UIM

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kesenjangan Ilmu di Dunia Akademik : Mengatasi Gap Knowledge dengan Nilai Filsafat dan Islam

Kesenjangan ilmu (gap knowledge) adalah fenomena yang kerap terjadi di berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam lingkungan akademik. Kesenjangan ini tidak hanya memengaruhi kehidupan sehari-hari mahasiswa, tetapi juga perjalanan akademik mereka di kampus, bahkan hingga mereka lulus dan mengimplementasikan keilmuan dalam dunia kerja atau pengabdian masyarakat. Artikel ini akan mengulas dampak kesenjangan ilmu, strategi mengatasinya dengan pendekatan filsafat dan ajaran Islam, serta langkah praktis untuk memperkaya wawasan akademik. Apa Itu Kesenjangan Ilmu?    Kesenjangan ilmu merujuk pada perbedaan tingkat pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman antara individu atau kelompok dalam suatu lingkungan. Dalam konteks akademik, kesenjangan ini bisa terjadi karena akses terbatas terhadap sumber belajar, kurangnya motivasi, atau perbedaan metode pembelajaran. Filsuf Yunani, Socrates, pernah berkata, “Saya hanya tahu bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Pernyataan ini mencerminkan kesadaran akan keterbatasan pengetahuan sebagai langkah awal menuju pembelajaran yang mendalam. Dalam Islam, Al-Qur’an mengajarkan pentingnya menuntut ilmu, seperti dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11, yang menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.      Kesenjangan ilmu bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan tantangan yang dapat diatasi dengan kesadaran, usaha, dan pendekatan yang tepat. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, memiliki tanggung jawab untuk menutup kesenjangan ini melalui kehausan akan ilmu dan pemanfaatan sumber daya yang ada. Dampak Kesenjangan Ilmu di Lingkungan Akademik Kesenjangan ilmu dapat menghambat potensi mahasiswa dalam beberapa cara: Kurangnya Kesiapan Akademik: Mahasiswa yang tidak memiliki akses ke sumber belajar berkualitas mungkin kesulitan mengikuti perkuliahan atau penelitian. Rendahnya Inovasi: Kurangnya wawasan dapat membatasi kemampuan mahasiswa untuk menghasilkan ide-ide kreatif atau solusi inovatif. – Kesulitan di Dunia Kerja: Setelah lulus, kesenjangan ilmu dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bersaing di pasar kerja atau berkontribusi secara maksimal dalam profesi mereka. Seorang filsuf modern, Michel Foucault, menekankan bahwa pengetahuan adalah kuasa (power). Dalam konteks akademik, memiliki ilmu yang memadai memberi mahasiswa keunggulan untuk menghadapi tantangan global. Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa menuntut ilmu adalah ibadah yang membawa keberkahan. Strategi Menutup Kesenjangan Ilmu   Berikut adalah beberapa strategi praktis untuk mengatasi kesenjangan ilmu dalam lingkungan akademik, yang diperkaya dengan nilai-nilai filsafat dan ajaran Islam: 1. Kembangkan Rasa Haus akan Ilmu   Filsuf Stoa, Epictetus, mengajarkan bahwa kebijaksanaan datang dari kesadaran akan keterbatasan diri. Mahasiswa harus menanamkan sikap “haus dan lapar” terhadap ilmu, sebagaimana yang diajarkan dalam Islam bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban seumur hidup. Dengan semangat ini, mahasiswa dapat terus mencari pengetahuan baru dari berbagai sumber, baik buku, internet, maupun diskusi dengan orang lain. 2. Manfaatkan Teknologi dan Media Sosial Secara Bijak    Di era digital, platform seperti internet dan media sosial dapat menjadi alat yang powerful untuk belajar. YouTube, Coursera, atau jurnal akademik daring dapat menjadi sumber ilmu yang tak terbatas. Namun, Islam mengajarkan pentingnya menyaring informasi dengan akal dan hati, sebagaimana dalam Surah Al-Hujurat ayat 6, yang memerintahkan untuk memverifikasi kebenaran informasi. 3. Optimalkan Fasilitas Kampus    Fasilitas seperti perpustakaan, laboratorium komputer, dan konsultasi dengan dosen adalah aset berharga yang sering diabaikan. Mahasiswa harus proaktif memanfaatkan sumber daya ini untuk mendalami minat akademik mereka. Seperti yang dikatakan oleh filsuf Islam, Al-Ghazali, ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. 4. Budayakan Membaca dan Diskusi    Membaca adalah jendela dunia, dan kebiasaan ini harus ditanamkan sejak dini. Mahasiswa dapat membentuk kelompok baca atau forum diskusi untuk berbagi pengetahuan. Dalam tradisi Islam, majelis ilmu dianggap sebagai tempat turunnya rahmat Allah. 5. Terlibat dalam Penelitian dan Kegiatan Akademik    Berpartisipasi dalam penelitian bersama dosen atau lintas program studi dapat memperluas wawasan dan keterampilan. Ini juga membantu mahasiswa mengembangkan pola pikir kritis, yang merupakan inti dari filsafat Barat dan ajaran Islam tentang tafakur (perenungan). 6. Aktif di Organisasi Kampus    Forum seperti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), atau Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dapat menjadi wadah untuk mengasah keterampilan kepemimpinan dan kolaborasi. Aktivitas ini juga mencerminkan nilai ukhuwah dalam Islam, yaitu kebersamaan dalam kebaikan. 7. Pahami Proses sebagai Bagian dari Pembelajaran    Filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre, menegaskan bahwa manusia didefinisikan oleh tindakan dan prosesnya. Dalam Islam, proses menuntut ilmu adalah jihad yang mulia. Ketidaktahuan bukanlah kebodohan, melainkan peluang untuk belajar. Setiap mahasiswa memiliki waktu dan momen unik untuk berkembang, sebagaimana Allah menciptakan setiap manusia dengan kapasitasnya masing-masing. Pengalaman Pribadi: Langkah Kecil Menuju Tujuan Besar    Saya ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai mahasiswa S1 di usia 20-an. Berbeda dengan teman sekelas, saya mulai memikirkan topik skripsi sejak semester awal. Pepatah “langkah kecil adalah awal dari langkah besar” menjadi pemicu inisiatif saya. Saya merencanakan 2-10 langkah ke depan, memanfaatkan waktu luang untuk membaca, berdiskusi dengan dosen, dan mengeksplorasi ide. Pertanyaan “bagaimana saya bisa menjaga semangat akademik?” menjadi pengingat untuk tetap fokus di tengah godaan hobi atau aktivitas lain. Kesadaran ini, yang saya yakini sebagai tanda dari Allah, membantu saya menutup kesenjangan ilmu secara bertahap. Kesimpulan: Ilmu sebagai Jembatan Kehidupan   Kesenjangan ilmu adalah tantangan universal yang dapat diatasi dengan semangat belajar, pemanfaatan sumber daya, dan kesadaran akan proses. Dalam perspektif filsafat, ilmu adalah alat untuk memahami eksistensi manusia. Dalam ajaran Islam, ilmu adalah cahaya yang membimbing menuju kebenaran. Dengan menggabungkan pendekatan ini, mahasiswa dapat menjadikan lingkungan akademik sebagai ladang untuk menanam benih pengetahuan yang akan terus tumbuh sepanjang hidup.     Apakah Anda siap berproses untuk menutup kesenjangan ilmu? Ingatlah, seperti yang dikatakan oleh filsuf Islam Ibnu Sina, “Ilmu adalah harta yang tidak pernah habis.” Mulailah dari langkah kecil, dan biarkan Allah memudahkan jalan Anda menuju keberhasilan akademik dan spiritual. Glosarium Kesenjangan Ilmu (Gap Knowledge): Perbedaan tingkat pengetahuan atau keterampilan antara individu atau kelompok dalam suatu lingkungan. Filsafat: Ilmu yang mempelajari hakikat keberadaan, pengetahuan, dan nilai-nilai dalam kehidupan manusia. Tafakur: Perenungan mendalam dalam Islam untuk memahami kebesaran Allah dan hikmah ciptaan-Nya. Ukhuwah: Persaudaraan dalam Islam yang menekankan kebersamaan dan saling mendukung dalam kebaikan. Majelis Ilmu: Pertemuan untuk mempelajari dan mendiskusikan ilmu, yang dalam Islam dianggap sebagai tempat turunnya rahmat Allah. Penulis : Muhammad Immawan Aulia “Berprogres lah walau hanya 0,001%!”

TAZKIYA UIM

Sirkel Jiwa Pendidik

  Ada hadist yang berbunyi : Al arwaahu junuudun mujannadah famaa ta’aarafa minhaa intalafa. Memiliki arti “Ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu.” [HR. Muslim] Penafsiran hadist tersebut banyak mengarah pada proses pembentukan lingkaran sosial, atau yang akhir-akhir ini lebih lazim disebut ‘sirkel’. Hadist tersebut memaparkan bahwa sirkel seseorang akan terbentuk ketika memiliki ketertarikan yang sama pada sesuatu. Sebagai perincian kaidah tersebut, banyak teori ilmiah yang membahasnya dan membahasakan kondisi ini dengan sebutan ‘clique’. Sedikit disclaimer, artikel ini tidak akan menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut, tetapi fokus pada kisah kehidupan salah satu tokoh UIM yang dapat menjadi bukti nyata berlakunya kaidah pembentukan sirkel tersebut yaitu Drs. H. Nur Hidayat Pamungkas. M.Pd. Memiliki latar belakang keluarga pendidik, Pak Nur Hidayat terus dipertemukan dengan lingkungan yang menyongsong pendidikan bangsa. Prinsip ‘berperan di dunia pendidikan tidak akan pernah rugi’ yang dipegang, mengantarkan beliau pada 3 kampus di Yogyakarta yaitu STIKES, UAD, dan AKBID MMY. Tidak hanya itu, Pak Nur pun aktif mengunjungi banyak pesantren dan masjid untuk menyebarkan ilmu. Tak tertinggal, sebagai ilmu spesifik Pak Nur juga menjadi Pembimbing haji dan umroh di Hasuna Tour. Jiwa pendidik mendorong beliau untuk memberikan jalan kepada anak-anak yatim dan dhu’afa untuk dapat melanjutkan pendidikan. Maka posisi beliau sebagai Direktur Lembaga Pendamping dan Pengembangan (LP2U) Ummu Salamah mengambil peran tersebut. Beliau terus mengupayakan agar kesempatan menempuh pendidikan dapat dirasakan siapapun. Selama menjadi staf pengajar di kampus STIKES dan UAD, beliau kerap diajak diskusi pendidikan. Berbagai wawasan terkait perguruan tinggi akhirnya banyak didapat dari sesi-sesi diskusi tersebut. Pak Nur melanjutkan perjalanan ‘panggilan hati’-nya dengan merancang konsep universitas islami. Kaidah sirkel kembali bekerja, Pak Nur dipertemukan dengan Konsorsium Yayasan Mulia saat sedang bekerja di AKBID MMY (Akademi Bidan Mulia Madani Yogyakarta). Berbagai rapat diadakan, penyamaan konsep dilaksanakan, berdirilah ISTEK Mulia (Institut Sains & Teknologi Kesehatan) sebagai kampus adik dari AKBID MMY pada tahun 2022. Lengkap dengan banyaknya tawaran beasiswa seperti harapan Pak Nur sejak lama. Pada saat itu Pak Nur dipercayakan menjadi wakil rektor di ISTEK sekaligus membimbing AKBID MMY selama jalan berdampingan. Tak lama setelah itu, kini kedua kampus tersebut telah resmi menjadi universitas dengan mengusung nama UIM Yogyakarta (Universitas Islam Mulia Yogyakarta). Kurun waktu yang cukup cepat ini pun lagi-lagi adalah efek sirkel para pendidik yang memiliki visi sama sehingga saling bekerja sama dalam menghasilkan lembaga pendidikan berkualitas untuk para pemuda calon pemimpin bangsa. Penulis :  Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kampus Kontemporer Anti-Sekuler : Sinergi Ilmu Ulum & Islam di UIM

“Kampus Kontemporer Anti-Sekuler” adalah istilah yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara salah satu petinggi UIM, Pak Nur Hidayat Pamungkas. Satu tahun menjabat sebagai wakil rektor di ISTEK Mulia cukup memberikan sudut pandang universal mengenai akar berdirinya universitas islam ini. Beliau mengungkap “Islam tidak pernah mengekang ilmu pada bidang-bidang tertentu. Ilmu agama yang terpisahkan dari ilmu lain adalah pemikiran teramat kuno. UIM sama sekali tidak mengadopsi pemikiran tersebut,” Lantas apa yang dimaksud dengan Universitas Islam menurut pandangan Pak Nur? Beliau menjelaskan panjang lebar terkait hakikat ilmu agama yang sebenarnya bukan terletak pada spesifikasinya seperti fiqh, hadist, atau tafsir. Melainkan bagaimana kita dapat mengombinasikan ketiga konsep dasar tersebut ke dalam bidang ilmu yang sedang ditekuni. Bagi Mahasiswa UIM saat ini berarti masuk dalam bidang teknologi, kesehatan, dan perpustakaan. “…agar setiap mahasiswa memiliki pola pikir yang luas terkait tujuan pembelajarannya di kampus ini, seperti adminkes misal, jangan sampai berfikir dangkal hanya menjadi bagian administrasi di rumah sakit, tetapi harus juga memiliki tujuan berperan dalam penertiban masyarakat. Memunculkan pola pikir ini berawal dari memadukan ilmu-ilmu dari kampus dengan kepribadian islami. Kombinasi keduanya akan menghasilkan prinsip ‘profesiku adalah jalan dakwahku’ di setiap individu,” Upaya pemaduan keduanya dapat terlihat dari adanya kurikulum BPI (Bina Pribadi Islam) dan SII (Studi Islam Intregatif) di setiap semester. Dua mata kuliah ini adalah tali penghubung yang menjadi kunci utama tercapainya kampus kontemporer sebagai pencetak pribadi professional berdaya guna, lengkap dengan pribadi islami. Setiap pernyataan beliau sangat sejalan dengan visi UIM yang berbunyi Menjadi Perguruan Tinggi berasaskan pada nilai-nilai islam holistik, rahmatan lil’alamin dan secara konsisten memberikan kontribusi kepada perkembangan kemajuan dan peradaban kemanusiaan serta siap menjadi Centre of Excellent (Pusat Unggulan). “…contoh lain pada materi kebidanan akan bersinggungan dengan ilmu fiqh terkait kenajisan darah, korelasi-korelasi sejenis itu akan mengasah cara berfikir mahasiswa. Sehingga hasil dari kampus ini nanti bukan sekedar bidan biasa,” tambah Pak Nur.     Dapat disimpulkan, UIM akan menjadi kampus yang berperan dalam penggebrakkan tembok sekularisme yang telah tebal menghalangi kemajuan peradaban islam di Indonesia. Bahkan secara logika, bukankah aneh memisahkan suatu ilmu dari sumbernya? Sebagai bangsa bermayoritas islam, kita semua sepakat pedoman setiap aspek hidup kita adalah Al-Qur’an bukan?   Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Inspirasi Mahasiswa dari Papua : Perjalanan Apriliana Segenil dari Silimo ke Yogyakarta.

Perjalanan Inspiratif Apriliana Segenil: Dari Silimo Menuju Kampus Impian di Yogyakarta Nama lengkap saya Apriliana Segenil, dikenal sebagai April atau Ape Segenil. Saya lahir di Silimo, Kabupaten Yahukimo, Propinsi Papua Pegunungan, pada 6 April 2002. Silimo merupakan desa terpenkecil; perjalanan dari Silimo ke Jayapura membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat kecil (pesawat misi). Akses ke desa tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur udara karena kondisi medan yang sulit untuk pembangunan infrastruktur jalan darat. Oleh karena itu, transportasi udara menjadi satu-satunya akses bagi penduduk desa hingga saat ini. Saya adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dan kedua orang tua saya berprofesi sebagai pendeta dan penginjil di Jemaat Bethel Silimo. Sejak usia enam tahun, saya dibesarkan dan menempuh pendidikan di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Propinsi Papua. Sebagai mahasiswa semester dua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIM), saat ini saya berdomisili di Kabupaten Bantul. Cerita ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalanan akademik saya hingga dapat melanjutkan studi S1 di UIM Yogyakarta, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa perantauan. Kehidupan perantauan memang penuh tantangan, namun melangkah keluar dari zona nyaman merupakan upaya untuk meraih masa depan yang lebih baik. Pengalaman ini menunjukkan proses kehidupan yang kompleks dan penuh dinamika, mirip dengan jalan raya yang tak selamanya beraspal. Pendidikan dan Kehidupan Asrama: Fondasi Karakter Kuat Sejak usia enam tahun, saya telah terpisah dari orang tua dan saudara kandung, tinggal di asrama dengan sistem orang tua asuh. Para pengasuh di asrama berperan sebagai orang tua pengganti, menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Bersama lima teman lainnya, kami direkrut dari Sekolah Papua Harapan, setelah melalui seleksi di Taman Kanak-Kanak Let-Let Silimo, satu-satunya TK di desa asal saya. Kami kemudian bersama-sama melanjutkan pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Provinsi Papua. Kehidupan asrama memberikan pengalaman berharga, baik dalam pengembangan akademis maupun rohani, menekankan pentingnya hubungan erat dengan Tuhan karena “WE ARE NOTHING WITHOUT HIM”. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk mengasihi dan menghargai mereka yang bukan sedarah dan sekandung dengan saya, yang juga sama pentingnya adalah mengajarkan tentang kerasnya hidup ini Pengalaman Internasional yang Mengubah Pandangan Setelah menyelesaikan pendidikan SD-Menengah Atas (SMA) di Sekolah Papua Harapan (SPH), saya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi tanpa penundaan. Pengalaman hidup di asrama sejak usia enam tahun, berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya telah membentuk karakter saya. Hal ini merupakan pengalaman kedua saya merantau; yang pertama saya meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk bersekolah di Jayapura, dan keputusan untuk melanjutkan studi di Yogyakarta merupakan langkah signifikan lainnya. Sebelumnya saya mengikuti program perkuliahan daring selama dua tahun (2021-2023) di Papua Hope Language Institute (PHLI). PHLI adalah lembaga yang memfasilitasi mahasiswa berprestasi orang asli Papua untuk studi di luar negeri dengan seleksi program beasiswa pemerintah PAPUA. Pemerintah melalui PHLI memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di Seattle Pacific University, Amerika Serikat (daring), mengambil jurusan Nutrisi. Minat saya terhadap perawatan kesehatan dan keinginan untuk berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat di daerah terpencil menjadi motivasi utama. Saya percaya kesehatan fisik dan rohani saling berkaitan, sehingga pembinaan iman merupakan bagian penting. PHLI juga merupakan lembaga yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan (KRISTEN), menyediakan program ibadah mingguan secara rutin. Selain pengajar lokal, Papua Hope Language Institute (PHLI) juga menyediakan bimbingan dari dosen Amerika dan akses ke kelas daring di Corban dan George Fox University, tempat saya mengambil beberapa mata kuliah. Pada Agustus 2023, saya lulus dari PHLI dan menerima sertifikat penguasaan bahasa. Rencana studi lanjut di luar negeri terpaksa dibatalkan karena berpulangnya Bapak Lukas Enembe, Gubernur Papua yang merupakan sponsor program beasiswa bagi para dokter dan guru anak asli PAPUA (Program Seribu Dokter & Guru), termasuk saya. Meskipun demikian, saya bersyukur atas pengalaman berharga selama tiga tahun di PHLI yang telah memberikan bekal pengetahuan yang berharga. Menemukan Kampus Baru dan Merajut Asa di UIM Yogyakarta Setelah lulus dari PHLI pada Agustus 2023, saya melanjutkan rencana studi S1. Dengan sempat mendaftar di beberapa perguruan tinggi di Jayapura, namun saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua, sehingga mendaftar di beberapa perguruan tinggi di luar Papua. Hampir semua jalur pendaftaran perguruan tinggi telah ditutup, menyebabkan kebingungan. Suatu hari saat mengakses media sosial (Instagram), saya menemukan informasi penerimaan mahasiswa baru di UIM Yogyakarta. Rasa tak percaya muncul, mengingat persyaratan masuk perguruan tinggi umumnya cukup ketat. Namun, saya memutuskan untuk mendaftar. Puji Tuhan, saya diterima di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dengan potongan beasiswa sebesar 79%, berkat pendaftaran pada bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Meskipun memiliki ketertarikan di bidang medis sebelumnya, saya memilih untuk mengambil program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia (UIM) karena selaras dengan minat dan pengalaman saya. Dimana saya mengajar Bahasa Inggris dasar kepada anak-anak usia SD hingga SMA bahkan beberapa Mahasiswa (“English Basic for Beginner”) di lingkungan tempat saya tinggal, telah membangkitkan minat dan kepuasan dalam bidang pendidikan, sehingga saya memilih untuk menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk mengembangkan minat di bidang pendidikan. Penerimaan ini merupakan berkat dan anugerah dari TUHAN yang tak terduga, sebuah pencapaian luar biasa dalam perjalanan pendidikan saya. Lingkungan Kampus yang Toleran dan Inklusif Kampus ini sangat toleran, mulai dari rektor, dosen, karyawan, hingga mahasiswa dan warga sekitar. Lingkungan yang aman dan nyaman membuat saya dapat berkuliah tanpa rasa khawatir. Sebagai mahasiswa perantau dari Indonesia Timur, saya merasa diterima dan menjadi bagian integral dari UIM Yogyakarta. Pemilihan UIM Yogyakarta sebagai kampus utama didasari oleh reputasi akademiknya, program studi yang sesuai dengan minat saya, dan suasana belajar yang kondusif. Untuk menutup, seperti ada pepatah, “Sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu punya tempat untuk pulang, yaitu keluarga. Seorang perantau pergi untuk kembali dan membuktikan perubahan pada diri sendiri, keluarga, dan bangsa.” Tekad ini mendorong saya untuk memaksimalkan kesempatan berkuliah demi meraih cita-cita dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Penulis : Apriliana Segenil Mahasiswi Bahasa Inggris UIM Yogyakarta Instagram : @apriliana_segenil

Scroll to Top