbuka Lebar! Saat ini, Jepang mengalami kekurangan tenaga kerja di berbagai sektor, dengan kebutuhan utama di 14 bidang pekerjaan, antara lain:✅ Perawat✅ Restoran✅ Konstruksi✅ Pembersih bangunan✅ Industri makanan & minuman✅ Perhotelan✅ Pertanian✅ Industri perkapalan ✅ Perikanan✅ Perbaikan mobil✅ Permesinan✅ Perlengkapan elektronik✅ Industri penerbangan✅ Industri material Sejak tahun 2018, lebih dari 1.300 lulusan SMK hingga S2 telah sukses bekerja di Jepang. Kini, dengan Strategic Partnership Employment in Japan, mahasiswa dan lulusan dari Indonesia memiliki kesempatan lebih besar untuk meniti karier di negara tersebut. Bagaimana Cara Bergabung dalam Program Ini? Agar peserta siap bekerja di Jepang, mereka harus mengikuti pelatihan bahasa Jepang dan keterampilan profesional selama 1 tahun, dimulai sejak semester 3 perkuliahan.📌 Senin–Jumat: 2 jam per hari📌 Libur Semester: 5–6 jam per hari Setelah itu, peserta wajib mengikuti 2 tahap ujian utama:1️⃣ Ujian JFT Basic (Bahasa Jepang) – Berbasis komputer dan diselenggarakan oleh pemerintah Jepang2️⃣ Ujian Keterampilan & Wawancara Kerja Jika lolos, peserta akan melalui proses pengurusan dokumen dan kontrak kerja sebelum berangkat ke Jepang dengan visa kerja 5 tahun yang bisa diperpanjang hingga pensiun. Berapa Biaya Program Ini? Program ini memiliki skema pembayaran yang fleksibel:💰 Total biaya kursus: Rp43 juta (termasuk semua kebutuhan pelatihan & keberangkatan)💰 DP awal: Rp9 juta (bisa dicicil selama masa kursus)💰 Sisa pembayaran: Bisa dilunasi setelah mulai bekerja atau menggunakan kontrak kerja sebagai jaminan Dengan gaji yang bisa mencapai Rp20 juta per bulan, peserta masih bisa menabung sekitar Rp5–10 juta per bulan, bahkan setelah dipotong biaya hidup di Jepang. Peluang Karier untuk Lulusan Administrasi Kesehatan (Adminkes) Bagi lulusan Administrasi Kesehatan (Adminkes), ada peluang besar untuk bekerja di sektor kesehatan di Jepang. Syaratnya:📌 6 bulan pertama mengikuti kursus bahasa Jepang📌 6 bulan berikutnya mempelajari modul kesehatan Setelah itu, mereka bisa bekerja sebagai caregiver, dengan kesempatan naik jabatan menjadi asisten perawat atau dokter setelah 5 tahun bekerja. Dukungan UIM Y: Pusat Bahasa Jepang & Studi Banding Untuk mendukung program ini, UIM Y berencana membangun Pusat Bahasa Jepang di kampus. Namun, ada saran agar universitas lebih fokus pada kurikulum yang telah sesuai standar Jepang, tanpa perlu mendirikan pusat bahasa sendiri. Selain itu, studi banding ke Batam menjadi opsi agar UIM Y bisa memahami sistem pendidikan yang sudah berhasil menyalurkan tenaga kerja ke luar negeri.   Kontributor : Warta UIM

Uncategorized

Songsong Ramadhan 1446 H, Masjid Al-Fatah Gelar Pengajian dan Bazar UMKM

Sleman – Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1446 H, takmir Masjid Al-Fatah Nglahar Sumbersari, Moyudan, menggelar pengajian bertajuk “Songsong Ramadhan”, Minggu pagi (23/2/2025). Acara ini menghadirkan Rektor Universitas Islam Mulia Yogyakarta, Ustaz Anwaruddin Hisyam, sebagai penceramah utama. Dalam tausiyahnya, Ustaz Anwar mengingatkan bahwa sejak dahulu masyarakat telah terbiasa menjalani hidup sederhana, terutama saat memasuki bulan suci Ramadhan. “Mari kita hidupkan dan fungsikan masjid sebagai pusat kegiatan kebaikan, tidak hanya untuk ibadah mahdhah, tetapi juga untuk ibadah sosial yang bermanfaat bagi seluruh jamaah,” ujar Ustaz Anwar. Ia juga menekankan pentingnya mendidik anak sejak dini untuk belajar, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an hingga usia lanjut. Menurutnya, tidak ada batasan umur untuk terus mengaji dan memperdalam ilmu agama. Sebagai motivasi, ia membagikan pengalamannya dalam mendirikan tempat mengaji bagi lanjut usia. “Santri-santri saya banyak yang sudah berusia di atas 50 tahun dan baru belajar Iqra’. Mereka baru bisa membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya setelah memasuki usia lanjut,” ungkapnya. Memakmurkan Masjid dan Warga Melalui Kegiatan Sosial Ketua Takmir Masjid Al-Fatah, Muhammad Wazid, menjelaskan bahwa pengajian ini merupakan bagian dari upaya untuk memakmurkan masjid sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga jamaah. “Ketika masjid makmur, maka jamaah juga akan makmur. Oleh karena itu, kami mengadakan bazar UMKM dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat,” jelasnya. Adanya bazar UMKM diharapkan dapat menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi umat, sehingga semakin banyak aktivitas yang mendukung kesejahteraan jamaah. Selain itu, selama bulan Ramadhan, Masjid Al-Fatah juga mengajak jamaah untuk aktif dalam berbagai kegiatan, seperti:✅ Salat Tarawih berjamaah✅ Salat Subuh dan kajian rutin✅ Tadarus Al-Qur’an✅ Buka puasa bersama✅ Pasar murah dan pemeriksaan kesehatan gratis Takmir masjid juga mengajak seluruh jamaah untuk berinfak dan mendukung pembiayaan seluruh rangkaian kegiatan Ramadhan. “Dengan adanya pemeriksaan kesehatan gratis, warga bisa lebih memahami kondisi tubuh mereka sehingga dapat menjaga kesehatan selama menjalani ibadah puasa,” tambah Wazid. Melalui kegiatan ini, Masjid Al-Fatah berharap dapat menjadi pusat spiritual, sosial, dan ekonomi bagi masyarakat sekitar, sehingga keberkahannya semakin dirasakan oleh seluruh jamaah. (Redaksi KIM Moyudan) Kontributor : Redaksi KIM Moyudan

Uncategorized

“Strategic Partnership: Kesempatan Internship Keperawatan di Kota Monbetsu, Jepang”

Pendahuluan Kampus kami terus memperluas jaringan dan kesempatan bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam program magang internasional. Salah satu peluang terbaru yang terbuka adalah kemitraan strategis dengan Kota Monbetsu, Jepang, yang menawarkan program internship keperawatan bagi mahasiswa yang telah menyelesaikan teori pendidikan D3 Keperawatan di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan tenaga medis di Jepang, khususnya dalam bidang keperawatan, serta memberikan pengalaman berharga bagi para mahasiswa dalam lingkungan internasional. Tentang Kota Monbetsu dan Kondisi Demografi Kota Monbetsu terletak di Pulau Hokkaido, Jepang, yang dikenal dengan suhu ekstremnya yang dapat mencapai -7 derajat Celcius pada musim dingin. Kota dengan jumlah penduduk sekitar 20 ribu orang ini memiliki industri utama di bidang perikanan, pariwisata, dan pertanian, serta dikenal dengan keindahan alamnya, terutama wisata es terapung. Namun, Monbetsu menghadapi tantangan besar terkait kekurangan tenaga kerja, terutama dalam sektor kesehatan. Sebagian besar penduduknya adalah lansia, dengan 36% berusia di atas 65 tahun. Ini mengarah pada kekurangan tenaga medis dan perawat yang signifikan. Lebih dari 50% kapasitas rumah sakit dan fasilitas perawatan lansia tidak dapat terlayani karena kurangnya staf medis. Di sisi lain, mayoritas penduduk muda di Monbetsu adalah pekerja asing yang datang untuk mengisi kekosongan tenaga kerja di Jepang. Peluang Internship di Monbetsu Dalam rangka mengatasi kekurangan tenaga medis ini, Kota Monbetsu bekerja sama dengan universitas dan lembaga pendidikan di Indonesia untuk menyediakan kesempatan internship keperawatan. Mahasiswa yang telah menyelesaikan teori D3 Keperawatan di Indonesia dapat mengikuti program internship ini, yang akan berlangsung di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya di Monbetsu. Internship ini memberikan mahasiswa kesempatan untuk bekerja langsung di lingkungan rumah sakit Jepang, belajar dari tenaga medis profesional, serta mengasah keterampilan mereka dalam praktik keperawatan. Dengan adanya fasilitas pelatihan bahasa Jepang dan teknik keperawatan, peserta program ini akan dipersiapkan untuk bekerja di Jepang dengan efektif. Proses Penerimaan Internship Proses penerimaan internship keperawatan di Jepang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: Pendaftaran dan Permohonan VisaMahasiswa yang berminat harus mendaftar dan mengajukan permohonan visa untuk dapat mengikuti program internship ini. Penentuan Tempat InternshipSetelah pengajuan, mahasiswa akan ditempatkan di rumah sakit atau fasilitas kesehatan di Monbetsu yang telah bekerja sama dengan program ini. Pendidikan dan Pelatihan Pra-keberangkatanSebelum berangkat, peserta akan menjalani pelatihan bahasa Jepang dan teknik keperawatan yang bertujuan untuk mempersiapkan mereka bekerja di Jepang. Support Setelah Penempatan di JepangSetibanya di Jepang, peserta akan mendapat dukungan akomodasi dan bantuan kehidupan sehari-hari agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan baru di Monbetsu. Kenapa Memilih Internship di Monbetsu? Monbetsu menawarkan lebih dari sekadar pengalaman kerja; kota ini juga dikenal dengan komitmennya dalam pelestarian alam dan kualitas hidup yang tinggi. Dalam empat tahun berturut-turut, Monbetsu mendapat peringkat pertama dalam kategori pelestarian alam. Penduduk lokal yang ramah dan fasilitas yang terus berkembang memberikan suasana yang mendukung bagi para intern untuk belajar dan berkembang. Sebagai tambahan, biaya hidup di Monbetsu relatif lebih terjangkau dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Jepang. Ini membuat Monbetsu menjadi pilihan yang ideal bagi mahasiswa internasional yang ingin mengembangkan karier di bidang keperawatan. Kesimpulan Program internship keperawatan di Kota Monbetsu adalah peluang langka bagi mahasiswa Indonesia untuk memperoleh pengalaman kerja internasional sekaligus membantu mengatasi kekurangan tenaga medis di Jepang. Dengan persiapan yang matang melalui pelatihan bahasa Jepang dan teknik keperawatan, peserta program ini akan siap untuk berkarier di bidang kesehatan global. Kontributor : Nurul Aringintyas

Scroll to Top