Mahasiswi Amphibi #2 : Lompatan Quantum dari UIM ke UGM
Kini giliran mental yang dibahas dalam kisah padatku, sekaligus memperjelas alasan mengapa aku menyebut diriku sebagai mahasiswi beranomali amfibi. Sedikit klarifikasi, tolong jangan bayangkan amfibi dengan berbentuk katak. Ia bukan satu-satunya hewan amfibi di dunia ini. Bayangkan saja salamander, bentuknya jauh lebih imut ketimbang amit. Senyum tulus dari salamander tidak menyimpan makna tersembunyi layaknya katak yang seakan selalu memberi ancang-ancang untuk lompat. Berbicara tentang lompat, apa kalian tau tentang lompatan kuantum? Aku memang anak IPS, namun ibuku seorang lulusan kedokteran, teori fisika dasar seperti ini lazim kudengar. Lompatan kuantum adalah transisi mendadak dari satu tingkat energi ke tingkat energi lainnya dalam sistem kuantum. Contohnya -yang tentu saja kukutip dari internet karena aku tidak terlalu mengerti- seperti elektron dalam atom dapat berpindah dari satu orbit (tingkat energi) ke orbit lain dengan menyerap atau memancarkan foton. Dalam konteks umum, lompatan kuantum dapat dianalogikan sebagai suatu perubahan ekstrim yang tak terduga. Kembali pada pembahasan utama, mentalku. Sebelumnya sempat kuangkat isu krisis kepribadianku dari ekstrovert menuju introvert sekaligus sebabnya : otak kecapean. Trailer kisah kali ini akan mengungkap lompatan kuantum yang melambungkan diriku pada fase kehidupan kuliah yang jauh melampui prediksiku. Kekeliruan dalam menaruh ekspektasi ini berujung menertawakan diri. Hahaha, mau sebanyak apa sih ini kejutan resiko setelah menginjakkan kaki di kampus top tri? *** Peralihan dari kampus islam menuju kampus negri tidak dapat diremehkan. Dari segi pakaian, pergaulan, dan budaya bersenang-senang. Mengingat jurusanku berunsur Eropa, lompatan kuantum itu benar-benar aku rasakan. Style berpakaianku sering dianggap terlalu tua, hanya karena menggunakan rok. Itulah mengapa akhirnya banyak gamis telah kupulangkan karena rasanya kurang leluasa dipakai untuk kelas ‘sastra prancis’. Format duduk pun tidak memandang gender, sejak hari pertama aku langsung harus duduk bersebelahan dengan laki-laki. Sepele memang, namun yang namanya perubahan tetap butuh proses adaptasi. Dan ini belum seberapa. Suatu lembaga yang bekerja sama dengan jurusanku sering mengadakan event budaya yang memperkenalkan gaya Eropa, termasuk ‘minum’. Saat itu acaranya bernama testing wine, dimana siapa pun mahasiswa yang mendaftar akan diberi akses minum anggur. Yap, difasilitasi. Mayoritas teman angkatanku yang non-muslim mengikutinya, termasuk 2 anomali yang ber-ktp muslim. Selain itu, fakultas ilmu budaya sendiri sering menjadi tuan rumah sebuah festival. Satu di antaranya yang kuikuti adalah Festival Kebudayaan Arab. Sisanya, entah kenapa bagiku makruh bila diikuti. Misal, seperti Festival Halloween. Festival berbudaya barat tersebut selalu mendapat desas desus berbunyi “paling pas puncak acara pada mab*k-mab*kan tuh,” Lagipula barat memang memiliki budaya minum. Kurasa cukup sampai disini, khawatir aku malah mengekspos lebih banyak sisi kelam kampus bergengsi. Saatnya mengumbar sisi keren kampus, yang biasa dilihat pihak luar, tetapi bagi pihak internal biasa dirasakan sebagai tekanan. Tidak sulit mencari apa saja penghargaan yang didapat oleh UGM. Sebagaimana menemukan keindahan pada kupu-kupu, sangat mudah. Hanya dengan melihat, keindahan akan terpancar dengan sendirinya. Tanpa sadar kita melupakan adanya proses berat yang perlu dilalui ulat sebelum itu. Sama halnya dengan mahasiswa UGM disini. Kampus yang telah harum dikenal seantero Yogyakarta, memiliki kisah juang setiap mahasiswa yang tidak boleh dihiraukan. Tentu saja aku salah satunya. Bukan haus validasi, hanya ingin berbagi peluh selama menjalani hari-hari pertama diajar oleh para dosen ber-‘darah’ UGM. Entah sudah berapa lama pengalaman mengajar yang dimiliki dosen-dosenku disana. Mereka kelewat professional untuk mengajar para mahsiswa polos yang tidak tahu menahu tentang literatur Prancis sebelumnya. Selama ini buku yang kubaca hanyalah karya-karya domestik dari Ahmad Tohari, Dee Lestari, Leila S Chudori, Tere Liye, Umar Kayyam, Puthut Ea, Agus Mulyadi, dan penulis Indonesia lainnya. Asing sekali kudengar nama Albert Camus, Francois Sagan, Simone de Beauvoir dan kawan-kawan. Terlebih bahasanya. Ayolah, bahasa Inggris saja aku nyaris tak berhasil sampai di tingkat intermediate, mana ada waktu aku berpindah ke bahasa lain. Ini semua akhirnya harus kujalani semenjak pengumuman hasil SNBT menyatakan aku diterima untuk jurusan ini, jurusan pilihan keduaku setelah sastra inggris. Beberapa teman seangkatanku sudah lebih dulu mencuri start dari SMA karena mereka jurusan bahasa. Ilmu-ilmu dasar telah mereka kuasai, begitupula dengan pelafalan. Modal mereka berbeda jauh dariku yang hanya mengandalkan ‘duolingo’. Namun berkat ajaran dosen yang luar biasa, IPK-ku nyaris menyamai mereka semua. Izinkan kuperinci bagian ‘luar biasa’ itu. Status mahasiswi amfibi sedikit mengekang jadwal belajar mandiriku. Sepulang dari UGM, aku masih perlu membaca materi kuliah dari UIM berikut mengerjakan tugas-tugas individunya. Di akhir pekan, aku merasa perlu balas dendam dengan ‘menggantungkan’ semua tas kuliahku. Aku tidak serajin itu mengisi akhir pekan dengan belajar kecuali ada tugas. Maka, satu-satunya masa aku dapat memaksimalkan belajar bahasa Prancis adalah ketika aku di kelas, saat memperhatikan dosen menjelaskan segala hal dengan bahasa Prancis. Yap, kalian tidak salah baca, dengan bahasa Prancis. Aku sendiri heran, kok bisa ya aku faham? Perasaan baru setengah semester belajar. Memang ternyata kuncinya terletak pada pengajar. Seluruh teori pedagogi diterapkan secara menyeluruh dan tertata, bermula dari pembagian kelas menjadi 2 bagian agar memudahkan pemantauan. Dampaknya, setiap dosen akan mengajarkan 2 materi berulang setiap harinya demi memastikan setiap mahasiswa betul-betul paham. Aku sangat menyesal sempat meragukan prinsip mengajar dosen di kampus negri terkenal ini. Kukira dengan jumlah mahasiswa yang cukup banyak akan membuat mereka tidak memperhatikan kemampuan setiap mahasiswanya. Ternyata, sekali ada mahasiswa nampak tertinggal, dia akan langsung dipanggil ke ruang dosen untuk dinasehati. Kebetulan orang itu teman yang sering duduk di sebelahku. Kami biasa duduk di baris belakang sejak awal pertama bertemu, karena sialnya kami sama-sama terlambat saat itu. Sungguh pertemuan memalukan memang. Berbeda denganku, dia jarang memperhatikan dosen. Lebih sering memainkan HP atau tertidur. Dosen sering menyuruhku untuk membangunkannya. Singkat cerita saat Ia dipanggil, ternyata namaku ikut terseret. Dia memberitahuku bahwa dosen bimbingannya menyuruh kami untuk tidak lagi duduk di belakang. Kukira hanya peringatan ringan, paling juga lupa di pertemuan berikutnya. Ternyata pekan depan tepat saat dosen itu baru memasuki ruangan, beliau langsung melirikku dan temanku yang masih duduk di belakang lalu berkata dengan tatapan tajam dan nada tegas, “Asseyez-vous devant vous deux!” (Kalian berdua, duduk depan) Itu kali terakhir aku meragukan ketegasan dan mode serius

