Serunya jadi Mahasiswa “Doktoral” katanya?
Banyak anggapan bahwa mahasiswa doktoral menjalani hari-hari yang penuh tekanan: riset tanpa henti, tumpukan jurnal, serta presentasi yang seolah tak pernah selesai. Benarkah demikian? Citra akademik memang sering tampak berat. Namun, di balik itu semua, ada sisi lain yang jarang terlihat. Menjadi mahasiswa doktoral ternyata bukan semata soal publikasi, indeksasi, atau mengejar kuartil jurnal tertentu. Ada proses belajar yang jauh lebih mendalam daripada sekadar capaian akademik. Sebelum melanjutkan, izinkan saya berpantun sejenak. Pagi-pagi membeli koran,Singgah sebentar membeli roti.Katanya doktoral penuh beban,Nyatanya seru menantang hati. “Cakep.” Begitulah jawaban yang hampir selalu muncul setiap kali pantun itu saya sampaikan. Sebagai mahasiswa doktoral, cara berpikir kami banyak dibentuk oleh ruang-ruang diskusi. Pada tahap ini, belajar bukan lagi sekadar menjawab pertanyaan dosen di kelas. Setiap pertemuan justru menjadi ruang berbagi pengalaman, gagasan, dan perspektif dari kampus asal masing-masing. Dari diskusi-diskusi itulah, sering lahir ide-ide baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Kami datang dari latar yang beragam. Ada yang menempuh studi melalui tugas belajar, ada yang izin belajar. Ada pula yang memperoleh beasiswa, dan ada juga yang membiayai studi secara mandiri. Perbedaan itu tidak menjadi jarak. Justru di situlah letak kekayaan pengalaman yang membuat proses belajar terasa lebih hidup. Keseruan lain yang selalu dinantikan adalah perkuliahan bersama guest lecturer dari luar negeri. Momen seperti ini terasa istimewa karena kami dapat berinteraksi langsung dengan para pakar di bidangnya. Dari mereka, kami tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga inspirasi untuk melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih luas. Belajar memang tidak pernah mengenal usia. Belajar adalah jalan bagi siapa pun yang memiliki tekad untuk terus bertumbuh dan memberi manfaat. Kadang saya berpikir, jika kita hanya melihat lingkungan yang itu-itu saja, kita akan mudah merasa cukup. Padahal, rasa cukup yang terlalu cepat sering kali membuat kita berhenti berkembang. Kita merasa aman di zona nyaman, menjalani rutinitas, menyelesaikan Tri Dharma, lalu menganggap semuanya sudah selesai. Benarkah demikian? Mungkin benar, sebagian dari kami menempuh pendidikan doktoral karena tuntutan institusi. Mungkin juga karena sejak awal telah memilih jalan hidup sebagai dosen. Apa pun alasannya, pada akhirnya perjalanan ini menghadirkan ruang pembelajaran yang berharga bukan hanya tentang ilmu pengetahuan, melainkan juga tentang cara memandang hidup. Karena itu, tetaplah bersemangat. Perjalanan masih panjang, dan di depan sana selalu ada tantangan baru yang menunggu untuk ditaklukkan. Di balik segala kesibukan dan tuntutan, menjadi mahasiswa doktoral tetaplah sebuah pengalaman yang patut dinikmati dengan perasaan bahagia. Pewarta : Nisrina Ajrina Nur Hidayah (Dosen PGSD Universitas Islam Mulia Yogyakarta)




