kampus islam

TAZKIYA UIM

Webinar Literasi Perdana Warta Mulia: Kupas Tuntas Cara Menulis Blog yang Menarik dan Efektif

Bantul, 29 Mei 2025 – Warta Mulia Universitas Islam Mulia Yogyakarta bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM UIM) sukses menyelenggarakan webinar literasi perdana bertajuk “Rahasia Menulis Artikel Blog yang Menarik & Efektif”.    Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui platform Zoom dan diikuti oleh 30 peserta yang mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa.    Webinar ini menandai peluncuran perdana Warta Mulia, media internal UIM yang bertujuan sebagai ruang kreasi dan ekspresi mahasiswa, dosen, serta sivitas akademika kampus dalam bidang kepenulisan dan jurnalisme. Tidak hanya sebagai media informasi kampus, Warta Mulia diharapakan mampu menjadi wadah pengembangan literasi dan budaya akademik yang produktif.    Narasumber ahli dan berpengalaman yang mengisi acara utama adalah Moh. Mursyid, S.I.P., M.A. , yang juga merupakan dosen dari Program Studi Perpustakaan dan Informasi UIM Yogyakarta, penulis aktif, serta Direktur Penerbit Azyan Mitra Media & Mata Kata Inspirasi. Beliau dikenal melalui karya-karyanya yang komunikatif dan tajam serta dedikasinya dalam memajukan dunia literasi di kalangan akademisi dan pelajar.     Webinar ini dipandu oleh Syifa Iswi Liani, mahasiswi Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi UIM Yogyakarta, yang bertugas sebagai moderator sekaligus pembawa acara (MC). Dengan pembawaan yang lugas dan komunikatif.  Syifa berhasil menjaga alur diskusi tetap hidup, menarik, dan interaktif dari awal hingga akhir acara. Ia juga berhasil menghubungkan pertanyaan-pertanyaan peserta kepada narasumber secara efektif, sehingga suasana webinar menjadi semakin hidup.    Dalam pemaparannya, Pak. Mursyid menyampaikan bahwa menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih dan dimulai dari keberanian untuk menuangkan ide. Ia menyebut bahwa banyak orang menganggap menulis itu berat, padahal hakikatnya sama seperti berbicara: “Menulis itu segampang ngomong,” ujarnya dengan tegas. Namun, ia juga menambahkan bahwa tanpa motivasi yang kuat, aktivitas menulis bisa terasa membebani. Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk memiliki motivasi dan mimpi dalam menulis. Beberapa tips menulis yang disampaikan antara lain: Tulislah apa saja motivasimu – Mulailah dari hal yang paling dekat dengan diri sendiri. Harus berani bermimpi – Karena menulis juga sarana untuk menggapai cita-cita. Menentukan jenis konten dan topik blog. Menulis dengan sudut pandang yang jelas dan gaya bahasa yang komunikatif. Melakukan penyuntingan dan revisi sebelum mempublikasikan.    Beliau juga menyampaikan bahwa menulis bukan hanya soal menyampaikan gagasan, tetapi juga cara berbagi lintas ruang dan waktu, memperluas jejaring relasi, dan bahkan membuka peluang finansial. “Menulis itu mengayakan secara materi, relasi, dan intelegensi,” imbuhnya sambil mencontohkan penulis-penulis yang sukses secara ekonomi dari dunia literasi.    Webinar ini tidak hanya menjadi ajang belajar teknis menulis blog, tetapi juga menjadi ruang pembentukan pola pikir literasi yang lebih kuat di kalangan mahasiswa. Melalui kegiatan ini, peserta didorong untuk berani menuangkan ide dan berkontribusi dalam bentuk tulisan yang nantinya akan diterbitkan dalam Warta Mulia, baik dalam bentuk artikel, opini, panduan, maupun profil inspiratif. Menurut panitia, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran mahasiswa terhadap pentingnya literasi digital dan peran strategis menulis dalam membangun citra pribadi maupun institusi.    Di akhir sesi, banyak peserta yang merasa termotivasi dan terinspirasi. Beberapa di antaranya bahkan sudah menyatakan ketertarikannya untuk mengirimkan tulisan ke redaksi Warta Mulia. Hal ini menjadi sinyal positif bagi pengembangan komunitas literasi di lingkungan UIM Yogyakarta.    Dengan suksesnya webinar perdana ini, Warta Mulia menegaskan komitmennya untuk terus menjadi ruang kreatif, edukatif, dan produktif bagi mahasiswa. Acara ini menjadi langkah awal dari serangkaian kegiatan literasi yang akan rutin diadakan ke depannya. Sebagaimana yang disampaikan narasumber di akhir presentasi, “Menulislah sebelum hanya namamu yang tertulis di batu nisan. Janganlah kalian mati tanpa meninggalkan karya tulis.” Dokumentasi Acara : Penulis : Afwa Aulia Rahma : Mahasiswi Administrasi Kesehatan UIM Yogyakarta Salsabila Azizatul : Mahasiswi Kebidanan UIM Yogyakarta

TAZKIYA UIM

Sirkel Jiwa Pendidik

  Ada hadist yang berbunyi : Al arwaahu junuudun mujannadah famaa ta’aarafa minhaa intalafa. Memiliki arti “Ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu.” [HR. Muslim] Penafsiran hadist tersebut banyak mengarah pada proses pembentukan lingkaran sosial, atau yang akhir-akhir ini lebih lazim disebut ‘sirkel’. Hadist tersebut memaparkan bahwa sirkel seseorang akan terbentuk ketika memiliki ketertarikan yang sama pada sesuatu. Sebagai perincian kaidah tersebut, banyak teori ilmiah yang membahasnya dan membahasakan kondisi ini dengan sebutan ‘clique’. Sedikit disclaimer, artikel ini tidak akan menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut, tetapi fokus pada kisah kehidupan salah satu tokoh UIM yang dapat menjadi bukti nyata berlakunya kaidah pembentukan sirkel tersebut yaitu Drs. H. Nur Hidayat Pamungkas. M.Pd. Memiliki latar belakang keluarga pendidik, Pak Nur Hidayat terus dipertemukan dengan lingkungan yang menyongsong pendidikan bangsa. Prinsip ‘berperan di dunia pendidikan tidak akan pernah rugi’ yang dipegang, mengantarkan beliau pada 3 kampus di Yogyakarta yaitu STIKES, UAD, dan AKBID MMY. Tidak hanya itu, Pak Nur pun aktif mengunjungi banyak pesantren dan masjid untuk menyebarkan ilmu. Tak tertinggal, sebagai ilmu spesifik Pak Nur juga menjadi Pembimbing haji dan umroh di Hasuna Tour. Jiwa pendidik mendorong beliau untuk memberikan jalan kepada anak-anak yatim dan dhu’afa untuk dapat melanjutkan pendidikan. Maka posisi beliau sebagai Direktur Lembaga Pendamping dan Pengembangan (LP2U) Ummu Salamah mengambil peran tersebut. Beliau terus mengupayakan agar kesempatan menempuh pendidikan dapat dirasakan siapapun. Selama menjadi staf pengajar di kampus STIKES dan UAD, beliau kerap diajak diskusi pendidikan. Berbagai wawasan terkait perguruan tinggi akhirnya banyak didapat dari sesi-sesi diskusi tersebut. Pak Nur melanjutkan perjalanan ‘panggilan hati’-nya dengan merancang konsep universitas islami. Kaidah sirkel kembali bekerja, Pak Nur dipertemukan dengan Konsorsium Yayasan Mulia saat sedang bekerja di AKBID MMY (Akademi Bidan Mulia Madani Yogyakarta). Berbagai rapat diadakan, penyamaan konsep dilaksanakan, berdirilah ISTEK Mulia (Institut Sains & Teknologi Kesehatan) sebagai kampus adik dari AKBID MMY pada tahun 2022. Lengkap dengan banyaknya tawaran beasiswa seperti harapan Pak Nur sejak lama. Pada saat itu Pak Nur dipercayakan menjadi wakil rektor di ISTEK sekaligus membimbing AKBID MMY selama jalan berdampingan. Tak lama setelah itu, kini kedua kampus tersebut telah resmi menjadi universitas dengan mengusung nama UIM Yogyakarta (Universitas Islam Mulia Yogyakarta). Kurun waktu yang cukup cepat ini pun lagi-lagi adalah efek sirkel para pendidik yang memiliki visi sama sehingga saling bekerja sama dalam menghasilkan lembaga pendidikan berkualitas untuk para pemuda calon pemimpin bangsa. Penulis :  Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kampus Kontemporer Anti-Sekuler : Sinergi Ilmu Ulum & Islam di UIM

“Kampus Kontemporer Anti-Sekuler” adalah istilah yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara salah satu petinggi UIM, Pak Nur Hidayat Pamungkas. Satu tahun menjabat sebagai wakil rektor di ISTEK Mulia cukup memberikan sudut pandang universal mengenai akar berdirinya universitas islam ini. Beliau mengungkap “Islam tidak pernah mengekang ilmu pada bidang-bidang tertentu. Ilmu agama yang terpisahkan dari ilmu lain adalah pemikiran teramat kuno. UIM sama sekali tidak mengadopsi pemikiran tersebut,” Lantas apa yang dimaksud dengan Universitas Islam menurut pandangan Pak Nur? Beliau menjelaskan panjang lebar terkait hakikat ilmu agama yang sebenarnya bukan terletak pada spesifikasinya seperti fiqh, hadist, atau tafsir. Melainkan bagaimana kita dapat mengombinasikan ketiga konsep dasar tersebut ke dalam bidang ilmu yang sedang ditekuni. Bagi Mahasiswa UIM saat ini berarti masuk dalam bidang teknologi, kesehatan, dan perpustakaan. “…agar setiap mahasiswa memiliki pola pikir yang luas terkait tujuan pembelajarannya di kampus ini, seperti adminkes misal, jangan sampai berfikir dangkal hanya menjadi bagian administrasi di rumah sakit, tetapi harus juga memiliki tujuan berperan dalam penertiban masyarakat. Memunculkan pola pikir ini berawal dari memadukan ilmu-ilmu dari kampus dengan kepribadian islami. Kombinasi keduanya akan menghasilkan prinsip ‘profesiku adalah jalan dakwahku’ di setiap individu,” Upaya pemaduan keduanya dapat terlihat dari adanya kurikulum BPI (Bina Pribadi Islam) dan SII (Studi Islam Intregatif) di setiap semester. Dua mata kuliah ini adalah tali penghubung yang menjadi kunci utama tercapainya kampus kontemporer sebagai pencetak pribadi professional berdaya guna, lengkap dengan pribadi islami. Setiap pernyataan beliau sangat sejalan dengan visi UIM yang berbunyi Menjadi Perguruan Tinggi berasaskan pada nilai-nilai islam holistik, rahmatan lil’alamin dan secara konsisten memberikan kontribusi kepada perkembangan kemajuan dan peradaban kemanusiaan serta siap menjadi Centre of Excellent (Pusat Unggulan). “…contoh lain pada materi kebidanan akan bersinggungan dengan ilmu fiqh terkait kenajisan darah, korelasi-korelasi sejenis itu akan mengasah cara berfikir mahasiswa. Sehingga hasil dari kampus ini nanti bukan sekedar bidan biasa,” tambah Pak Nur.     Dapat disimpulkan, UIM akan menjadi kampus yang berperan dalam penggebrakkan tembok sekularisme yang telah tebal menghalangi kemajuan peradaban islam di Indonesia. Bahkan secara logika, bukankah aneh memisahkan suatu ilmu dari sumbernya? Sebagai bangsa bermayoritas islam, kita semua sepakat pedoman setiap aspek hidup kita adalah Al-Qur’an bukan?   Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

Scroll to Top

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Warning: getimagesize(https://s01.flagcounter.com/count/QvdR/bg_FFFFFF/txt_000000/border_022ACC/columns_2/maxflags_6/viewers_0/labels_0/pageviews_1/flags_0/percent_0/): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Fatal error: Uncaught ErrorException: md5_file(/home/u1607603/public_html/wp-content/litespeed/js/3b675b84b02c59949c14e7e7f29c5572.js.tmp): Failed to open stream: No such file or directory in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php:148 Stack trace: #0 [internal function]: litespeed_exception_handler() #1 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php(148): md5_file() #2 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(842): LiteSpeed\Optimizer->serve() #3 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(392): LiteSpeed\Optimize->_build_hash_url() #4 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(265): LiteSpeed\Optimize->_optimize() #5 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(226): LiteSpeed\Optimize->_finalize() #6 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): LiteSpeed\Optimize->finalize() #7 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(205): WP_Hook->apply_filters() #8 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/core.cls.php(464): apply_filters() #9 [internal function]: LiteSpeed\Core->send_headers_force() #10 /home/u1607603/public_html/wp-includes/functions.php(5481): ob_end_flush() #11 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): wp_ob_end_flush_all() #12 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(365): WP_Hook->apply_filters() #13 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(522): WP_Hook->do_action() #14 /home/u1607603/public_html/wp-includes/load.php(1308): do_action() #15 [internal function]: shutdown_action_hook() #16 {main} thrown in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php on line 148