Kreativitas Mahasiswa

Kawah candradimuka literasi dan wadah berekspresi bagi generasi muda UIM Yogyakarta. Kategori ini memayungi karya-karya orisinal mahasiswa dalam menuangkan idealisme, bakat seni, pandangan kritis, serta refleksi kehidupan kampus.

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Inspirasi Mahasiswa dari Papua : Perjalanan Apriliana Segenil dari Silimo ke Yogyakarta.

Perjalanan Inspiratif Apriliana Segenil: Dari Silimo Menuju Kampus Impian di Yogyakarta Nama lengkap saya Apriliana Segenil, dikenal sebagai April atau Ape Segenil. Saya lahir di Silimo, Kabupaten Yahukimo, Propinsi Papua Pegunungan, pada 6 April 2002. Silimo merupakan desa terpenkecil; perjalanan dari Silimo ke Jayapura membutuhkan waktu sekitar 1 jam 45 menit dengan pesawat kecil (pesawat misi). Akses ke desa tersebut hanya dapat dilakukan melalui jalur udara karena kondisi medan yang sulit untuk pembangunan infrastruktur jalan darat. Oleh karena itu, transportasi udara menjadi satu-satunya akses bagi penduduk desa hingga saat ini. Saya adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara, dan kedua orang tua saya berprofesi sebagai pendeta dan penginjil di Jemaat Bethel Silimo. Sejak usia enam tahun, saya dibesarkan dan menempuh pendidikan di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Propinsi Papua. Sebagai mahasiswa semester dua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia Yogyakarta (UIM), saat ini saya berdomisili di Kabupaten Bantul. Cerita ini bertujuan untuk mendokumentasikan perjalanan akademik saya hingga dapat melanjutkan studi S1 di UIM Yogyakarta, sekaligus menjadi motivasi bagi mahasiswa perantauan. Kehidupan perantauan memang penuh tantangan, namun melangkah keluar dari zona nyaman merupakan upaya untuk meraih masa depan yang lebih baik. Pengalaman ini menunjukkan proses kehidupan yang kompleks dan penuh dinamika, mirip dengan jalan raya yang tak selamanya beraspal. Pendidikan dan Kehidupan Asrama: Fondasi Karakter Kuat Sejak usia enam tahun, saya telah terpisah dari orang tua dan saudara kandung, tinggal di asrama dengan sistem orang tua asuh. Para pengasuh di asrama berperan sebagai orang tua pengganti, menciptakan ikatan kekeluargaan yang kuat. Bersama lima teman lainnya, kami direkrut dari Sekolah Papua Harapan, setelah melalui seleksi di Taman Kanak-Kanak Let-Let Silimo, satu-satunya TK di desa asal saya. Kami kemudian bersama-sama melanjutkan pendidikan dasar dan menengah di Sekolah Papua Harapan di Jayapura Provinsi Papua. Kehidupan asrama memberikan pengalaman berharga, baik dalam pengembangan akademis maupun rohani, menekankan pentingnya hubungan erat dengan Tuhan karena “WE ARE NOTHING WITHOUT HIM”. Pengalaman ini juga mengajarkan saya untuk mengasihi dan menghargai mereka yang bukan sedarah dan sekandung dengan saya, yang juga sama pentingnya adalah mengajarkan tentang kerasnya hidup ini Pengalaman Internasional yang Mengubah Pandangan Setelah menyelesaikan pendidikan SD-Menengah Atas (SMA) di Sekolah Papua Harapan (SPH), saya melanjutkan studi ke jenjang perguruan tinggi tanpa penundaan. Pengalaman hidup di asrama sejak usia enam tahun, berinteraksi dengan individu dari berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya telah membentuk karakter saya. Hal ini merupakan pengalaman kedua saya merantau; yang pertama saya meninggalkan keluarga di kampung halaman untuk bersekolah di Jayapura, dan keputusan untuk melanjutkan studi di Yogyakarta merupakan langkah signifikan lainnya. Sebelumnya saya mengikuti program perkuliahan daring selama dua tahun (2021-2023) di Papua Hope Language Institute (PHLI). PHLI adalah lembaga yang memfasilitasi mahasiswa berprestasi orang asli Papua untuk studi di luar negeri dengan seleksi program beasiswa pemerintah PAPUA. Pemerintah melalui PHLI memberikan kesempatan kepada saya untuk kuliah di Seattle Pacific University, Amerika Serikat (daring), mengambil jurusan Nutrisi. Minat saya terhadap perawatan kesehatan dan keinginan untuk berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat di daerah terpencil menjadi motivasi utama. Saya percaya kesehatan fisik dan rohani saling berkaitan, sehingga pembinaan iman merupakan bagian penting. PHLI juga merupakan lembaga yang berlandaskan nilai-nilai keagamaan (KRISTEN), menyediakan program ibadah mingguan secara rutin. Selain pengajar lokal, Papua Hope Language Institute (PHLI) juga menyediakan bimbingan dari dosen Amerika dan akses ke kelas daring di Corban dan George Fox University, tempat saya mengambil beberapa mata kuliah. Pada Agustus 2023, saya lulus dari PHLI dan menerima sertifikat penguasaan bahasa. Rencana studi lanjut di luar negeri terpaksa dibatalkan karena berpulangnya Bapak Lukas Enembe, Gubernur Papua yang merupakan sponsor program beasiswa bagi para dokter dan guru anak asli PAPUA (Program Seribu Dokter & Guru), termasuk saya. Meskipun demikian, saya bersyukur atas pengalaman berharga selama tiga tahun di PHLI yang telah memberikan bekal pengetahuan yang berharga. Menemukan Kampus Baru dan Merajut Asa di UIM Yogyakarta Setelah lulus dari PHLI pada Agustus 2023, saya melanjutkan rencana studi S1. Dengan sempat mendaftar di beberapa perguruan tinggi di Jayapura, namun saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di luar Papua, sehingga mendaftar di beberapa perguruan tinggi di luar Papua. Hampir semua jalur pendaftaran perguruan tinggi telah ditutup, menyebabkan kebingungan. Suatu hari saat mengakses media sosial (Instagram), saya menemukan informasi penerimaan mahasiswa baru di UIM Yogyakarta. Rasa tak percaya muncul, mengingat persyaratan masuk perguruan tinggi umumnya cukup ketat. Namun, saya memutuskan untuk mendaftar. Puji Tuhan, saya diterima di Universitas Islam Mulia Yogyakarta dengan potongan beasiswa sebesar 79%, berkat pendaftaran pada bulan Agustus, bulan kemerdekaan Indonesia. Meskipun memiliki ketertarikan di bidang medis sebelumnya, saya memilih untuk mengambil program studi S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Islam Mulia (UIM) karena selaras dengan minat dan pengalaman saya. Dimana saya mengajar Bahasa Inggris dasar kepada anak-anak usia SD hingga SMA bahkan beberapa Mahasiswa (“English Basic for Beginner”) di lingkungan tempat saya tinggal, telah membangkitkan minat dan kepuasan dalam bidang pendidikan, sehingga saya memilih untuk menempuh studi Pendidikan Bahasa Inggris untuk mengembangkan minat di bidang pendidikan. Penerimaan ini merupakan berkat dan anugerah dari TUHAN yang tak terduga, sebuah pencapaian luar biasa dalam perjalanan pendidikan saya. Lingkungan Kampus yang Toleran dan Inklusif Kampus ini sangat toleran, mulai dari rektor, dosen, karyawan, hingga mahasiswa dan warga sekitar. Lingkungan yang aman dan nyaman membuat saya dapat berkuliah tanpa rasa khawatir. Sebagai mahasiswa perantau dari Indonesia Timur, saya merasa diterima dan menjadi bagian integral dari UIM Yogyakarta. Pemilihan UIM Yogyakarta sebagai kampus utama didasari oleh reputasi akademiknya, program studi yang sesuai dengan minat saya, dan suasana belajar yang kondusif. Untuk menutup, seperti ada pepatah, “Sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu punya tempat untuk pulang, yaitu keluarga. Seorang perantau pergi untuk kembali dan membuktikan perubahan pada diri sendiri, keluarga, dan bangsa.” Tekad ini mendorong saya untuk memaksimalkan kesempatan berkuliah demi meraih cita-cita dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Penulis : Apriliana Segenil Mahasiswi Bahasa Inggris UIM Yogyakarta Instagram : @apriliana_segenil

AKSI UIM (Artikel Kritis dan Solutif Mahasiswa UIM)

Feminisme dalam Islam

Feminisme, Liberalisme, dan Islam: Perspektif Kritis Seorang Muslimah Prolog  Di tengah arus zaman yang kian deras dan kompleks, feminisme bukan lagi sekadar wacana pinggiran. Ia hadir sebagai respons atas ketimpangan yang mengakar, dan dalam perjalanannya, bersinggungan erat dengan berbagai ideologi besar dunia—salah satunya, liberalisme. Sebagai dua kekuatan pemikiran yang turut membentuk lanskap sosial di muka bumi ini, tulisan ini mencoba menelusuri relasi keduanya, menggali titik temu dan ketegangan yang muncul ketika perjuangan hak perempuan bersandar pada prinsip-prinsip kebebasan individual. Namun dalam riuhnya perdebatan modern tentang perempuan dan perannya, kadang kita lupa menoleh pada jejak yang telah lebih dahulu hadir—sebuah sosok yang diam tapi pasti, kuat namun tak kehilangan kelembutan, menjadi teladan bukan karena suara kerasnya, melainkan karena keberanian dan keyakinannya yang tenang. Semoga pembacaan ini menjadi pengingat, bahwa arah perjuangan kita tak harus selalu baru untuk menjadi benar. … Halo. Namaku Shafa. Bagi yang mengenalku, bukan rahasia lagi kalau aku memang suka banget budaya Eropa. Dari banyaknya informasi yang kuterima tentang bidang tersebut, melalui berbagai macam media; buku, film, media sosial, berita, dan lain-lain, aku bersyukur masih dapat kesempatan buat mempertahankan kelogisanku sebagai perempuan muslim yang hidup pada zaman sekarang, kesadaranku untuk memisahkan mana yang tidak sesuai ajaran Islam dan tidak boleh dibiarkan memengaruhi perilaku/prinsip ku. Nah, dari pengalaman tersebut, aku terinspirasi untuk menulis artikel ini, sharing pendapat serta pengetahuanku tentang topik feminisme. Tentunya, seperti yang aku mention tadi, karena aku banyak melahap konten dari negara-negara orang berkulit putih, di sini aku hanya menyeret beberapa pendekatan dari dunia industri hiburan Barat, ya, baik perfilmannya maupun dunia sastra-nya, bukan tulisan ilmiah yang didukung beberapa judul studi literatur valid dan relevan. So, let’s just get started! I.Feminisme dan liberalisme Feminisme dapat didefinisikan sebagai suatu paham seputar berbagai isu terkait perempuan di seluruh dunia dengan cara-cara terpilih yang dapat diterapkan pada budaya atau masyarakat tertentu. Perlu digarisbawahi, cara-cara terpilih dan budaya atau masyarakat tertentu. Aku pernah melihat suatu video di media sosial yang memperlihatkan seorang wanita muslim ditanyai, “Apa kamu mengkategorikan dirimu feminis?” Sang wanita butuh waktu sekitar tiga detik sebelum menjawab dengan mantap, “Aku rasa tergantung pada definisi feminis yang kamu maksud. Kita hidup pada zaman di mana feminisme dikorelasikan dengan stereotip perempuan tangguh, berkarir cemerlang, tidak menikah, mandiri dan bebas, pengaruh persebaran sudut pandang orang-orang non-muslim. Kalau yang kamu maksud feminisme seperti itu, yang lekat dan tercampur budaya Barat, maka aku bukan (feminis). Tapi, kalau yang kamu maksud adalah feminisme yang berada pada koridor lurus ajaran-ajaran Islam, tidak keras dan berpedoman pada tokoh wanita tangguh pada zaman Rasulullah (yang tentu saja disesuaikan dengan perubahan zaman sekarang), maka iya, aku adalah seorang feminis.” Wah, setuju banget ini mah! Jawaban wanita tersebut sangat mewakili banyaknya muslimah modern-namun-berprinsip yang resah terhadap rentetan pro dan kontra tentang feminisme, tidak terkecuali aku sendiri. Ngomongin feminisme, apa, sih, landasan dasar dari paham tersebut? Harapan supaya kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan bisa terwujud, ‘amarah’ kaum perempuan yang terpelihara selama berabad-abad. Bagi individu yang awam tentang feminisme, sebenernya gak nyalahin kalau pada salah kaprah dalam mendefinisikan istilah tersebut sebagai suatu paham yang seolah ngotot dalam menegakkan keadilan bagi perempuan, terkesan judes tak beralasan terhadap kaum laki-laki. Gak nyalahin, sebab arus informasi yang deras pada zaman sekarang ini memang banyak berkontribusi pada bias pemahaman suatu individu. Tidak jarang memang ada yang sengaja membelokkan arti sesungguhnya atau menambahkan unsur yang tidak diperlukan, supaya banyak yang berkerut kening saat mempelajari topik ini dan lantas menghakimi lalu membenci. Aku pernah memposting story di IG yang bertuliskan “Life without sexist, misogynist, and left-wing-feminist. Life when a rainbow is just a rainbow. Life when a woman is a woman, a man is a man.” Artinya adalah:  “Hidup tanpa kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Hidup ketika pelangi hanyalah sebatas pelangi. Hidup ketika seorang wanita adalah wanita, pria adalah pria.” Itu merupakan ungkapan keresahanku terhadap budaya Barat (terutama Amerika, tentu saja) yang semakin saja menormalisasikan perilaku sinting mengakui eksistensi gender dan seksualitas lain (iya, tentang si LGBTQ+ itu, lho) dan sebagai pelopor menjamurnya kehadiran seorang seksis, misoginis, dan feminis sayap-kiri. Buat yang belum tahu apa itu seorang seksis dan misoginis, biar aku jelaskan dulu. Seksisme berarti prasangka atau diskriminasi gender, keyakinan bahwa satu jenis kelamin secara intrinsik lebih unggul daripada yang lain. Iya, bisa terjadi pada masing-masing jenis kelamin, tapi seringnya terhadap perempuan (sejarah mencatat itu!). Jadi, seksis dapat dipahami adalah seorang yang rasis terhadap jenis kelamin lainnya. Misogini berarti kebencian dan penghinaan terhadap kaum perempuan. Ini adalah bentuk seksisme yang memosisikan perempuan pada status sosial yang lebih rendah daripada laki-laki, mengamankan peran sosial patriarki. Left-winged feminist merujuk pada impostor aktivis feminisme yang memunculkan bias penilaian terhadap paham tersebut. … Balik lagi ke story IG ku. Gambar yang aku sertakan pada tulisan itu menampilkan ilustrasi gaya hidup tentram, sederhana, cantik, murni. Yang aku maksud dari tulisan dan gambar itu adalah, se-waras ini, lho, kehidupan tanpa kehadiran mereka-mereka itu, dan pada saat sebelum pelangi dikontaminasi sebagai identitas lambang LGBTQ+, serta sebelum normalisasi gender dan jenis kelamin buatan. Oh, ya, gender dan jenis kelamin itu berbeda, ya. Jenis kelamin sudah jelas hanya ada dua, laki-laki dan perempuan (yang bilang ada lagi selain dua itu, berarti dia tersesat, kasihan). Ada pun gender, menurut Mualimah dan Yusuf dalam buku Diskriminasi Gender dalam Promosi Jabatan (2022), adalah “konstruksi sosial tentang perbedaan peran, kedudukan, serta kesempatan antara perempuan dan pria, dalam kehidupan keluarga atau masyarakat.” I.I Feminisme yang sehat Pada umur 16 kemarin (kelas dua SMA), setelah menonton film Little Women (2019) yang dibintangi Saoirse Ronan, Timothee Chalamet, dan salah satu aktris sekaligus tokoh feminisme terkenal yaitu Emma Watson, aku mendapat pandangan baru terkait feminisme yang sehat, yang tidak terkontaminasi kepercayaan sayap kiri generasi sekarang: bahwa itu bukan selalu tentang perempuan menjadi bebas, tidak menikah, berkarir cemerlang, segala cerocosan tentang perempuan harus punya kebebasan dan pilihan sendiri bla bla bla, tapi implementasi yang sehat adalah membiarkan perempuan lain menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri, tak terkecuali menjadi wanita berkeluarga. Perlu digaris bawahi, sering dilupakan konsep lain feminisme adalah menghargai pilihan setiap perempuan. Tentang Emma Watson dan pilihannya membintangi film tersebut. Jadi, tokoh utama di Little Women yang bernama Jo March (baik novel maupun adaptasi filmnya) ini merepresentasikan tokoh ‘perempuan berjiwa bebas’. Ia punya tiga saudara perempuan, salah satunya Meg, yang bertolak belakang dengan Jo. Keputusan Emma Watson memilih tokoh Meg, dan bukannya Jo lumayan mengejutkan saat itu. Pasalnya, seperti yang aku bilang tadi, Watson

Scroll to Top