Author name: Literasi UIM Yogyakarta

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #2 : Lompatan Quantum dari UIM ke UGM

Kini giliran mental yang dibahas dalam kisah padatku, sekaligus memperjelas alasan mengapa aku menyebut diriku sebagai mahasiswi beranomali amfibi. Sedikit klarifikasi, tolong jangan bayangkan amfibi dengan berbentuk katak. Ia bukan satu-satunya hewan amfibi di dunia ini. Bayangkan saja salamander, bentuknya jauh lebih imut ketimbang amit. Senyum tulus dari salamander tidak menyimpan makna tersembunyi layaknya katak yang seakan selalu memberi ancang-ancang untuk lompat.       Berbicara tentang lompat, apa kalian tau tentang lompatan kuantum? Aku memang anak IPS, namun ibuku seorang lulusan kedokteran, teori fisika dasar seperti ini lazim kudengar. Lompatan kuantum adalah transisi mendadak dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya dalam sistem kuantum. Contohnya -yang tentu saja kukutip dari internet karena aku tidak terlalu mengerti- seperti elektron dalam atom dapat berpindah dari satu orbit (tingkat energi) ke orbit lain dengan menyerap atau memancarkan foton.      Dalam konteks umum, lompatan kuantum dapat dianalogikan sebagai suatu perubahan ekstrim yang tak terduga. Kembali pada pembahasan utama, mentalku. Sebelumnya sempat kuangkat isu krisis kepribadianku dari ekstrovert menuju introvert sekaligus sebabnya : otak kecapean. Trailer kisah kali ini akan mengungkap lompatan kuantum yang melambungkan diriku pada fase kehidupan kuliah yang jauh melampui prediksiku. Kekeliruan dalam menaruh ekspektasi ini berujung menertawakan diri. Hahaha, mau sebanyak apa sih ini kejutan resiko setelah menginjakkan kaki di kampus top tri? ***      Peralihan dari kampus islam menuju kampus negri tidak dapat diremehkan. Dari segi pakaian, pergaulan, dan budaya bersenang-senang. Mengingat jurusanku berunsur Eropa, lompatan kuantum itu benar-benar aku rasakan.      Style berpakaianku sering dianggap terlalu tua, hanya karena menggunakan rok. Itulah mengapa akhirnya banyak gamis telah kupulangkan karena rasanya kurang leluasa dipakai untuk kelas ‘sastra prancis’. Format duduk pun tidak memandang gender, sejak hari pertama aku langsung harus duduk bersebelahan dengan laki-laki. Sepele memang, namun yang namanya perubahan tetap butuh proses adaptasi. Dan ini belum seberapa.      Suatu lembaga yang bekerja sama dengan jurusanku sering mengadakan event budaya yang memperkenalkan gaya Eropa, termasuk ‘minum’. Saat itu acaranya bernama testing wine, dimana siapa pun mahasiswa yang mendaftar akan diberi akses minum anggur. Yap, difasilitasi. Mayoritas teman angkatanku yang non-muslim mengikutinya, termasuk 2 anomali yang ber-ktp muslim.      Selain itu, fakultas ilmu budaya sendiri sering menjadi tuan rumah sebuah festival. Satu di antaranya yang kuikuti adalah Festival Kebudayaan Arab. Sisanya, entah kenapa bagiku makruh bila diikuti. Misal, seperti Festival Halloween. Festival berbudaya barat tersebut selalu mendapat desas desus berbunyi “paling pas puncak acara pada mab*k-mab*kan tuh,” Lagipula barat memang memiliki budaya minum.      Kurasa cukup sampai disini, khawatir aku malah mengekspos lebih banyak sisi kelam kampus bergengsi. Saatnya mengumbar sisi keren kampus, yang biasa dilihat pihak luar, tetapi bagi pihak internal biasa dirasakan sebagai tekanan.         Tidak sulit mencari apa saja penghargaan yang didapat oleh UGM. Sebagaimana menemukan keindahan pada kupu-kupu, sangat mudah. Hanya dengan melihat, keindahan akan terpancar dengan sendirinya. Tanpa sadar kita melupakan adanya proses berat yang perlu dilalui ulat sebelum itu. Sama halnya dengan mahasiswa UGM disini. Kampus yang telah harum dikenal seantero Yogyakarta, memiliki kisah juang setiap mahasiswa yang tidak boleh dihiraukan. Tentu saja aku salah satunya. Bukan haus validasi, hanya ingin berbagi peluh selama menjalani hari-hari pertama diajar oleh para dosen ber-‘darah’ UGM.      Entah sudah berapa lama pengalaman mengajar yang dimiliki dosen-dosenku disana. Mereka kelewat professional untuk mengajar para mahsiswa polos yang tidak tahu menahu tentang literatur Prancis sebelumnya. Selama ini buku yang kubaca hanyalah karya-karya domestik dari Ahmad Tohari, Dee Lestari, Leila S Chudori, Tere Liye, Umar Kayyam, Puthut Ea, Agus Mulyadi, dan penulis Indonesia lainnya. Asing sekali kudengar nama Albert Camus, Francois Sagan, Simone de Beauvoir dan kawan-kawan.      Terlebih bahasanya. Ayolah, bahasa Inggris saja aku nyaris tak berhasil sampai di tingkat intermediate, mana ada waktu aku berpindah ke bahasa lain. Ini semua akhirnya harus kujalani semenjak pengumuman hasil SNBT menyatakan aku diterima untuk jurusan ini, jurusan pilihan keduaku setelah sastra inggris.      Beberapa teman seangkatanku sudah lebih dulu mencuri start dari SMA karena mereka jurusan bahasa. Ilmu-ilmu dasar telah mereka kuasai, begitupula dengan pelafalan. Modal mereka berbeda jauh dariku yang hanya mengandalkan ‘duolingo’. Namun berkat ajaran dosen yang luar biasa, IPK-ku nyaris menyamai mereka semua.      Izinkan kuperinci bagian ‘luar biasa’ itu. Status mahasiswi amfibi sedikit mengekang jadwal belajar mandiriku. Sepulang dari UGM, aku masih perlu membaca materi kuliah dari UIM berikut mengerjakan tugas-tugas individunya. Di akhir pekan, aku merasa perlu balas dendam dengan ‘menggantungkan’ semua tas kuliahku. Aku tidak serajin itu mengisi akhir pekan dengan belajar kecuali ada tugas. Maka, satu-satunya masa aku dapat memaksimalkan belajar bahasa Prancis adalah ketika aku di kelas, saat memperhatikan dosen menjelaskan segala hal dengan bahasa Prancis.      Yap, kalian tidak salah baca, dengan bahasa Prancis. Aku sendiri heran, kok bisa ya aku faham? Perasaan baru setengah semester belajar. Memang ternyata kuncinya terletak pada pengajar. Seluruh teori pedagogi diterapkan secara menyeluruh dan tertata, bermula dari pembagian kelas menjadi 2 bagian agar memudahkan pemantauan. Dampaknya, setiap dosen akan mengajarkan 2 materi berulang setiap harinya demi memastikan setiap mahasiswa betul-betul paham.       Aku sangat menyesal sempat meragukan prinsip mengajar dosen di kampus negri terkenal ini. Kukira dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak akan membuat mereka tidak memperhatikan kemampuan setiap mahasiswanya. Ternyata, sekali ada mahasiswa nampak tertinggal, dia akan langsung dipanggil ke ruang dosen untuk dinasehati. Kebetulan orang itu teman yang sering duduk di sebelahku. Kami biasa duduk di baris belakang sejak awal pertama bertemu, karena sialnya kami sama-sama terlambat saat itu. Sungguh pertemuan memalukan memang.      Berbeda denganku, dia jarang memperhatikan dosen. Lebih sering memainkan HP atau tertidur. Dosen sering menyuruhku untuk membangunkannya. Singkat cerita saat Ia dipanggil, ternyata namaku ikut terseret. Dia memberitahuku bahwa dosen bimbingannya menyuruh kami untuk tidak lagi duduk di belakang. Kukira hanya peringatan ringan, paling juga lupa di pertemuan berikutnya. Ternyata pekan depan tepat saat dosen itu baru memasuki ruangan, beliau langsung melirikku dan temanku yang masih duduk di belakang lalu berkata dengan tatapan tajam dan nada tegas,  “Asseyez-vous devant vous deux!” (Kalian berdua, duduk depan) Itu kali terakhir aku meragukan ketegasan dan mode serius

TAZKIYA UIM

Sirkel Jiwa Pendidik

  Ada hadist yang berbunyi : Al arwaahu junuudun mujannadah famaa ta’aarafa minhaa intalafa. Memiliki arti “Ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu.” [HR. Muslim] Penafsiran hadist tersebut banyak mengarah pada proses pembentukan lingkaran sosial, atau yang akhir-akhir ini lebih lazim disebut ‘sirkel’. Hadist tersebut memaparkan bahwa sirkel seseorang akan terbentuk ketika memiliki ketertarikan yang sama pada sesuatu. Sebagai perincian kaidah tersebut, banyak teori ilmiah yang membahasnya dan membahasakan kondisi ini dengan sebutan ‘clique’. Sedikit disclaimer, artikel ini tidak akan menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut, tetapi fokus pada kisah kehidupan salah satu tokoh UIM yang dapat menjadi bukti nyata berlakunya kaidah pembentukan sirkel tersebut yaitu Drs. H. Nur Hidayat Pamungkas. M.Pd. Memiliki latar belakang keluarga pendidik, Pak Nur Hidayat terus dipertemukan dengan lingkungan yang menyongsong pendidikan bangsa. Prinsip ‘berperan di dunia pendidikan tidak akan pernah rugi’ yang dipegang, mengantarkan beliau pada 3 kampus di Yogyakarta yaitu STIKES, UAD, dan AKBID MMY. Tidak hanya itu, Pak Nur pun aktif mengunjungi banyak pesantren dan masjid untuk menyebarkan ilmu. Tak tertinggal, sebagai ilmu spesifik Pak Nur juga menjadi Pembimbing haji dan umroh di Hasuna Tour. Jiwa pendidik mendorong beliau untuk memberikan jalan kepada anak-anak yatim dan dhu’afa untuk dapat melanjutkan pendidikan. Maka posisi beliau sebagai Direktur Lembaga Pendamping dan Pengembangan (LP2U) Ummu Salamah mengambil peran tersebut. Beliau terus mengupayakan agar kesempatan menempuh pendidikan dapat dirasakan siapapun. Selama menjadi staf pengajar di kampus STIKES dan UAD, beliau kerap diajak diskusi pendidikan. Berbagai wawasan terkait perguruan tinggi akhirnya banyak didapat dari sesi-sesi diskusi tersebut. Pak Nur melanjutkan perjalanan ‘panggilan hati’-nya dengan merancang konsep universitas islami. Kaidah sirkel kembali bekerja, Pak Nur dipertemukan dengan Konsorsium Yayasan Mulia saat sedang bekerja di AKBID MMY (Akademi Bidan Mulia Madani Yogyakarta). Berbagai rapat diadakan, penyamaan konsep dilaksanakan, berdirilah ISTEK Mulia (Institut Sains & Teknologi Kesehatan) sebagai kampus adik dari AKBID MMY pada tahun 2022. Lengkap dengan banyaknya tawaran beasiswa seperti harapan Pak Nur sejak lama. Pada saat itu Pak Nur dipercayakan menjadi wakil rektor di ISTEK sekaligus membimbing AKBID MMY selama jalan berdampingan. Tak lama setelah itu, kini kedua kampus tersebut telah resmi menjadi universitas dengan mengusung nama UIM Yogyakarta (Universitas Islam Mulia Yogyakarta). Kurun waktu yang cukup cepat ini pun lagi-lagi adalah efek sirkel para pendidik yang memiliki visi sama sehingga saling bekerja sama dalam menghasilkan lembaga pendidikan berkualitas untuk para pemuda calon pemimpin bangsa. Penulis :  Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kampus Kontemporer Anti-Sekuler : Sinergi Ilmu Ulum & Islam di UIM

“Kampus Kontemporer Anti-Sekuler” adalah istilah yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara salah satu petinggi UIM, Pak Nur Hidayat Pamungkas. Satu tahun menjabat sebagai wakil rektor di ISTEK Mulia cukup memberikan sudut pandang universal mengenai akar berdirinya universitas islam ini. Beliau mengungkap “Islam tidak pernah mengekang ilmu pada bidang-bidang tertentu. Ilmu agama yang terpisahkan dari ilmu lain adalah pemikiran teramat kuno. UIM sama sekali tidak mengadopsi pemikiran tersebut,” Lantas apa yang dimaksud dengan Universitas Islam menurut pandangan Pak Nur? Beliau menjelaskan panjang lebar terkait hakikat ilmu agama yang sebenarnya bukan terletak pada spesifikasinya seperti fiqh, hadist, atau tafsir. Melainkan bagaimana kita dapat mengombinasikan ketiga konsep dasar tersebut ke dalam bidang ilmu yang sedang ditekuni. Bagi Mahasiswa UIM saat ini berarti masuk dalam bidang teknologi, kesehatan, dan perpustakaan. “…agar setiap mahasiswa memiliki pola pikir yang luas terkait tujuan pembelajarannya di kampus ini, seperti adminkes misal, jangan sampai berfikir dangkal hanya menjadi bagian administrasi di rumah sakit, tetapi harus juga memiliki tujuan berperan dalam penertiban masyarakat. Memunculkan pola pikir ini berawal dari memadukan ilmu-ilmu dari kampus dengan kepribadian islami. Kombinasi keduanya akan menghasilkan prinsip ‘profesiku adalah jalan dakwahku’ di setiap individu,” Upaya pemaduan keduanya dapat terlihat dari adanya kurikulum BPI (Bina Pribadi Islam) dan SII (Studi Islam Intregatif) di setiap semester. Dua mata kuliah ini adalah tali penghubung yang menjadi kunci utama tercapainya kampus kontemporer sebagai pencetak pribadi professional berdaya guna, lengkap dengan pribadi islami. Setiap pernyataan beliau sangat sejalan dengan visi UIM yang berbunyi Menjadi Perguruan Tinggi berasaskan pada nilai-nilai islam holistik, rahmatan lil’alamin dan secara konsisten memberikan kontribusi kepada perkembangan kemajuan dan peradaban kemanusiaan serta siap menjadi Centre of Excellent (Pusat Unggulan). “…contoh lain pada materi kebidanan akan bersinggungan dengan ilmu fiqh terkait kenajisan darah, korelasi-korelasi sejenis itu akan mengasah cara berfikir mahasiswa. Sehingga hasil dari kampus ini nanti bukan sekedar bidan biasa,” tambah Pak Nur.     Dapat disimpulkan, UIM akan menjadi kampus yang berperan dalam penggebrakkan tembok sekularisme yang telah tebal menghalangi kemajuan peradaban islam di Indonesia. Bahkan secara logika, bukankah aneh memisahkan suatu ilmu dari sumbernya? Sebagai bangsa bermayoritas islam, kita semua sepakat pedoman setiap aspek hidup kita adalah Al-Qur’an bukan?   Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

RuMah (Rubrik Mahasiswa ), Uncategorized

Guru Ngaji di Tengah Kota : Cerita Mahasiswa UIM Mengajar TPA.

Halo teman-teman Muda Mulia dimanapun kalian berada, semoga kita selalu senantiasa diberikan perlindungan oleh Allah SWT. Dan jangan lupa sholawat berbingkaikan salam semoga selalu tercurahkan kepada baginda kita nabiyullah Muhammad SAW, beserta keluarga,sahabat, serta pengikutnya sampai akhir zaman. Nah teman-teman perkenalkan nama saya Habib Muhammad Rizieq seorang mahasiswa di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dan juga sekaligus seorang guru ngaji TPA di sebuah masjid yang bernama masjid Al-Furqon. Masjid Al-Furqon ada di perum Jati Sawit asri, balecatur, Gamping, Sleman, sebuah masjid yang bisa dibilang sangat Makmur dan asri dengan halamannya yang cukup luas untuk sebuah masjid yang berada di tengah kota. Adapun kegiatan rutinan yang ada di masjid Al-Furqon sangat beragam mulai dari kegiatan harian seperti sholat berjamaah, kemudian ada kegiatan mingguan seperti pengajian bapak-bapak dan ibu-ibu yang alhamdulillah rutin dilakukan setiap hari jumat, sampai acara bulanan dan tahunan seperti pengajian akbar ahad kliwon yang diadakan setiap ahad kliwon. Dan yang saya sangat kagumi dari masyrakat disekitar masjid adalah rasa kekeluargaannya yang masih sangat kental dan terjaga dari dulu, sebuah fenomena yang sangat jarang kita temukan di perkotaan di zaman sekarang. Sebagai seorang muslim, tentu saja perintah yang pertama kali Allah perintahkan bukanlah sholat, zakat, puasa, dll. Melainkan kita dituntut untuk belajar, sebagaimana firman Allah di surah Al-Alaq ayat pertama yang artinya “bacalah”. Dari ayat ini Allah memerintahkan kita untuk menuntut ilmu, baik dia orang yang muda sampai tua, miskin atau kaya kita semua diperintahkan untuk menuntut ilmu. Dan ilmu yang paling utama adalah ilmu akhirat yang akan menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya pun tergerak untuk menjadi bagian untuk mencerdaskan bangsa dengan menjadi seorang guru di sebuah TPA masjid. Alhamdulillah kesempatan menjadi seorang guru tiba ketika Ramadhan tahun 2024 lalu, dimana kami mendapat kesempatan untuk mengajar TPA selama bulan Ramadhan bersama 4 orang teman yang lain. Berbagai bidang ilmu kami ajarkan mulai dari mengaji, hafalan doa sholat dan harian, hafalan surah-surah pendek, dll. Adapun untuk santrinya ada beragam mulai dari yang masih TK sampai yang paling besar tingkat SMP, berbagai watak dan sifat dari anak-anak yang berbeda tentunya membuat kami belajar bagaimana memahami dan mengatasi sifat mereka yang menurut saya masih kurang dalam berhadapan kepada seorang guru, sehingga menjadi focus kami untuk membina adab dan akhlak para santri. Setelah Ramadhan 2024, saya mengira proses mengajar sudah selesai, ternyata qadarullah saya mendapat panggilan lagi untuk terus mengajar sampai sekarang. Tentu saja ini sebuah kesempatan emas bagi saya untuk membuat ladang pahala, selain ilmu yang saya bagikan kepada ade-ade santri bermanfaat bagi masa depan mereka, ini juga menguntungkan bagi saya karena ini bisa menjadi sebuah ladang pahala jariyah yang sangat dibutuhkan setiap orang untuk menjadi bekal kita di akhirat kelak. Oleh karena itu, saya mengajak kepada semua teman-teman maupun pembaca, untuk bisa menjadi orang yang bermanfaat mengajarkan ilmu yang dimiliki walau ilmu yang kita miliki masih sedikit. Kita tidak tahu hal sepele yang kita ajarkan kepada seseorang bisa saja berdampak besar bagi kehidupan mereka kelak di masa depan, maka dari itu teman-teman terus bersemangatlah menuntut ilmu dan jangan lupa untuk di sharing yaa, agar ilmu yang kita dapatkan menjadi bermanfaat dan menjadi ladang pahala jariyah bagi kita. Nah teman-teman pembaca yang saya hormati, itu dia sedikit cerita dan nasihat dari saya sebagai seorang mahasiswa UIM sekaligus seorang guru TPA. Walaupun yang kami ajarkan hanya sedikit, tetapi ini menjadi sebuah pengalaman yang penuh dengan pelajaran hidup dan  tidak akan saya lupakan sampai tua nanti. *** Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca artikel ini (btw ini artikel yang saya buat pertama kali, jadi mohon maaf kalau masih banyak kurangnya). Sampai jumpa lagi di lain kesempatan. Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Penulis : Habieb Muhammad Rizieq Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : habib_mhmmd07

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Mahasiswi Amphibi #1

Puncak keinginan manusia menurut Abraham Maslow adalah self-actualization, yaitu posisi dimana kita berada pada potensi terbaik dan paling kita dambakan. ‘Panggilan hidup’, lebih gampangnya. Jauh sebelum teori hierarki tersebut ditemukan, Abraham yang kita junjung sebagai bapak para nabi telah lebih dahulu memberikan contoh nyata perjalanannya mencari tuhan dalam kitab ummat ini. Dari kisah pencarian tersebut, tersirat sebuah metode pengenalan identitas diri. Aspek akal bermain kuat, menghadirkan beribu pertanyaan kenapa, siapa, bagaimana, untuk apa, yang menghantui masa mudanya. Tuhan bukanlah satu-satunya yang Ia cari, melainkan juga alasan dan tujuan. Apa yang semestinya dilakukan suatu makhluk di dunia ini. Sebagaimana titik mula perjalanan Ibrahim diabadikan pada kitabullah ayat 74-79 surat Al-An’am, perjalanan para penerusnya juga akan abadi pada kitab yang setia disimpan para malaikat. Memasuki usia remaja, disitulah langkah pertama kita tercatat. Maka di tulisan kali ini, izinkan saya membagikan sedikit teaser perjalanan mencari jati diri melalui kisah pribadi sebagai mahasiswa di 2 kampus Yogyakarta. … Awal Perjalanan dan Dilema Diperlukan pemikiran sedalam itu sebelum akhirnya aku memutuskan kuliah di 2 kampus sekaligus dalam satu waktu. Lebih tepatnya, bertahan. Sejak mula siapa sih manusia waras yang mau sukarela merepotkan diri sendiri sampai menjadikan kesehatan fisik dan mental sebagai jaminan? Baiklah, saatnya memberi gambaran singkat. Sejak hasil SNBP tahun 2024 lalu diumumkan, aku sadar ini akan membawa banyak perubahan terhadap statusku sebagai mahasiswi ‘normal’ di UIM. Namun tepatnya akan seperti apa bentuk abnormal tersebut? Pertanyaan ini langsung terjawab setelah aku berdiskusi dengan kaprodi. “Asal berkomitmen aja Mbak, kita disini bisa fleksibel selagi Mbak bisa bertanggung jawab mengerjakan tugas dan mengikuti ujian secara jujur,” begitu simpul beliau. Walaupun sempat tak terima karena tidak ada kontrak apapun, aku merasa tidak masalah selagi beliau telah mengetahui fakta bahwa aku akan kuliah di UGM. Siapa sangka inilah awal mula mentalku teruji. Kaprodi sudah berkali-kali meyakinkanku agar menjalani kuliah seperti biasa saja. Menghadiri kelas ketika bisa, mengerjakan setiap tugas yang diberikan, membaca materi dosen secara mandiri. Namun tidak kurang dari 3 dosen mempertanyakan statusku sebagai mahasiswa disana. Tak terkecuali teman-teman angkatan. Memang, bukan masalah besar. Tapi cukup membuatku terganggu hingga berujung mempertanyakan kembali perihal izinku kuliah di 2 tempat sekaligus. Aku beneran boleh kan kuliah dobel disini?! Hal yang lebih menyebalkan datang ketika semua itu terjadi seakan mempertanyakan loyalitasku dengan UIM. Ingin sekali rasanya aku berteriak, KURANG EFFORT APA GUE NYEMPETIN DATENG SIANG TERIK KE KAMPUS WALAUPUN UDAH KELAS DARI JAM 7 PAGI?! sambil memperlihatkan layar HP yang menampilkan jarak antara UIM ke UGM di google maps ; 13,3 kilometer atau setara dengan hampir setengah jam waktu tempuh. Ironis memang, aku emosi terhadap konsekuensi yang kupilih secara pribadi ini. Namun rasanya, hal tersebut tak akan terjadi apabila tidak ada pertanyaan berulang mengenai statusku di UIM. Ternyata ini hanyalah satu dari sekian banyak tantangan yang tidak terprediksi. Secara fisik, bisa kalian tebak. Tentu saja berawal dari faktor jarak antara kedua kampus yang bukan lazim ditempuh setiap hari dalam rentang waktu yang sebentar. Normalnya setiap hari Senin, Rabu, dan Jum’at aku akan berangkat ke kampus dari UGM jam 1 kurang 20 setelah menamatkan kelas 3 matkul hari itu. Sesampainya di UIM, aku akan mengikuti 1 atau 2 kelas yang berakhir paling lama jam setengah 4 sore. Pada Rabu dan Jum’at aku bisa langsung pulang ke kos, namun tidak pada hari Senin. Aku perlu kembali lagi ke UGM untuk mengikuti sesi tutor bahasa yang dimulai pukul 15.15. Jarak 13,3 kilometer kembali kutempuh. Bila kalian berfikir masuk angin adalah dampak yang kukhawatirkan, itu salah. Tubuhku sama sekali bukan tipe yang gampang ditembus angin jalan dan dirusak polusi kendaraan maupun terik matahari. Saat-saat mengendarai motor justru ‘istirahat’ bagiku. Mengganti gigi setiap belokan, menyalip  di antara kesempitan, menekan gas lebih kencang saat melihat peluang luas, melakukan peregangan selagi menunggu lampu merah, semua itu kusambil dengan mendengarkan lagu kencang. Setiap sampai di ringroad, aku akan meneriakkan lirik yang sedang kudengar. Semua itu sangat melepas stress.    Bukan pula terlambat makan, karena sejak kecil ibuku berkali-kali mengingatkan bahwa aku memiliki lambung lemah yang perlu dijaga. Lambungku sudah terlalu baik menoleransi hobi makan pedas, maka aku pun berusaha memenuhi keinginannya setiap peringatan lapar datang. Paling ekstrim terjadi saat sedang mengendarai motor, untungnya aku selalu sedia bekal praktis seperti roti, susu, atau yogurt. Aku akan memakannya dengan memanfaatkan 7 lampu merah yang kulewati dalam perjalanan. Sehingga rasa kenyang menyambut bersamaan dengan setibanya aku di UIM. Tekanan lahir yang kudapat adalah ketika aku merasa bersalah tidak memberikan otakku istirahat. Bagaimanapun, otak termasuk dalam anggota tubuh bukan? Inilah ujian fisik yang kumaksud. Rasa lelah yang dihasilkannya berefek pada kerusakan identitasku sebagai extrovert, aku tak lagi semangat berinteraksi pada siapa pun. Terlebih di UGM, karena disanalah kandang orang-orang yang baru kukenal berkumpul. Tidak ada energi tersisa untuk basa basi, apalagi bersosialisasi.             Permasalahan itu tak begitu serius mengingat kepribadian introvert bukanlah suatu kesalahan. Aku mengambil sisi baiknya, dimana aku lebih memiliki banyak waktu untuk melakukan hobiku sejak lama, membaca. Setiap waktu istirahat, di UGM maupun UIM, aku akan buru-buru memasang earphone di telinga dan membuka buku yang kubawa untuk memblokir interaksi dari orang sekitar. “Di atas pala lu udah kayak ada tulisan do not disturb, dah pokoknya” ungkap salah seorang saksi mata (temanku di UGM). Aku beruntung urusan jadwal ujian keduanya tidak bertabrakan. Aku meragukan kapasitas otakku bila harus menghadapi hal tersebut. Agaknya burn out sudah menjadi suatu kepastian. Di sisi lain hal ini memangkas banyak waktu liburanku. Ketika UGM telah usai menjalani UAS, harusnya libur semester panjang yang menyambut. Namun bagiku tidak, aku masih harus mengikuti KBM di UIM karena masih ada 3 pekan pertemuan sebelum UAS benar-benar dijalankan. Selepas UAS, hanya tersisa 1 pekan kuota liburanku dari UGM. Seringnya pula aku kehabisan tiket kereta. Ujung-ujungnya Cosplay jadi Bang Thoyyib, jarang pulang.             Perbedaan jadwal ujian itu pula yang melatihku untuk tidak stuck di satu agenda. Tidak ada waktu untuk mengenang soal-soal UTS dari UGM yang kubimbangi. Aku harus langsung menuju UIM melanjutkan kelas selagi teman-teman kelasku membahas jawaban mereka yang beragam pada soal-soal menjebak. Berlaku sebaliknya, saat menjalankan rutinitas KBM biasa di UGM, aku tidak bisa berleha-leha manja di

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Sehari Jadi Mahasiswi Asrama Universitas Islam Mulia Yogyakarta

Hai MudaMulia!Kenalin, aku Syefi Amanda Zahrani, mahasiswi Psikologi semester 2 angkatan 2024 di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Mau tahu keseharian aku sebagai anak asrama sekaligus pejuang kampus? Yuk, simak cerita lengkapnya!  Bangun Pagi, Sambut Hari dengan Semangat Hari-hariku dimulai dari momen sunyi penuh syahdu. Sekitar jam 03.30 pagi, aku dan teman-teman asrama udah bangun buat shalat tahajud bareng. Kadang habis tahajud, sambil nunggu adzan subuh, aku pilih antara lanjut nugas, ngaji, atau… tidur lagi bentar (relate banget kan?hehehe) Pas adzan subuh jam 04.30 berkumandang, kami shalat berjamaah dan lanjut dzikir pagi. Setelah itu, kegiatan pagi jalan terus: piket asrama, nyetrika baju, sarapan, dan siap-siap mandi. Kuliah? Gaspol Terus! Jam 08.00, aku jalan ke kampus — literally cuma tinggal jalan kaki karena asrama ada di belakang kampus (enak banget kan?). Di kelas, aku ketemu teman-teman lain yang tinggal di luar asrama. Belajar bareng, diskusi seru, sampai ketawa-ketawa kecil nunggu dosen dateng. Pas adzan dzuhur, kami break buat shalat berjamaah di musholla. Habis itu, lanjut istirahat siang tipis-tipis sebelum masuk kelas lagi jam 13.00. Walaupun siang hari itu waktu ngantuk-ngantuknya, aku tetap semangat. Soalnya setiap mata kuliah psikologi tuh selalu seru, banyak bahas tentang sisi unik manusia. Waktu terus jalan sampai akhirnya adzan ashar jam 15.30, tanda kelas beres dan siap lanjut ke aktivitas sore. Sore di Asrama: Recharge Batin dan Hati Sampai asrama, aku langsung shalat ashar berjamaah. Sore hari di asrama itu waktunya kajian rutin bareng ustadzah. Sebelum kajian mulai jam 16.00, biasanya aku santai dulu, rebahan tipis-tipis sambil ngilangin capek seharian. Abis kajian selesai jam 17.00, waktunya bebas: ada yang mandi, makan, ngobrol, bahkan ada juga yang sore-sore jalan-jalan santai. Pas adzan Maghrib, semua rutinitas berhenti. Kami shalat berjamaah, dzikir sore, dan lanjut murojaah hafalan Al-Qur’an — momen recharge ruhani yang bikin hati adem. Malam: Waktunya Winding Down Saat adzan Isya’ berkumandang, kami lagi-lagi shalat berjamaah. Setelah itu, kegiatan bebas lagi: nugas, ngemil bareng, cerita-cerita, atau sekadar me-time di kamar. Biasanya, jam 22.00 aku udah mulai persiapan buat tidur. Setelah hari yang super padat, kasur tuh rasanya kayak surga dunia! Nah MudaMulia, begitulah sepotong cerita tentang keseharianku sebagai anak asrama di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Meskipun kegiatannya kelihatan biasa aja, tapi tiap harinya selalu ada momen spesial yang ngasih pelajaran hidup. Karena sejatinya, dalam kesederhanaan itulah kita menemukan keindahan. Yuk, terus semangat ngejalanin hari-hari kita! Karena proses yang tulus bakal ngebawa kita ke hasil yang luar biasa. See you di cerita-cerita seru lainnya!   Terimakasih… 🙂 Penulis : Syefi Amanda Zahrani Mahasiswi Psikologi UIM Instagram : @sya_hze 

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Beritahu Shafa yang Dulu, Ia Kini Mengajar

Aku seperti termakan omonganku sendiri. Dari dulu, kalau menyangkut mengajar, aku tidak pernah berminat. Planning pilihan jurusan kuliah? Aku hindari apapun itu yang ada ‘pendidikan’-nya. Padahal, Ibu dan kakak laki-lakiku adalah guru—dua orang yang justru menanamkan benih ketertarikan itu lewat cerita-cerita mereka, semangat mereka, dan cara mereka memperlakukan murid-muridnya. Tapi waktu itu, aku masih belum merasa itu dunia yang ingin aku masuki. Maksudku, ya ampun, jangankan meraih gelar resmi sarjana pendidikan, untuk sekadar mengajar di rumah versi kecil-kecilan aja aku gak mau, hehe. Tapi itu dulu, sebelum usiaku 17. Apa yang lantas memacuku untuk mewujudkan harapan ibuku itu; simpel saja, mengajar, dengan tulus (pastinya)? Di samping alasan utama yaitu kesadaran dan pengetahuan penuh tentang sejumlah hadits yang mengajarkan apa arti sebaik-baiknya ilmu—yaitu ilmu yang bermanfaat bagi orang lain—aku ingin bilang ada juga kontribusi secara tidak langsung dari seseorang, yang saat itu kehadirannya memang bertepatan ketika aku mengalami character development. Tapi, sungguh, bahkan sebelum bertemu ia dan terinspirasi untuk menjadi sepertinya juga, pikiranku akan kemungkinan diriku mengajar sudah mulai terbuka sejak 2021, sampai akhirnya aku baru benar-benar bergerak untuk mewujudkannya pada akhir 2023. “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari, no. 5027) Ini adalah pertama kalinya aku merantau, berada di kota orang lain, jauh dari keluarga. 19 tahun hidupku kujalani di kota kelahiran. Strategi pertamaku adalah membuat leaflet les/bimbel bahasa Inggris privat dan berkelompok, dan menyebarkannya di grup RT tempat kos ku berada. Ada satu figur yang sangat berjasa atas distribusi iklan tersebut, yaitu Mba Riska — tetanggaku — berhasil menarik beberapa anak yang ingin belajar bahasa Inggris secara privat. Sebagai ekpresi terima kasihku, aku turut membantu Mba Riska mengajar TPA dekat kos ku, Dari situlah awal mulanya. Kronologi penemuan kesempatanku mengabdi pada masyarakat dalam bentuk berbagi ilmu pengetahuan berlanjut melibatkan rekan-rekan lain, kebanyakan adalah teman kuliah. Setelah ini, aku akan menceritakan bagaimana permulaan pikiranku mulai terbuka pada 2021 silam. Permulaan Sosok paling berperan dalam kisahku yang terinspirasi untuk menjadi pengajar adalah Ibu; yang merupakan seorang guru, lebih tepatnya guru taman kanak-kanak—karirnya dimulai pada tahun 2006, dan masih bertahan hingga sekarang, yang berarti 2024 kemarin terhitung 18 tahun mengemban tanggung jawab tersebut. Selain sosok solo tersebut, ada dua peristiwa yang berpengaruh juga, yaitu 1) saat keluargaku (dan tetangga kami, tentu saja) terkena musibah banjir, dan 2) saat Ayah, aku, dan Ibu mendapat hasil positif ketika tes COVID-19. Aku ceritain yang pertama dulu, ya. “Terkadang kita melupakan bahwa dalam menyalurkan ilmu dan membenahi suatu perkara terkait murid hanya dengan harapan atau solusi duniawi. Hati manusia adalah sepenuhnya milik Allah, bukan? Perkara kapankah anak tersebut menjadi versi dirinya yang terbaik itu urusan Allah, kita hanya harus memberikan yang terbaik sebagai upaya menanamkan moral serta ilmu agama untuk mereka.” -Ibu Erlyn (2024) Februari 2021 menjadi bulan yang tak terduga oleh keluarga kami. Selain terkena banjir, ada lagi sebenarnya rentetan kejadian yang kerap memberi kejutan, kesemuanya memiliki sisi baik dan sebaliknya, sungguh, dan tentu tidak ada bandingannya dengan saudara lain yang tidak lebih beruntung. Lagi-lagi, dari jarak ini sambil memegang teropong, kalau berbicara masa lampau yang saat itu terasa lumayan berat untuk dilalui, yang tersisa untuk dirasa hanyalah rasa syukur yang membuncah, bahwa “tuh, ternyata pada akhirnya, itu semua bisa kan terlalui dan sekarang alhamdulillah semua baik-baik saja.” (Benarlah Allah tidak akan membebani seseorang melebihi batas kemampuannya). Terlebih, fakta bahwa saat itu adalah masa COVID-19 yang masih meresahkan, cemas itu nyata, mengudara jadi teman setia semua orang yang berkegiatan, belum ada cetusan new normal, membuat semuanya terasa menantang. Pasca peristiwa, kami membenahi banyak hal. Dan, inilah poin yang mau aku sampaikan; teman-teman ibu ku banyak sekali memberi bantuan. Dalam bentuk apapun. Mulai dari bantuan emosional, finansial, tenaga dan waktu. Pada masa itu, karena sekolahku dilakukan secara daring atau PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh), aku banyak berada di rumah—sambil jagain adekku—sedangkan Ibu tetap ke sekolah seperti biasa (WFO), jadi yang selalu di rumah menerima kiriman dari beberapa teman Ibu, atau bahkan kedatangan orangnya langsung, segala macam, itu adalah aku. Serangkaian kebaikan dari banyak orang seperti itu sukses membuatku haru. Dan aku menyadari, ini lah yang mahal; jalinan persaudaraan yang terpelihara sangat baik, landasannya sudah bukan lagi dunia tapi akhirat. “Bu, enak ya rasanya punya banyak teman yang bisa Ibu pedulikan, bisa Ibu sayangi dan begitu pun sebaliknya, semuanya berlomba-lomba dalam kebaikan.” Kesadaran bahwa lingkup persaudaraan ini dapat terbentuk bukan hanya karena sesama muslim tapi juga sesama seorang guru pun gak luput dari kepalaku. Pokoknya, saat itu aku kayak langsung mengerti apa yang pernah Ibu ucap; jadi guru itu mungkin memang bukan profesi yang gaji nya besar sekali, tapi Nak, mulia nya peran kami (jika diiringi niat lurus) itu tidak dapat dibantah oleh siapa pun dan keberkahan yang dibawanya justru lebih besar dari hitungan angka matematika yang diajarkan manusia biasa, Insyaa Allah. Aku masih ingat suatu pagi abis dapat kiriman cemilan manis yang lagi nge-tren saat itu tapi aku belum sempet beli (dan, iya bisa ditebak dong aku girang bukan main. Makanan manis itu kelemahanku hehe), aku langsung chat Ibu “Bu, pokoknya nanti kalau aku sudah punya penghasilan sendiri, aku pengen bantu teman Ibu juga yang banyak. Kok pada baik-baik banget sih buu *emot haru.” Agak ngakak ya. Itu ungkapan yang memuncak sejujurnya, setelah berhari-hari membatin betapa beruntungnya aku dan keluargaku dipertemukan dengan orang-orang baik seperti itu. Yang kedua, beberapa bulan kemudian masih di tahun yang sama, saat Ayah, aku, dan Ibu terjangkit COVID-19. Pasiennya bergiliran (tuh, kan, lagi-lagi fakta yang patut disyukuri, soalnya bagaimana kalau saat itu kami bertiga terjangkit positifnya di waktu yang bersamaan?). Yang pertama Ayah, selama hampir sebulan, lalu aku selama 17 hari. Kami berdua hanya karantina mandiri di kamar masing-masing, dan tes yang kami lakukan itu rapid, bukan swab (hayo masih ingat gak bedanya apa? Hehe. Simpelnya, kalau rapid hasilnya cepat keluar dan gak lebih akurat dari swab). Lalu Ibu. Karantina nya ibu berlangsung selama dua minggu, dan di rumah sakit, karena Ibu ambil tes swab dan gejalanya lebih jelas dan mencemaskan dibanding Ayah dan aku. Bisa dibayangkan, rumah tanpa Ibu kayak gak ada jantungnya. Aku gak ada motivasi buat bantu urusan rumah

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Inspirasi Mahasiswa dari Papua : Perjalanan Apriliana Segenil dari Silimo ke Yogyakarta.

Perjalanan Inspiratif Apriliana Segenil: Dari Silimo Menuju Kampus Impian di Yogyakarta Nama lengkap saya Apriliana Segenil, dikenal sebagai April atau Ape Segenil. Saya lahir di Silimo, Kabupaten Yahukimo, Propinsi Papua Pegunungan, pada 6 April 2002. Silimo merupakan desa terpenkecil; perjalanan dari Silimo ke Jayapura membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat kecil (pesawat misi). Akses ke desa tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur udara karena kondisi medan yang sulit untuk pembangunan infrastruktur jalan darat. Oleh karena itu, transportasi udara menjadi satu-satunya akses bagi penduduk desa hingga saat ini. Saya adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dan kedua orang tua saya berprofesi sebagai pendeta dan penginjil di Jemaat Bethel Silimo. Sejak usia enam tahun, saya dibesarkan dan menempuh pendidikan di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Propinsi Papua. Sebagai mahasiswa semester dua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIM), saat ini saya berdomisili di Kabupaten Bantul. Cerita ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalanan akademik saya hingga dapat melanjutkan studi S1 di UIM Yogyakarta, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa perantauan. Kehidupan perantauan memang penuh tantangan, namun melangkah keluar dari zona nyaman merupakan upaya untuk meraih masa depan yang lebih baik. Pengalaman ini menunjukkan proses kehidupan yang kompleks dan penuh dinamika, mirip dengan jalan raya yang tak selamanya beraspal. Pendidikan dan Kehidupan Asrama: Fondasi Karakter Kuat Sejak usia enam tahun, saya telah terpisah dari orang tua dan saudara kandung, tinggal di asrama dengan sistem orang tua asuh. Para pengasuh di asrama berperan sebagai orang tua pengganti, menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Bersama lima teman lainnya, kami direkrut dari Sekolah Papua Harapan, setelah melalui seleksi di Taman Kanak-Kanak Let-Let Silimo, satu-satunya TK di desa asal saya. Kami kemudian bersama-sama melanjutkan pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Provinsi Papua. Kehidupan asrama memberikan pengalaman berharga, baik dalam pengembangan akademis maupun rohani, menekankan pentingnya hubungan erat dengan Tuhan karena “WE ARE NOTHING WITHOUT HIM”. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk mengasihi dan menghargai mereka yang bukan sedarah dan sekandung dengan saya, yang juga sama pentingnya adalah mengajarkan tentang kerasnya hidup ini Pengalaman Internasional yang Mengubah Pandangan Setelah menyelesaikan pendidikan SD-Menengah Atas (SMA) di Sekolah Papua Harapan (SPH), saya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi tanpa penundaan. Pengalaman hidup di asrama sejak usia enam tahun, berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya telah membentuk karakter saya. Hal ini merupakan pengalaman kedua saya merantau; yang pertama saya meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk bersekolah di Jayapura, dan keputusan untuk melanjutkan studi di Yogyakarta merupakan langkah signifikan lainnya. Sebelumnya saya mengikuti program perkuliahan daring selama dua tahun (2021-2023) di Papua Hope Language Institute (PHLI). PHLI adalah lembaga yang memfasilitasi mahasiswa berprestasi orang asli Papua untuk studi di luar negeri dengan seleksi program beasiswa pemerintah PAPUA. Pemerintah melalui PHLI memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di Seattle Pacific University, Amerika Serikat (daring), mengambil jurusan Nutrisi. Minat saya terhadap perawatan kesehatan dan keinginan untuk berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat di daerah terpencil menjadi motivasi utama. Saya percaya kesehatan fisik dan rohani saling berkaitan, sehingga pembinaan iman merupakan bagian penting. PHLI juga merupakan lembaga yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan (KRISTEN), menyediakan program ibadah mingguan secara rutin. Selain pengajar lokal, Papua Hope Language Institute (PHLI) juga menyediakan bimbingan dari dosen Amerika dan akses ke kelas daring di Corban dan George Fox University, tempat saya mengambil beberapa mata kuliah. Pada Agustus 2023, saya lulus dari PHLI dan menerima sertifikat penguasaan bahasa. Rencana studi lanjut di luar negeri terpaksa dibatalkan karena berpulangnya Bapak Lukas Enembe, Gubernur Papua yang merupakan sponsor program beasiswa bagi para dokter dan guru anak asli PAPUA (Program Seribu Dokter & Guru), termasuk saya. Meskipun demikian, saya bersyukur atas pengalaman berharga selama tiga tahun di PHLI yang telah memberikan bekal pengetahuan yang berharga. Menemukan Kampus Baru dan Merajut Asa di UIM Yogyakarta Setelah lulus dari PHLI pada Agustus 2023, saya melanjutkan rencana studi S1. Dengan sempat mendaftar di beberapa perguruan tinggi di Jayapura, namun saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua, sehingga mendaftar di beberapa perguruan tinggi di luar Papua. Hampir semua jalur pendaftaran perguruan tinggi telah ditutup, menyebabkan kebingungan. Suatu hari saat mengakses media sosial (Instagram), saya menemukan informasi penerimaan mahasiswa baru di UIM Yogyakarta. Rasa tak percaya muncul, mengingat persyaratan masuk perguruan tinggi umumnya cukup ketat. Namun, saya memutuskan untuk mendaftar. Puji Tuhan, saya diterima di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dengan potongan beasiswa sebesar 79%, berkat pendaftaran pada bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Meskipun memiliki ketertarikan di bidang medis sebelumnya, saya memilih untuk mengambil program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia (UIM) karena selaras dengan minat dan pengalaman saya. Dimana saya mengajar Bahasa Inggris dasar kepada anak-anak usia SD hingga SMA bahkan beberapa Mahasiswa (“English Basic for Beginner”) di lingkungan tempat saya tinggal, telah membangkitkan minat dan kepuasan dalam bidang pendidikan, sehingga saya memilih untuk menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk mengembangkan minat di bidang pendidikan. Penerimaan ini merupakan berkat dan anugerah dari TUHAN yang tak terduga, sebuah pencapaian luar biasa dalam perjalanan pendidikan saya. Lingkungan Kampus yang Toleran dan Inklusif Kampus ini sangat toleran, mulai dari rektor, dosen, karyawan, hingga mahasiswa dan warga sekitar. Lingkungan yang aman dan nyaman membuat saya dapat berkuliah tanpa rasa khawatir. Sebagai mahasiswa perantau dari Indonesia Timur, saya merasa diterima dan menjadi bagian integral dari UIM Yogyakarta. Pemilihan UIM Yogyakarta sebagai kampus utama didasari oleh reputasi akademiknya, program studi yang sesuai dengan minat saya, dan suasana belajar yang kondusif. Untuk menutup, seperti ada pepatah, “Sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu punya tempat untuk pulang, yaitu keluarga. Seorang perantau pergi untuk kembali dan membuktikan perubahan pada diri sendiri, keluarga, dan bangsa.” Tekad ini mendorong saya untuk memaksimalkan kesempatan berkuliah demi meraih cita-cita dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Penulis : Apriliana Segenil Mahasiswi Bahasa Inggris UIM Yogyakarta Instagram : @apriliana_segenil

AKSI UIM (Artikel Kritis dan Solutif Mahasiswa UIM)

Feminisme dalam Islam

Feminisme, Liberalisme, dan Islam: Perspektif Kritis Seorang Muslimah Prolog  Di tengah arus zaman yang kian deras dan kompleks, feminisme bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Ia hadir sebagai respons atas ketimpangan yang mengakar, dan dalam perjalanannya, bersinggungan erat dengan berbagai ideologi besar dunia—salah satunya, liberalisme. Sebagai dua kekuatan pemikiran yang turut membentuk lanskap sosial di muka bumi ini, tulisan ini mencoba menelusuri relasi keduanya, menggali titik temu dan ketegangan yang muncul ketika perjuangan hak perempuan bersandar pada prinsip-prinsip kebebasan individual. Namun dalam riuhnya perdebatan modern tentang perempuan dan perannya, kadang kita lupa menoleh pada jejak yang telah lebih dahulu hadir—sebuah sosok yang diam tapi pasti, kuat namun tak kehilangan kelembutan, menjadi teladan bukan karena suara kerasnya, melainkan karena keberanian dan keyakinannya yang tenang. Semoga pembacaan ini menjadi pengingat, bahwa arah perjuangan kita tak harus selalu baru untuk menjadi benar. … Halo. Namaku Shafa. Bagi yang mengenalku, bukan rahasia lagi kalau aku memang suka banget budaya Eropa. Dari banyaknya informasi yang kuterima tentang bidang tersebut, melalui berbagai macam media; buku, film, media sosial, berita, dan lain-lain, aku bersyukur masih dapat kesempatan buat mempertahankan kelogisanku sebagai perempuan muslim yang hidup pada zaman sekarang, kesadaranku untuk memisahkan mana yang tidak sesuai ajaran Islam dan tidak boleh dibiarkan memengaruhi perilaku/prinsip ku. Nah, dari pengalaman tersebut, aku terinspirasi untuk menulis artikel ini, sharing pendapat serta pengetahuanku tentang topik feminisme. Tentunya, seperti yang aku mention tadi, karena aku banyak melahap konten dari negara-negara orang berkulit putih, di sini aku hanya menyeret beberapa pendekatan dari dunia industri hiburan Barat, ya, baik perfilmannya maupun dunia sastra-nya, bukan tulisan ilmiah yang didukung beberapa judul studi literatur valid dan relevan. So, let’s just get started! I.Feminisme dan liberalisme Feminisme dapat didefinisikan sebagai suatu paham seputar berbagai isu terkait perempuan di seluruh dunia dengan cara-cara terpilih yang dapat diterapkan pada budaya atau masyarakat tertentu. Perlu digarisbawahi, cara-cara terpilih dan budaya atau masyarakat tertentu. Aku pernah melihat suatu video di media sosial yang memperlihatkan seorang wanita muslim ditanyai, “Apa kamu mengkategorikan dirimu feminis?” Sang wanita butuh waktu sekitar tiga detik sebelum menjawab dengan mantap, “Aku rasa tergantung pada definisi feminis yang kamu maksud. Kita hidup pada zaman di mana feminisme dikorelasikan dengan stereotip perempuan tangguh, berkarir cemerlang, tidak menikah, mandiri dan bebas, pengaruh persebaran sudut pandang orang-orang non-muslim. Kalau yang kamu maksud feminisme seperti itu, yang lekat dan tercampur budaya Barat, maka aku bukan (feminis). Tapi, kalau yang kamu maksud adalah feminisme yang berada pada koridor lurus ajaran-ajaran Islam, tidak keras dan berpedoman pada tokoh wanita tangguh pada zaman Rasulullah (yang tentu saja disesuaikan dengan perubahan zaman sekarang), maka iya, aku adalah seorang feminis.” Wah, setuju banget ini mah! Jawaban wanita tersebut sangat mewakili banyaknya muslimah modern-namun-berprinsip yang resah terhadap rentetan pro dan kontra tentang feminisme, tidak terkecuali aku sendiri. Ngomongin feminisme, apa, sih, landasan dasar dari paham tersebut? Harapan supaya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan bisa terwujud, ‘amarah’ kaum perempuan yang terpelihara selama berabad-abad. Bagi individu yang awam tentang feminisme, sebenernya gak nyalahin kalau pada salah kaprah dalam mendefinisikan istilah tersebut sebagai suatu paham yang seolah ngotot dalam menegakkan keadilan bagi perempuan, terkesan judes tak beralasan terhadap kaum laki-laki. Gak nyalahin, sebab arus informasi yang deras pada zaman sekarang ini memang banyak berkontribusi pada bias pemahaman suatu individu. Tidak jarang memang ada yang sengaja membelokkan arti sesungguhnya atau menambahkan unsur yang tidak diperlukan, supaya banyak yang berkerut kening saat mempelajari topik ini dan lantas menghakimi lalu membenci. Aku pernah memposting story di IG yang bertuliskan “Life without sexist, misogynist, and left-wing-feminist. Life when a rainbow is just a rainbow. Life when a woman is a woman, a man is a man.” Artinya adalah:  “Hidup tanpa kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Hidup ketika pelangi hanyalah sebatas pelangi. Hidup ketika seorang wanita adalah wanita, pria adalah pria.” Itu merupakan ungkapan keresahanku terhadap budaya Barat (terutama Amerika, tentu saja) yang semakin saja menormalisasikan perilaku sinting mengakui eksistensi gender dan seksualitas lain (iya, tentang si LGBTQ+ itu, lho) dan sebagai pelopor menjamurnya kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Buat yang belum tahu apa itu seorang seksis dan misoginis, biar aku jelaskan dulu. Seksisme berarti prasangka atau diskriminasi gender, keyakinan bahwa satu jenis kelamin secara intrinsik lebih unggul daripada yang lain. Iya, bisa terjadi pada masing-masing jenis kelamin, tapi seringnya terhadap perempuan (sejarah mencatat itu!). Jadi, seksis dapat dipahami adalah seorang yang rasis terhadap jenis kelamin lainnya. Misogini berarti kebencian dan penghinaan terhadap kaum perempuan. Ini adalah bentuk seksisme yang memosisikan perempuan pada status sosial yang lebih rendah daripada laki-laki, mengamankan peran sosial patriarki. Left-winged feminist merujuk pada impostor aktivis feminisme yang memunculkan bias penilaian terhadap paham tersebut. … Balik lagi ke story IG ku. Gambar yang aku sertakan pada tulisan itu menampilkan ilustrasi gaya hidup tentram, sederhana, cantik, murni. Yang aku maksud dari tulisan dan gambar itu adalah, se-waras ini, lho, kehidupan tanpa kehadiran mereka-mereka itu, dan pada saat sebelum pelangi dikontaminasi sebagai identitas lambang LGBTQ+, serta sebelum normalisasi gender dan jenis kelamin buatan. Oh, ya, gender dan jenis kelamin itu berbeda, ya. Jenis kelamin sudah jelas hanya ada dua, laki-laki dan perempuan (yang bilang ada lagi selain dua itu, berarti dia tersesat, kasihan). Ada pun gender, menurut Mualimah dan Yusuf dalam buku Diskriminasi Gender dalam Promosi Jabatan (2022), adalah “konstruksi sosial tentang perbedaan peran, kedudukan, serta kesempatan antara perempuan dan pria, dalam kehidupan keluarga atau masyarakat.” I.I Feminisme yang sehat Pada umur 16 kemarin (kelas dua SMA), setelah menonton film Little Women (2019) yang dibintangi Saoirse Ronan, Timothee Chalamet, dan salah satu aktris sekaligus tokoh feminisme terkenal yaitu Emma Watson, aku mendapat pandangan baru terkait feminisme yang sehat, yang tidak terkontaminasi kepercayaan sayap kiri generasi sekarang: bahwa itu bukan selalu tentang perempuan menjadi bebas, tidak menikah, berkarir cemerlang, segala cerocosan tentang perempuan harus punya kebebasan dan pilihan sendiri bla bla bla, tapi implementasi yang sehat adalah membiarkan perempuan lain menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri, tak terkecuali menjadi wanita berkeluarga. Perlu digaris bawahi, sering dilupakan konsep lain feminisme adalah menghargai pilihan setiap perempuan. Tentang Emma Watson dan pilihannya membintangi film tersebut. Jadi, tokoh utama di Little Women yang bernama Jo March (baik novel maupun adaptasi filmnya) ini merepresentasikan tokoh ‘perempuan berjiwa bebas’. Ia punya tiga saudara perempuan, salah satunya Meg, yang bertolak belakang dengan Jo. Keputusan Emma Watson memilih tokoh Meg, dan bukannya Jo lumayan mengejutkan saat itu. Pasalnya, seperti yang aku bilang tadi, Watson

Scroll to Top