Author name: admin-im

Kabar & Informasi, Karya Dosen, Pendidikan

Universitas Islam Mulia Yogyakarta Gelar Sosialisasi Juknis dan Demo Sistem SKKM

YOGYAKARTA – Dalam upaya memperkuat pembentukan karakter, kepemimpinan, serta kesiapan kerja mahasiswa, Universitas Islam Mulia (UIM) Yogyakarta sukses menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Petunjuk Teknis (Juknis) dan Demo Sistem Satuan Kredit Kegiatan Mahasiswa (SKKM) pada Jumat, 31 Juli 2026 secara daring melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 08.45 WIB ini diikuti secara antusias oleh mahasiswa aktif dari 8 Program Studi serta jajaran Dosen Penasihat Akademik (DPA) dari berbagai program studi di lingkungan UIM Yogyakarta. Jalannya acara dipandu oleh MC yaitu Junianto, M. Pd., selaku Dekan Fakultas Sains Psikologi dan Pendidikan. Acara dibuka langsung oleh Drs. Nur Hidayat Pamungkas, M.Pd., selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Pesantren. Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya SKKM sebagai instrumen pengakuan akademik atas aktivitas mahasiswa di luar perkuliahan. Beliau juga menyampaikan terkait kebijakan Universitas tentang kegiatan SKKM ini. “SKKM hadir bukan sekadar pemenuhan beban angka kredit, melainkan untuk menyeimbangkan kompetensi akademik (hard skills) dan kompetensi kepribadian (soft skills). Angka kredit SKKM ini menjadi syarat wajib bagi mahasiswa untuk menempuh Seminar Hasil/Skripsi serta pendorong penerbitan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI).” — Drs. Nur Hidayat Pamungkas, M.Pd. Sesi kedua dilanjutkan dengan melihat video demo dan panduan teknis penggunaan Sistem SKKM yang disampaikan oleh Panggah Widiandana, M.Kom. Pada sesi ini, peserta dibekali tata cara pengajuan dokumen, alur verifikasi oleh DPA, hingga pemantauan akumulasi poin SKKM secara transparan melalui sistem informasi akademik. Informasi dan Akses Berkas Kegiatan Bagi seluruh akademika UIM Yogyakarta yang ingin meninjau kembali materi, mengunduh panduan, atau mengambil sertifikat kepesertaan, silakan mengakses tautan di bawah ini: 📚 Buku Panduan/Juknis SKKM 2026: https://drive.google.com/file/d/1v35EkTAzi_td278ENH90f_p7IMDmIH67/view?usp=sharing  📚 Materi Sosialisasi SKKM 2026: https://drive.google.com/file/d/1XYaFZsdfp5nUcZZ8OlB-TbLAFIdpOZG7/view?usp=sharing 🎥 Video Demo Sistem SKKM UIMY: [Saksikan Ulang di YouTube]  🎥 Rekaman Video Sesi Zoom: [Saksikan Ulang di YouTube] 📜 E-Sertifikat Peserta: https://drive.google.com/drive/folders/1qQegNDIPMcZ2-oTBFxz0FzMdynZYumuh?usp=sharing Pewarta : Nurul Ariningtyas

Kabar & Informasi, Kreativitas Mahasiswa, Pendidikan, RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Peduli Jiwa Remaja, Mahasiswa FPP UIMY Gelar Edukasi Kesehatan Mental di Panti Asuhan Mafaza

  Di tengah derasnya arus informasi dan tekanan kehidupan yang dihadapi generasi muda saat ini, kesehatan mental menjadi salah satu aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Banyak remaja yang belum memahami cara mengenali, menerima, dan mengelola perasaannya sendiri, oleh karena itu, edukasi mengenai kesehatan mental sejak dini menjadi kebutuhan mendesak yang harus terus digaungkan. Berangkat dari kepedulian tersebut, mahasiswa semester dua Fakultas Psikologi dan Pendidikan melaksanakan program pengabdian masyarakat berupa kegiatan edukatif bertema “Literasi Kesehatan Mental: Edukasi dan Peningkatan Kesadaran Mental bagi Remaja”. Program ini bertujuan agar masyarakat, khususnya generasi muda, memahami konsep kesehatan mental serta mampu mengidentifikasi tanda-tanda stres, kecemasan, atau gangguan emosional sedini mungkin. Sebelum kegiatan dimulai, panitia yang terdiri dari Muhammad Arga Hidayatullah, Syai Mukti Hidayatul Falikhin, Ervita Sutarto, Sani Nuramalia, Azzahra Yasmin Aulia, dan Yusniar Hama Lelu telah menyiapkan segala perlengkapan dengan matang demi kelancaran acara. Kegiatan ini resmi dilaksanakan pada hari Kamis, 16 Juli 2026 pukul 16.00 WIB–17.45 WIB bertempat di Panti Asuhan Yatim & Dhu’afa Mafaza, Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan dihadiri oleh 11 anak panti asuhan. Acara berlangsung dengan lancar, penuh antusiasme, dan disambut hangat oleh para peserta.  Kegiatan diawali dengan salam pembuka, perkenalan, serta penyampaian tujuan acara. Selanjutnya, para peserta diajak untuk memahami apa itu kesehatan mental, mengenali tanda-tanda ketika pikiran atau hati terasa berat, serta belajar cara-cara sederhana namun bermakna dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Materi disampaikan secara interaktif melalui presentasi, cerita, dan sesi diskusi terbuka. Menariknya, dalam kegiatan ini terdapat sesi khusus di mana anak-anak diminta untuk menuliskan keluh kesah, kecemasan, atau perasaan yang sedang mereka pendam di selembar kertas yang telah dibagikan oleh panitia. Untuk menjaga kenyamanan dan privasi, kertas-kertas yang telah dikumpulkan tersebut tidak dibacakan di depan umum. Sesi expressive writing (menulis ekspresif) ini bertujuan sebagai media katarsis atau pelepasan emosi, agar anak-anak tahu bahwa mengeluarkan isi hati melalui tulisan adalah salah satu cara sehat untuk meredakan beban pikiran. Dalam kegiatan ini, para pemateri turut berperan aktif sebagai fasilitator, pendengar, sekaligus pemandu jalannya sesi diskusi agar suasana tetap hangat, terbuka, dan penuh kebersamaan. Anak-anak panti tampak antusias mengikuti setiap sesi, mulai dari pembukaan, penyampaian materi, hingga sesi foto bersama sebagai penutup kegiatan. Melalui kegiatan Literasi Kesehatan Mental ini, diharapkan anak-anak dan remaja penerima manfaat dapat semakin memiliki kesadaran serta pemahaman yang baik mengenai kesehatan mental, sekaligus mampu menerapkan langkah-langkah positif dalam menjaga keseimbangan emosional pada kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi kesehatan mental dapat disampaikan dengan cara yang hangat dan menyenangkan tanpa menghilangkan esensi pentingnya. Semoga semangat berbagi ilmu dan kepedulian ini terus dapat menginspirasi serta memberikan manfaat berkelanjutan bagi tumbuh kembang anak-anak Panti Asuhan Yatim & Dhu’afa Mafaza. Pewarta:Yusniar hama lelu (Mahasiswa UIMY prodi PGSD) & Azzahra Yasmin Aulia ( Mahasiswa UIMY prodi Psikologi)

Kabar & Informasi, Karya Dosen, Pendidikan

Solusi Keterbatasan Asrama, UIM Yogyakarta Resmi Gandeng Pesantren Markaz Al Quran Utsman Bin Affan

YOGYAKARTA, Selasa, 21 Juli 2026 – Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIMY) resmi menjalin kerja sama dengan Yayasan Markaz Pesantren Al Quran Utsman Bin Affan Yogyakarta. Penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (Memorandum of Agreement/MoA) ini dilangsungkan secara khidmat sebagai bentuk komitmen kampus dalam memenuhi kebutuhan hunian bagi para mahasiswa. Kerja sama ini diprakarsai untuk merespons tingginya minat mahasiswa UIM Yogyakarta yang ingin bermukim di asrama. Seperti diketahui, fasilitas asrama internal milik kampus saat ini diprioritaskan bagi mahasiswa perempuan, sehingga kehadiran kemitraan ini menjadi angin segar, khususnya bagi mahasiswa yang membutuhkan fasilitas hunian berbasis pembinaan karakter. Melalui kemitraan strategis ini, mahasiswa UIM Yogyakarta yang bermukim di Yayasan Markaz Pesantren Al Quran Utsman Bin Affan tidak hanya mendapatkan fasilitas tempat tinggal yang representatif, tetapi juga program pembinaan Al-Quran (tahsin dan tahfidz) serta penguatan nilai-nilai keislaman secara berkelanjutan. Dalam sambutannya, Anwaruddin Hisyam, M.Sc., Ph.D selaku rektor UIM Yogyakarta menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan solusi holistik yang tidak hanya menyelesaikan keterbatasan fisik asrama kampus, tetapi juga memperkuat kualitas spiritual mahasiswa. “Kami ingin memastikan bahwa seluruh mahasiswa UIM Yogyakarta mendapatkan lingkungan tinggal yang kondusif. Melalui kerja sama dengan Pesantren Markaz Al-Qur’an Utsman Bin Affan, mahasiswa tidak hanya mendapatkan tempat tinggal, tetapi juga pembinaan karakter dan Al-Quran yang selaras dengan visi integrasi keilmuan kampus kami,” ungkap rektor UIM Yogyakarta. Senada dengan hal tersebut, pihak Yayasan Markaz Pesantren Al Quran Utsman Bin Affan diwakili oleh Ketua Yayasan ustadz Indra Gumilar, S.Si., M.Pd. menyambut hangat kedatangan para mahasiswa UIM Yogyakarta. Pihak yayasan siap memfasilitasi dan mendampingi para mahasiswa dalam kehidupan berpesantren yang inklusif dan suportif terhadap kegiatan akademik perkuliahan. Mengenai mekanisme dan tata cara pendaftaran asrama bagi mahasiswa UIM Yogyakarta, rincian biaya serta prosdur administratif telah dituangkan secara transparan dalam lampiran MoA dan dapat diakses oleh mahasiswa melalui bagian kemahasiswaan kampus yaitu dibawah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Pesantren. Dengan diresmikannya MoA ini, diharapkan sinergi antara UIM Yogyakarta dan Yayasan Markaz Pesantren Markaz Al-Quran Utsman Bin Affan dapat berjalan panjang serta memberikan dampak positif yang nyata bagi perkembangan akademik dan karakter mahasiswa. Pewarta: Nurul Ariningtyas

Kabar & Informasi, Kreativitas Mahasiswa, Pendidikan, RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswa UIMY Hadirkan Edukasi Digital yang Bijak bagi Anak Panti Asuhan Mafaza

Semburat jingga di ufuk barat mengiringi langkah Hazzam, Nurul, dan Luqman saat memasuki pelataran Panti Asuhan Yatim dan Dhuafa Mafaza, Yogyakarta. Kedatangan ketiga mahasiswa Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIMY) ini membawa misi yang lebih dari sekadar pemenuhan tugas mata kuliah Kewarganegaraan; mereka membawa semangat pemberdayaan bagi generasi muda. Sore itu, ruang pertemuan panti riuh dengan tawa dan antusiasme para remaja jenjang SMA yang sudah menanti kehadiran para kakak mahasiswa tersebut.Kegiatan yang bertajuk “Bijak Menggunakan Gawai dan Media” ini lahir dari sebuah keprihatinan mendalam akan derasnya arus informasi yang menuntut kedewasaan bersikap. Hazzam, Nurul, dan Luqman ingin memastikan bahwa adik-adik di Panti Mafaza tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi penguasa gawai yang berdaya guna. Materi yang disampaikan dalam sesi ini dirancang sedemikian rupa agar benar-benar menyentuh realitas kehidupan remaja saat ini. Hazzam, Nurul, dan Luqman mengajak adik-adik SMA untuk berdialog secara jujur mengenai bagaimana etika berkomunikasi di ruang digital seringkali terabaikan. Mereka menanamkan pemahaman bahwa apa yang kita ketik dan bagikan di media sosial adalah cerminan dari karakter diri sendiri. Lebih jauh lagi, para mahasiswa ini membekali mereka dengan “filter alami” agar tidak mudah termakan oleh berita bohong atau hoaks yang kerap memicu perpecahan. Yang tak kalah penting, mereka memberikan tips praktis bagaimana mengubah gawai yang biasanya hanya menjadi sarana hiburan, menjadi jendela untuk mengakses ilmu pengetahuan, mencari peluang beasiswa, hingga mengasah bakat kreatif yang bermanfaat untuk masa depan mereka. Sebagai bentuk ungkapan syukur dan simbol persaudaraan, kegiatan ditutup dengan sesi makan sore bersama.Momen sederhana ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat yang paling efektif sering kali dimulai dari hati dari kepedulian tulus yang dibangun melalui kebersamaan. Bagi Hazzam, Nurul, dan Luqman, pertemuan sore itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bibit kesadaran digital yang mereka harapkan akan terus tumbuh di benak anak-anak Panti Asuhan Mafaza. Melalui tangan-tangan remaja inilah, mereka berharap masa depan bangsa akan diisi oleh generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga berakhlak mulia di dunia nyata maupun dunia maya. Pewarta :Nurul Septhia (251051015)(Psikologi)/Moh.Hazzam Alfian (251051010)(PGSD)/Luqman Arif Hibatullah (251051045)(Psikologi)

Kabar & Informasi, Pendidikan, RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Kegiatan Inspire & Grow, Mahasiswa FPP UIMY Hadirkan EdukasiKarakter yang Menyenangkan bagi Anak Panti Asuhan

Langit yang cerah dan udara yang masih sejuk menjadi awal yang hangat bagi berlangsungnya kegiatan Inspire & Grow. Suasana penuh keceriaan mulai terasa saat mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan (FPP) Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIMY) berkumpul bersama anak-anak Panti Asuhan Griya Yatim dan Dhuafa (GYD), Yogyakarta, pada Sabtu (27/6). Melalui kegiatan yang merupakan implementasi Mata Kuliah Kewarganegaraan di bawah bimbingan Heru Siddik Nugroho, M.Pd., mahasiswa menghadirkan ruang belajar yang menyenangkan sekaligus penuh makna. Bukan sekedar berbagi pengetahuan, Inspire & Grow menjadi ruang bertumbuh yang mempertemukan semangat belajar, kepedulian, dan harapan dalam kebersamaan.  Mengusung tema “Membangun Kepercayaan Diri dan Membentuk Cita-Cita Melalui Edukasi Karakter”, kegiatan ini diinisiasi oleh Annisa Indah Nur K.F, Dinda Aura Latifah, Wita Wilasari, Refan Andi Setiawan, dan Risalda Padu Pinjang. Tema tersebut dipilih karena relevan dengan tahap perkembangan anak usia sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, khususnya dalam menumbuhkan rasa percaya diri serta membangun keberanian untuk bermimpi dan meraih cita-cita. Kegiatan yang diikuti oleh anak-anak Panti Asuhan GYD jenjang SD hingga SMP ini menjadi ruang berbagi yang tidak hanya menghadirkan materi edukatif, namun juga pengalaman belajar yang hangat, interaktif, dan penuh makna. Melalui pendekatan yang menyenangkan, mahasiswa berupaya menghadirkan suasana belajar yang mampu mendorong anak-anak untuk berani mengenali potensi diri sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter sejak dini. Rangkaian kegiatan diawali dengan sesi pembukaan kemudian dilanjutkan perkenalan antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan untuk menciptakan suasana yang lebih akrab. Memasuki inti acara anak-anak diajak untuk mengikuti sesi edukasi mengenai bagaimana pentingnya memiliki kepercayaan diri dan keberanian dalam meraih cita-cita. Penyampaian di kemas secara interaktif melalui permainan, diskusi hingga tanya jawab. Untuk mengukur pemahaman peserta, mahasiswa mengadakan kuis sederhana dengan hadiah menarik. Gelaktawa dan antusiasme anak-anak pun mewarnai setiap sesi, hal ini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus mepererat kedekatan antara mahasiswa dan anak-anak panti asuhan. Setelah itu kami mengajak anak-anak menuangkan impian mereka melalui kegiatan menggambar serta mewarnai sebagai sarana untuk mengembangkan kreativitas dan memberikan ruang bagi anak-anak mengekepresikan diri, setiap anak mulai mewarnai gambar sesuai dengan imajinasi mereka masing-masing. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa turut mendampingi, memberikan semangat, serta megapresiasi setiap hasil karya anak-anak,sehingga membuat lebih percaya diri dalam mengekspresikan ide dan harapan mereka. Lebih dari sekedar menjalankan program pengabdian, Inspire & Grow menjadi ruang tumbuh yang menghadirkan pengalaman berharga, baik bagi anak-anak panti asuhan maupun mahasiswa. Anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus motivasi untuk terus percaya pada kemampuan diri mereka. Di sisi lain, mahasiswa belajar bahwa kepedulian, kebersamaan, dan pendidikan karakter dapat tumbuh melalui langkah-langkah sederhana yang dilakukan dengan tulus. Pada akhirnya, kegiatan Inspire & Grow bukan hanya sekedar menghadirkan kegiatan edukatif, tetapi juga menjadi ruang yang menumbuhkan keberanian untuk bermimpi dan keyakinan untuk melangkah. Sebab, setiap anak memiliki potensi yang layak dikembangkan, dan setiap cita-cita pantas diberi ruang untuk tumbuh menjadi kenyataan. Pewarta : Dinda Aura Latifah (Mahasiswa UIMY Prodi PGSD) dan ⁠Annisa Indah Nur K.F (Mahasiswa UIMY Prodi Psikologi)

Kabar & Informasi

Cerdas Cermat : Mengulang Ilmu, Meraih Prestasi

Diantara pesatnya kemajuan teknologi, semangat belajar dan kebermanfaatan tetap menjadi kunci utama dalam membentuk generasi yang cerdas, trampil, dan berkarakter. Kegiatan yang dilakukan bukan hanya sekedar mencari pengakuan, melainkan sebagai wujud tanggung jawab dalam mengemban Amanah serta memberikan kontribusi yang nyata bagi masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa  Fakultas Psikologi dan Pendidikan semester dua melaksanakan program pengabdian masyarakat yang bertujuan mencerdaskan anak-anak melalui kegiatan edukatif yang menyenangkan. Kegiatan cerdas cermat dilaksanakan pada jumat 03 juli 2026 pukul 15.30 WIB– 17.20 WIB di masjid Al-Huda Perengdawe Daerah Istimewa Yogyakarta dan dihadiri oleh 15 santri dan berjalan dengan sangat lancar, penuh antusias serta semangat. Sebelum itu, panitia telah menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan hingga kegiatan terlaksana dengan lancer Sebelum itu, panitia yang terdiri dari Gita Ainiyyah, Lilan Salsabila Kalsum, Aji Pangestu, Ervia Sutarto, Salsabila Putri Aulia, dan Amada Alfin Khakim telah menyiapkan segala perlengkapan yang dibutuhkan hingga kegiatan terlaksana dengan lancar. Kegiatan diawali dengan salam, perkenalan, dan penyampaian tujuan kegiatan. Kegiatan pertama, diawali dengan pembekalan materi untuk keberlangsungan lomba, lalu dilanjutkan dengan pembagian kelompok, Dimana masing-masing kelompok terdiri dari 4 sampai 5 peserta. Setiap kelompok berkumpul menjadi satu untuk memulai ajang perlombaan Cerdas Cermat Anak TPA. Dalam perlombaan setiap kelompok diberi 3 butir soal. Ketika salah satu kelompok tidak dapat menjawab maka soal akan dilempar ke kelompok lain. Selanjutnya, terdapat sesi kuis cepat tepat, Dimana setiap kelompok berebutan untuk menjawab soal yang telah dibacakan oleh panitia. Dalam peraturan lomba, jika peserta menjawab benar maka akan diberi poin 100, namun jika salah maka poin akan dikurangi -50. Pada tahap akhir lomba, yakni pengumuman pemenang dan pembagian hadiah. Dilanjutkan, dengan tahap akhir acara adalah penutupan. Para mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan bertindak sebagai juri, pembaca soal, dan pemandu acara sehingga acara dapat berjalan dengan lancar. Diakhir acara, pengumuman menang disambut dengan antusias oleh peserta. Para juara mendapatkan bingkisan menarik sebagai apresiasi atas semangat dan kecerdasan mereka. Melalui kegiatan Cerdas Cermat Anak TPA ini, seluruh mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan yang ikut serta berharap dapat menanamkan semangat belajar sejak dini kepada anak-anak, sekaligus menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan penuh makna. Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa ilmu dapat disampaikan dengan cara yang kreatif tanpa menghilangkan esensi edukasinya, sekaligus menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengasah kepedulian sosial dan tanggung jawab keilmuan di tengah masyarakat. Diharapkan, program pengabdian masyarakat seperti ini dapat terus berlanjut dan menjadi agenda rutin yang memberikan manfaat berkelanjutan, baik bagi tumbuh kembang anak-anak TPA maupun bagi mahasiswa sebagai bagian dari pengalaman belajar di luar bangku perkuliahan. Semoga semangat berbagi ilmu ini terus menginspirasi generasi muda untuk senantiasa cerdas, kreatif, dan berakhlak mulia.

Kabar & Informasi, Kreativitas Mahasiswa, Pendidikan, SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought), Uncategorized

Mengintegrasikan Wahyu dan Akal, FPP UIM Yogyakarta Sukses Luncurkan Islamic Psychology and Education Mini Conference (INSIGHT)

Mengintegrasikan Wahyu dan Akal, FPP UIM Yogyakarta Sukses Gelar INSIGHT 2026 Bantul–Fakultas Psikologi dan Pendidikan (FPP) Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIMY) sukses menyelenggarakan Islamic Psychology and Education Mini Conference (INSIGHT) 2026 pada Rabu (24/6/2026). Mengusung tema “Islam dan Pengetahuan: Integrasi Wahyu dan Akal dalam Pengembangan Ilmu dan Pendidikan”, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun tradisi akademik dan budaya ilmiah di lingkungan FPP UIM Yogyakarta. INSIGHT 2026 merupakan forum ilmiah yang mewadahi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menulis karya ilmiah, serta mempresentasikan gagasan secara akademis. Kegiatan ini terselenggara melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan sebagai bentuk sinergi dalam menciptakan ekosistem akademik yang produktif. Ketua Panitia INSIGHT 2026, Rahma Kusuma Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog., menekankan bahwa INSIGHT diharapkan menjadi agenda akademik tahunan Fakultas Psikologi dan Pendidikan yang mampu mendorong lahirnya budaya meneliti, menulis, dan berdiskusi ilmiah di kalangan mahasiswa. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa Fakultas Psikologi dan Pendidikan UIMY serta dihadiri oleh berbagai tamu undangan, di antaranya Rektor Universitas Islam Mulia Yogyakarta Ir. Anwaruddin Hisyam, Ph.D., Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan Junianto, S.Pd., M.Pd., Drs. Mujidin, M.Si., Ph.D. selaku Keynote Lecture, serta para dosen di lingkungan Fakultas Psikologi dan Pendidikan. Acara berlangsung meriah dan penuh semangat. Dipandu oleh Muhammad Arga Hidayatullah dan Sani Nurmalia yang merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi sebagai Master of Ceremony (MC). Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Moh. Hazam Alfian dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dipandu oleh Ervia Sutarto dari Program Studi Psikologi. Suasana semakin semarak dan meriah dengan penampilan tari yang dibawakan oleh mahasiswa FPP angkatan 2025. Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Psikologi dan Pendidikan, Junianto, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi terselenggaranya INSIGHT 2026 dan mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi diri, memperluas wawasan, serta aktif berkontribusi dalam lingkungan akademik. Antusiasme peserta semakin meningkat ketika Rektor Universitas Islam Mulia Yogyakarta secara resmi meresmikan INSIGHT 2026 sebagai forum akademik baru di lingkungan FPP UIMY. Peresmian tersebut menjadi momentum penting yang menandai hadirnya INSIGHT sebagai ruang kolaborasi, inovasi, dan pengembangan wawasan akademik mahasiswa. Melalui forum ini, mahasiswa didorong untuk aktif menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Pada sesi presentasi, para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam memaparkan artikel ilmiah yang telah mereka susun. Mahasiswa secara bergantian mempresentasikan gagasan, hasil kajian, dan pemikiran inovatif di hadapan dosen serta peserta lainnya. Suasana diskusi akademik berlangsung aktif, tertib, dan inspiratif, mencerminkan semangat mahasiswa dalam mengembangkan tradisi ilmiah di lingkungan kampus. Sesi Keynote Lecture, Drs. Mujidin, M.Si., Ph.D. menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya INSIGHT 2026 sebagai langkah positif dalam membangun budaya akademik di Fakultas Psikologi dan Pendidikan UIMY. Menurutnya, kegiatan semacam ini tidak boleh berhenti sebagai agenda seremonial semata, melainkan harus menjadi gerakan yang terus menularkan ‘virus positif’ dalam semangat belajar, berkarya, dan berbagi manfaat melalui ilmu pengetahuan. Beliau juga menekankan pentingnya pengembangan ilmu pengetahuan yang berlandaskan perspektif Islam. Menurutnya, proses pengembangan ilmu tidak hanya bertumpu pada kemampuan akal manusia, tetapi juga perlu didasarkan pada nilai-nilai wahyu sebagai sumber petunjuk. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dapat memberikan kontribusi yang utuh bagi kemajuan akademik sekaligus pembentukan karakter yang berlandaskan ajaran Islam. Di penghujung acara, panitia mengumumkan penerima penghargaan Best Paper dan Best Presenter yang disampaikan oleh Andi Refan Setiawan (mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika). Penghargaan Best Paper diraih oleh Kelompok 7 yang beranggotakan Amalia Ulya, Adzkia Syamila, dan Musriyadi Kelrey, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024 dengan dosen pembimbing Isna Syamsiarief Hidayat, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Sementara itu, penghargaan Best Presenter diraih oleh Kelompok 3 yang beranggotakan Fatchi Abdulloh Ulwan, Indi Syahida, dan Anisah, mahasiswa Program Studi Psikologi angkatan 2024 dengan dosen pembimbing Rahma Kusuma Fitri, S.Psi., M.Psi., Psikolog. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kualitas karya ilmiah, kemampuan presentasi, serta kontribusi peserta dalam menciptakan suasana diskusi akademik yang produktif selama kegiatan berlangsung. Melalui penyelenggaraan INSIGHT 2026, Fakultas Psikologi dan Pendidikan UIM Yogyakarta menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan budaya ilmiah di lingkungan kampus. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi sarana yang mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menulis karya ilmiah, serta menyampaikan gagasan akademik secara konstruktif dan bertanggung jawab. Pewarta : Aji Pangestu (mahasiswa Program Studi Psikologi 2025) & Dinda Aura Latifah (Mahasiswa Program Studi PGSD 2025).

Uncategorized

MBG : Peninjauan Ulang dan Harapan Rekonstruksi Layanan SPPG

Rekonstruksi dapur sangat dinantikan masyarakat, babak baru monitoring dan evaluasi untuk transformasi Makan Bergizi Gratis I. Latar Belakang: Janji Besar di Tengah Krisis Gizi Jakarta: Ketika Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 6 Januari 2025, gemuruh optimisme terasa di mana-mana. Program ini disebut-sebut sebagai gebrakan terbesar dalam sejarah kebijakan gizi Indonesia sejak Orde Baru: menyasar 82,9 juta penerima manfaat dari anak PAUD hingga SMA, dari ibu hamil hingga balita dengan anggaran yang di tahap awal dipatok Rp71 triliun, kemudian dinaikkan menjadi Rp171 triliun (Indonesia.go.id, 2025). Angka itu bukan sekadar besar. Ia adalah pernyataan politik. Di balik ambisi tersebut, terdapat urgensi yang nyata. Indonesia hingga 2023 masih mencatat angka stunting 21,5 persen jauh di atas batas toleransi WHO sebesar 20 persen. Skor PISA Indonesia untuk kemampuan membaca, matematika, dan sains terus merosot dalam satu dekade terakhir, dari 2012 hingga 2022, dengan penurunan skor membaca paling tajam: dari 396 menjadi 383 (INDEF, 2024). Para perancang kebijakan meyakini bahwa perbaikan gizi anak sekolah adalah kunci utama untuk membalik tren ini. Program ini dikelola oleh Badan Gizi Nasional (BGN) yang didirikan pada Agustus 2024, dengan satuan pelaksana lapangan yang disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapur terpusat yang memproduksi dan mendistribusikan makanan ke sekolah-sekolah dalam radius tertentu. Pada awal 2025, hanya 190 SPPG yang beroperasi. Di akhir 2025, angka itu melonjak menjadi 19.188 unit (BGN, 2026) sebuah ekspansi yang mengagumkan sekaligus mengkhawatirkan. “Program ini dirancang untuk membangun generasi Indonesia Emas 2045. Tapi fondasi dapur yang rapuh tidak akan mampu menopang cita-cita sebesar itu.” — Diah S. Saminarsih, Founder & CEO CISDI, April 2025 II. Masalah di Lapangan: Ketika Piring Menjadi Sumber Bahaya Ekspansi yang terlalu cepat tanpa infrastruktur yang memadai selalu memiliki harga yang harus dibayar. Dalam kasus MBG, harganya dibayar oleh anak-anak yang dilarikan ke IGD setelah menyantap makanan yang mestinya menyehatkan mereka. Krisis keracunan massal. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat bahwa hingga 31 Oktober 2025, total korban keracunan akibat MBG mencapai 16.109 orang (JPPI, 2025). Angka ini bukan puncaknya sepanjang 2025, terdapat 177 Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan di 127 kabupaten/kota yang tersebar di 33 provinsi. Artinya, hampir tidak ada provinsi yang bebas dari insiden. Puncak krisis terjadi pada Agustus dan September 2025 (ANTARA, 2026). DATA KRISIS MBG (Kumulatif 2025) Total korban keracunan 16.109 orang (per 31 Okt 2025) KLB keracunan terdokumentasi 177 kejadian di 33 provinsi Kabupaten/kota terdampak 127 dari seluruh Indonesia SPPG tanpa sertifikasi SLHS 98% (11.394 dari 11.592 unit) SPPG bersertifikasi HACCP Hanya 26 unit (0,22%) SPPG dibekukan/suspend 1.738 unit per Mei 2026 Kasus Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menjadi contoh paling gamblang. Pada 26 September 2025, sebanyak 1.333 siswa dari Kecamatan Cipongkor dilaporkan keracunan massal setelah mengonsumsi MBG. Investigasi kemudian mengungkap bahwa bakteri patogen ditemukan dalam sampel makanan, sebuah kegagalan dasar dalam pengendalian mutu yang semestinya bisa dicegah dengan protokol sanitasi standar (Wantimpres RI, 2025). Krisis sertifikasi. The Conversation Indonesia (2025) melaporkan bahwa pada saat kasus-kasus keracunan itu terjadi, hanya 198 dari 11.592 unit SPPG yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), artinya 98 persen dapur beroperasi tanpa sertifikasi dasar. Lebih parah lagi, dari seluruh dapur yang beroperasi, hanya 26 unit yang memenuhi standar internasional HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points). BGN baru mewajibkan SLHS pada September 2025, sembilan bulan setelah ribuan korban berjatuhan. Beban produksi yang tidak manusiawi. Banyak dapur SPPG dipaksa memproduksi lebih dari 3.500 porsi per hari demi mengejar target ambisius pemerintah. Proses memasak kerap berlangsung hingga larut malam. Dalam kondisi kelelahan dan tekanan waktu, standar keamanan pangan menjadi korban pertama (The Conversation, 2025). Ketimpangan distribusi wilayah 3T. Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, beberapa sekolah di wilayah terpencil sama sekali belum terlayani karena kondisi jalan yang ekstrem. Simulasi pengantaran makanan menunjukkan risiko tinggi makanan rusak sebelum tiba di tangan penerima. “Kami sudah coba berbagai skema, termasuk lewat jalur laut. Tapi tetap terkendala biaya operasional dan jarak tempuh,” kata koordinator kecamatan setempat (Pemkab Banggai Kepulauan, 2026). Risiko korupsi sistemik. Transparency International Indonesia (TII) pada Juni 2025 merilis laporan “Risiko Korupsi di Balik Hidangan MBG” yang mengidentifikasi kerentanan serius: ketiadaan regulasi pelaksana yang memadai (program dijalankan hanya dengan petunjuk teknis internal hingga pertengahan 2025), berkelindannya konflik kepentingan dalam pengadaan bahan baku, serta minimnya mekanisme pengawasan eksternal yang independen (TII, 2025). “Anak-anak sekolah bukanlah objek percobaan kebijakan. Mereka adalah subjek yang punya hak atas kesehatan dan wajib dilindungi oleh konstitusi.” — Koordinator Nasional JPPI, September 2025 III. Analisis Masalah: Tiga Akar Kegagalan Deretan masalah di atas bukan sekadar kumpulan insiden teknis yang tidak saling berhubungan. Mereka adalah gejala dari tiga kegagalan struktural yang saling mengunci. Pertama, kegagalan desain kebijakan: terlalu ambisius, terlalu tergesa. CISDI (2025) dalam kajian komprehensifnya mencatat bahwa regulasi dan petunjuk teknis MBG sejak awal sangat terbatas dan tidak tersosialisasikan. Kementerian/Lembaga lain, pemerintah daerah, dan mitra strategis tidak memiliki akses memadai terhadap dokumen-dokumen operasional. Ekspansi dari 190 SPPG ke lebih dari 19.000 dalam waktu satu tahun adalah lompatan yang tidak diimbangi oleh penguatan kapasitas sumber daya manusia dan infrastruktur fisik dapur. Kedua, kegagalan pengawasan: sertifikasi sebagai formalitas belakangan. Fakta bahwa kewajiban SLHS baru diberlakukan sembilan bulan setelah program berjalan dan HACCP baru diwajibkan kemudian mengungkap filosofi kebijakan yang salah urutan: jalankan dulu, standardisasi kemudian. Dalam industri pangan massal mana pun di dunia, standar keamanan pangan adalah prasyarat operasi, bukan tambalan darurat. Anggota Komisi X DPR Nurhadi memperingatkan: “Sertifikat tidak otomatis menjamin peningkatan kualitas layanan apabila tidak dibarengi dengan sistem pengawasan yang konsisten dan pembinaan yang berkelanjutan” (Detik, 2025). Ketiga, kegagalan tata kelola: sentralisme yang mengabaikan heterogenitas wilayah. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan karakteristik geografis, sosial, dan ekonomi yang sangat beragam. Program MBG dirancang di Jakarta dengan logika seragam. Akibatnya, skema yang mungkin berhasil di kota besar Jawa menjadi tidak applicable di wilayah 3T. Pendekatan top-down yang kaku ini adalah antitesis dari prinsip kebijakan publik yang responsif terhadap konteks lokal. IV. Solusi Konkret Pemerintah dan Penanganan Cepat Di bawah tekanan publik yang menggelombang, pemerintah akhirnya bergerak. Presiden Prabowo menggelar rapat darurat setelah korban keracunan melampaui 5.000 anak, memberikan arahan teknis dan detail langsung kepada SPPG

Pendidikan

Serunya jadi Mahasiswa “Doktoral” katanya?

Banyak anggapan bahwa mahasiswa doktoral menjalani hari-hari yang penuh tekanan: riset tanpa henti, tumpukan jurnal, serta presentasi yang seolah tak pernah selesai. Benarkah demikian? Citra akademik memang sering tampak berat. Namun, di balik itu semua, ada sisi lain yang jarang terlihat. Menjadi mahasiswa doktoral ternyata bukan semata soal publikasi, indeksasi, atau mengejar kuartil jurnal tertentu. Ada proses belajar yang jauh lebih mendalam daripada sekadar capaian akademik. Sebelum melanjutkan, izinkan saya berpantun sejenak. Pagi-pagi membeli koran,Singgah sebentar membeli roti.Katanya doktoral penuh beban,Nyatanya seru menantang hati. “Cakep.” Begitulah jawaban yang hampir selalu muncul setiap kali pantun itu saya sampaikan. Sebagai mahasiswa doktoral, cara berpikir kami banyak dibentuk oleh ruang-ruang diskusi. Pada tahap ini, belajar bukan lagi sekadar menjawab pertanyaan dosen di kelas. Setiap pertemuan justru menjadi ruang berbagi pengalaman, gagasan, dan perspektif dari kampus asal masing-masing. Dari diskusi-diskusi itulah, sering lahir ide-ide baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Kami datang dari latar yang beragam. Ada yang menempuh studi melalui tugas belajar, ada yang izin belajar. Ada pula yang memperoleh beasiswa, dan ada juga yang membiayai studi secara mandiri. Perbedaan itu tidak menjadi jarak. Justru di situlah letak kekayaan pengalaman yang membuat proses belajar terasa lebih hidup. Keseruan lain yang selalu dinantikan adalah perkuliahan bersama guest lecturer dari luar negeri. Momen seperti ini terasa istimewa karena kami dapat berinteraksi langsung dengan para pakar di bidangnya. Dari mereka, kami tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga inspirasi untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Belajar memang tidak pernah mengenal usia. Belajar adalah jalan bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat. Kadang saya berpikir, jika kita hanya melihat lingkungan yang itu-itu saja, kita akan mudah merasa cukup. Padahal, rasa cukup yang terlalu cepat sering kali membuat kita berhenti berkembang. Kita merasa aman di zona nyaman, menjalani rutinitas, menyelesaikan Tri Dharma, lalu menganggap semuanya sudah selesai. Benarkah demikian? Mungkin benar, sebagian dari kami menempuh pendidikan doktoral karena tuntutan institusi. Mungkin juga karena sejak awal telah memilih jalan hidup sebagai dosen. Apa pun alasannya, pada akhirnya perjalanan ini menghadirkan ruang pembelajaran yang berharga bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, melainkan juga tentang cara memandang hidup. Karena itu, tetaplah bersemangat. Perjalanan masih panjang, dan di depan sana selalu ada tantangan baru yang menunggu untuk ditaklukkan. Di balik segala kesibukan dan tuntutan, menjadi mahasiswa doktoral tetaplah sebuah pengalaman yang patut dinikmati dengan perasaan bahagia. Pewarta : Nisrina Ajrina Nur Hidayah (Dosen PGSD Universitas Islam Mulia Yogyakarta)

Pendidikan

SEUTAS KAIN, SEJUTA MAKNA DI TANGAN MAHASISWA​

SEUTAS KAIN, SEJUTA MAKNA DI TANGAN MAHASISWA Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, mahasiswa kerap dituntut untuk berlari tanpa jeda; mengejar tugas, nilai, dan ambisi yang tak pernah benar-benar selesai. Dunia hari ini seakan memuja kecepatan, seolah siapa yang paling cepat, dialah yang paling hebat. Padahal, tidak semua hal berharga lahir dari tergesa-gesa. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) semester 1 justru menemukan pengalaman berbeda melalui kegiatan Project STEAM membatik yang dilaksanakan pada Rabu, 26 November 2025, di bawah bimbingan dosen pengampu mata kuliah, Nisrina Ajrina, M.Pd. Momen itu hadir dalam sebuah Project STEAM–membatik yang sederhana, namun bagi kami momen itu meninggalkan kesan yang begitu dalam. Membatik bukan sekedar aktivitas seni, melainkan perjalanan rasa. Setiap titik yang ditorehkan dengan canting bukan hanya membentuk motif, tetapi juga melatih kesabaran. Dari proses menggambar pola, mencanting, mewarnai, hingga melorodkan malam, semuanya membutuhkan ketelatenan dan ketenangan yang nyaris bertolak belakang dengan ritme kehidupan modern. Bagi kami, membatik menjadi ruang jeda, tempat untuk “melambat” sejenak dari hiruk pikuk akademik. Di sana, waktu terasa lebih panjang, pikiran menjadi lebih jernih, dan tangan bekerja selaras dengan hati. Tidak ada tuntutan untuk cepat selesai, hanya ada proses yang harus dinikmati.   Selain sebagai sarana pengembangan kreativitas. Kegiatan membatik juga memperkenalkan mahasiswa pada nilai budaya yang terkandung dalam batik sebagai salah satu warisan khas Indonesia. Setiap motif memiliki makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui proses ini, mahasiswa tidak hanya menghasilkan karya visual, tetapi juga ikut memahami pentingnya menjaga identitas budaya bangsa. Project ini juga menjadi wujud penerapan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dalam pembelajaran. Mahasiswa mempelajari bagaimana lilin dipanaskan pada suhu tertentu sebagai bagian dari aspek sains, menggunakan alat dengan teknik yang tepat sebagai unsur rekayasa. Lalu, menyusun pola dengan perhitungan tertentu sebagai penerapan matematika. Selanjutnya, mengekspresikan keindahan melalui motif sebagai bagian dari seni. Lebih dari sekadar tugas kuliah, pengalaman membatik memberikan pelajaran penting tentang makna proses. Tidak semua goresan menghasilkan bentuk sempurna, tidak semua warna sesuai harapan. Namun justru dari ketidaksempurnaan itulah mahasiswa belajar bahwa proses belajar tidak selalu tentang hasil akhir, melainkan tentang bagaimana seseorang memahami setiap tahap yang dilalui. Salah satu mahasiswa peserta kegiatan mengungkapkan bahwa melalui membatik, mereka diajak untuk lebih menghargai setiap proses kecil. “melalui kegiatan membatik, kami seperti diajak untuk “melambat”, menghargai setiap titik lilin yang ditorehkan, setiap motif yang perlahan terbentuk dan setiap kesalahan kecil justru menjadi bagian dari keindahan”. Pada akhirnya, selembar kain yang awalnya kosong berubah menjadi karya penuh makna. Di tangan mahasiswa, kain tersebut bukan hanya hasil praktik pembelajaran, melainkan simbol perjalanan belajar tentang kesabaran, ketekunan, kreativitas, dan penghargaan terhadap proses. Pewarta : Nisrina Ajrina Nur Hidayah (Dosen PGSD Universitas Islam Mulia Yogyakarta) Dinda Aura Latifah (Mahasiswa PGSD Universitas Islam Mulia Yogyakarta)

Scroll to Top