Sirkel Jiwa Pendidik
Ada hadist yang berbunyi : Al arwaahu junuudun mujannadah famaa ta’aarafa minhaa intalafa. Memiliki arti “Ruh-ruh manusia bagaikan pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal, maka mereka akan bersatu padu.” [HR. Muslim] Penafsiran hadist tersebut banyak mengarah pada proses pembentukan lingkaran sosial, atau yang akhir-akhir ini lebih lazim disebut ‘sirkel’. Hadist tersebut memaparkan bahwa sirkel seseorang akan terbentuk ketika memiliki ketertarikan yang sama pada sesuatu. Sebagai perincian kaidah tersebut, banyak teori ilmiah yang membahasnya dan membahasakan kondisi ini dengan sebutan ‘clique’. Sedikit disclaimer, artikel ini tidak akan menjelaskan lebih lanjut terkait hal tersebut, tetapi fokus pada kisah kehidupan salah satu tokoh UIM yang dapat menjadi bukti nyata berlakunya kaidah pembentukan sirkel tersebut yaitu Drs. H. Nur Hidayat Pamungkas. M.Pd. Memiliki latar belakang keluarga pendidik, Pak Nur Hidayat terus dipertemukan dengan lingkungan yang menyongsong pendidikan bangsa. Prinsip ‘berperan di dunia pendidikan tidak akan pernah rugi’ yang dipegang, mengantarkan beliau pada 3 kampus di Yogyakarta yaitu STIKES, UAD, dan AKBID MMY. Tidak hanya itu, Pak Nur pun aktif mengunjungi banyak pesantren dan masjid untuk menyebarkan ilmu. Tak tertinggal, sebagai ilmu spesifik Pak Nur juga menjadi Pembimbing haji dan umroh di Hasuna Tour. Jiwa pendidik mendorong beliau untuk memberikan jalan kepada anak-anak yatim dan dhu’afa untuk dapat melanjutkan pendidikan. Maka posisi beliau sebagai Direktur Lembaga Pendamping dan Pengembangan (LP2U) Ummu Salamah mengambil peran tersebut. Beliau terus mengupayakan agar kesempatan menempuh pendidikan dapat dirasakan siapapun. Selama menjadi staf pengajar di kampus STIKES dan UAD, beliau kerap diajak diskusi pendidikan. Berbagai wawasan terkait perguruan tinggi akhirnya banyak didapat dari sesi-sesi diskusi tersebut. Pak Nur melanjutkan perjalanan ‘panggilan hati’-nya dengan merancang konsep universitas islami. Kaidah sirkel kembali bekerja, Pak Nur dipertemukan dengan Konsorsium Yayasan Mulia saat sedang bekerja di AKBID MMY (Akademi Bidan Mulia Madani Yogyakarta). Berbagai rapat diadakan, penyamaan konsep dilaksanakan, berdirilah ISTEK Mulia (Institut Sains & Teknologi Kesehatan) sebagai kampus adik dari AKBID MMY pada tahun 2022. Lengkap dengan banyaknya tawaran beasiswa seperti harapan Pak Nur sejak lama. Pada saat itu Pak Nur dipercayakan menjadi wakil rektor di ISTEK sekaligus membimbing AKBID MMY selama jalan berdampingan. Tak lama setelah itu, kini kedua kampus tersebut telah resmi menjadi universitas dengan mengusung nama UIM Yogyakarta (Universitas Islam Mulia Yogyakarta). Kurun waktu yang cukup cepat ini pun lagi-lagi adalah efek sirkel para pendidik yang memiliki visi sama sehingga saling bekerja sama dalam menghasilkan lembaga pendidikan berkualitas untuk para pemuda calon pemimpin bangsa. Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

