
Semburat jingga di ufuk barat mengiringi langkah Hazzam, Nurul, dan Luqman saat memasuki pelataran Panti Asuhan Yatim dan Dhuafa Mafaza, Yogyakarta. Kedatangan ketiga mahasiswa Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIMY) ini membawa misi yang lebih dari sekadar pemenuhan tugas mata kuliah Kewarganegaraan; mereka membawa semangat pemberdayaan bagi generasi muda. Sore itu, ruang pertemuan panti riuh dengan tawa dan antusiasme para remaja jenjang SMA yang sudah menanti kehadiran para kakak mahasiswa tersebut.
Kegiatan yang bertajuk “Bijak Menggunakan Gawai dan Media” ini lahir dari sebuah keprihatinan mendalam akan derasnya arus informasi yang menuntut kedewasaan bersikap. Hazzam, Nurul, dan Luqman ingin memastikan bahwa adik-adik di Panti Mafaza tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi mampu menjadi penguasa gawai yang berdaya guna.
Materi yang disampaikan dalam sesi ini dirancang sedemikian rupa agar benar-benar menyentuh realitas kehidupan remaja saat ini. Hazzam, Nurul, dan Luqman mengajak adik-adik SMA untuk berdialog secara jujur mengenai bagaimana etika berkomunikasi di ruang digital seringkali terabaikan. Mereka menanamkan pemahaman bahwa apa yang kita ketik dan bagikan di media sosial adalah cerminan dari karakter diri sendiri.
Lebih jauh lagi, para mahasiswa ini membekali mereka dengan “filter alami” agar tidak mudah termakan oleh berita bohong atau hoaks yang kerap memicu perpecahan. Yang tak kalah penting, mereka memberikan tips praktis bagaimana mengubah gawai yang biasanya hanya menjadi sarana hiburan, menjadi jendela untuk mengakses ilmu pengetahuan, mencari peluang beasiswa, hingga mengasah bakat kreatif yang bermanfaat untuk masa depan mereka.
Sebagai bentuk ungkapan syukur dan simbol persaudaraan, kegiatan ditutup dengan sesi makan sore bersama.Momen sederhana ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan masyarakat yang paling efektif sering kali dimulai dari hati dari kepedulian tulus yang dibangun melalui kebersamaan.
Bagi Hazzam, Nurul, dan Luqman, pertemuan sore itu bukanlah akhir dari segalanya, melainkan bibit kesadaran digital yang mereka harapkan akan terus tumbuh di benak anak-anak Panti Asuhan Mafaza. Melalui tangan-tangan remaja inilah, mereka berharap masa depan bangsa akan diisi oleh generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga berakhlak mulia di dunia nyata maupun dunia maya.

