Pendidikan Islam

RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Musyrifah Gen-Z

Berawal dari keinginan ku merantau untuk menempuh pendidikan jenjang perguruan tinggi, dengan tidak menghilangkan identitas ku sebagai santriwati yang telah menempuh pendidikan selama 6 tahun di pondok pesantren juga mengabdi satu tahun setelahnya. Bagiku merantau bukan suatu hal yang asing karena sejatinya mental ku sudah terlatih sejak lama untuk berada jauh dari orang tua. Saat itu aku berfikir dan menyusun rencana sematang mungkin bagaimana caranya nanti setelah aku merantau, lalu beralih pada jati diri yang baru, tetapi integritas diri ku sebagai santriwati tidak lantas hilang begitu saja terbawa arus zaman seperti kebanyakan orang yang menganalogikan dengan sebutan “mantan santri”. Singkat cerita, atas izin Allah aku menempuh jenjang perguruan tinggi di Universitas Islam Mulia Yogyakarta. Universitas Islam Mulia yang biasa disebut UIM merupakan perguruan tinggi swasta yang menjunjung nilai-nilai islam holistik, terbukti dari banyaknya jalur beasiswa bagi para santri, tahfidzul Quran dan jalur prestasi lainnya Hai sobat muda mulia… aku Nabilla mahasiswi semester 4 program studi administrasi kesehatan, dan disinilah kisah ku dimulai. Aku menjadi bagian dari mahasiswi kampus UIM melalui jalur penerimaan beasiswa tahfidz. Pertama kali datang ke Jogja, aku bertempat tinggal di asrama yang menjadi salah satu fasilitas kampus untuk mahasiswa yang berasal dari perantauan. Hari demi hari kujalani kehidupan baru ku di asrama kampus dengan berbagai kegiatan yang sangat produktif, mulai dari solat lima waktu berjama’ah, berangkat kuliah, kajian sore, tadarus Al-Quran dan kegiatan lainnya. Selain tinggal di asrama kampus, aku dan beberapa teman ku yang masuk melalui jalur beasiswa tahfidz juga pernah bertempat tinggal di Rumah Penghafal Quran (RPQ) Ainul Mardiyah yang merupakan kebijakan kampus untuk mahasiswi jalur beasiswa tahfidz. Keberadaan kami di RPQ dibawah bimbingan Ustadz Nurhidayat yang dibersamai ustadz dan ustadzah pengampu. Tujuan kami ditempatkan di RPQ untuk menjaga kuallitas hafalan agar tetap disiplin dan tidak lalai ditengah kesibukan kami sebagai mahasiswi. Tetapi karena suatu hal, akhirnya aku dan teman-teman seperjuangan ku pun pindah lagi dan kami memutuskan untuk menjadi anak kos yang berada di sekitar kampus. Kalo diingat, lucu juga perjalanan tempat tinggal kami yang berpindah-pindah padahal saat itu kami baru beranjak semester 2 dan sudah tiga tempat tinggal kami rasakan. Setelah menjalani kehidupan menjadi anak kos aku pun mencari kesibukan lain, seperti mulai mengajar mengaji di TPA sekitar dan juga menjadi guru mengaji privat. Selain itu, aku juga mencoba mendaftar menjadi musyrifah di salah satu unit pendidikan yayasan mulia. Dari berbagai kesibukan yang kujalani dan berbagai peluang pengalaman yang ingin kucoba, tidak lain sebagai upaya ku sebagai mahasiswi perantauan dengan tetap menjaga jati diri nya sebagai santri dengan segala kedisiplinan dalam kesehariannya baik dari segi ibadah, murojaah hafalan dan lingkar pergaulan. Setelah beberapa waktu menanti, tepatnya pada 20 juli 2024 aku resmi menjadi musyrifah di Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar Ash-Shiddiq Yogyakarta. Dengan segala rasa berat hati meninggalkan anak-anak TPA, anak les privat ku dan kehidupan nyaman menjadi anak kos yang rasanya lebih punya waktu fleksibel antara kuliah, tanggung jawab lain, istirahat, dan pastinya waktu main bareng temen-temen lebih bebas, hehe. Pondok Pesantren Terpadu Abu Bakar merupakan asrama putri yang difasilitasi untuk siswi boarding school SMAIT Abu Bakar Yogyakarta. Awal aku bergabung di asrama menjadi musyrifah, pastinya sangat merasa canggung dengan segala culture baru yang kutemui, terlebih harus mengenal karakter anak-anak yang beragam dengan usia mereka yang terpaut dekat dengan ku. Aku diamanahkan menjadi musyrifah siswi kelas 1 SMA. Untuk kesekian kalinya skill ku dalam beradaptasi diuji. Memulai lagi untuk saling mengenal hal-hal baru, dari kondisi asrama, aturan-aturan yang ada, juga mengenal banyak karakter orang dari berbagai daerah. Bagiku tinggal di asrama sebagai musyrifah tidak beda jauh dengan pengalaman ku mengabdi di pondok, dan panggilan ustadzah pun sudah tidak asing lagi di telinga ku. Beda hal dengan anak-anak yang sebagian besar baru merasakan kehidupan di asrama yang menuntut mereka untuk belajar mandiri dan tanggung jawab atas dirinya sendiri, walaupun beberapa anak sudah pernah tinggal di asrama atau dari pondok juga. Satu hal random yang pertama kali kudapati di awal perkenalan dengan anak-anak halaqoh ku yaitu soal panggilan ku untuk mereka. Disaat ustadzah lain memanggil mereka dengan sebutan “anak-anak”, tapi tidak dengan ku yang memanggil mereka dengan sebutan “adik-adik”. Bukan tanpa alasan aku memanggil mereka dengan sebutan “adik”, melainkan POV ku sebagai musyrifah gen Z dan merasa usia kami seperti layaknya kakak dan adik. Hingga suatu ketika, ada salah satu anak yang membalikkan panggilan ku, celetukan nya yang spontan membuat ku tersenyum dan sedikit salting hihii. Begini katanya “ustadzah kan panggil kita “adik-adik” (sambil meniru nada bicara ku), kenapa kita ga panggil ustadzah nabila jadi kak nabila atau mbak nabila saja, kan ustadzah masih muda kenapa dipanggil ustadzah?” Saat itu aku hanya bisa menjawab “ihh bisa aja kamu bercandanya”, tapi lain lagi dalam hati, spontan aku membatin, “hmm emang kalo jadi ustadzah harus sepuh dulu hahah”. Akhirnya perlahan aku terbiasa memanggil mereka dengan panggilan “nak” seperti ustadzah lain. Dibalik keseruan dengan berbagai hal random anak-anak, ada kalanya aku merasa lelah dengan kepadatan aktivitas kampus, sekaligus kewajiban ku di asrama yang setiap harinya terasa menanti sepulang ku dari kampus. Banyak faktor yang jadi penyebab kelelahan ku. Mulai dari jarak tempuh dari asrama ke kampus yang cukup jauh dan sangat menguras energi beserta segala keemosian ku di jalan. Oiya, jangan lupakan ruang kelas ku yang berada di lantai 4 dan kamar ku di lantai 3, bisa kebayang kan gimana setiap sampai kampus dan asrama aku harus menarik nafas lelah untuk menaiki setiap anak tangga. Sesampainya di asrama pun kadang ada saja hal diluar dugaan, mungkin ada anak yang sakit, atau laporan lainnya. Belum lagi semester 4 yang konon “nyatanya” bergelut dengan segala tugasnya yang tiada henti. Sisi positif yang bisa kuambil dari segala keluh kesah ku setiap harinya, yaitu selalu berusaha untuk menanamkan keihklasan atas apa yang sedang kujalani. Mungkin kalo kalian pernah dengar, ikhlas adalah pelajaran seumur hidup untuk kita benar-benar bisa memaknai dan menjalani esensi dari ikhlas itu sendiri. Kalimat andalan ku kalo lagi merasa capek dengan segala huru-hara duniawi “ikhlas bill, kan semua ini kamu yang pilih dan jalani”. Begitulah kira-kira motivasi untuk diri sendiri hihiii. Alhamdulillah nya sampai rentang waktu hampir

SMART UIM (Student's Mind, Article, Reflection & Thought)

Kampus Kontemporer Anti-Sekuler : Sinergi Ilmu Ulum & Islam di UIM

“Kampus Kontemporer Anti-Sekuler” adalah istilah yang dapat disimpulkan dari hasil wawancara salah satu petinggi UIM, Pak Nur Hidayat Pamungkas. Satu tahun menjabat sebagai wakil rektor di ISTEK Mulia cukup memberikan sudut pandang universal mengenai akar berdirinya universitas islam ini. Beliau mengungkap “Islam tidak pernah mengekang ilmu pada bidang-bidang tertentu. Ilmu agama yang terpisahkan dari ilmu lain adalah pemikiran teramat kuno. UIM sama sekali tidak mengadopsi pemikiran tersebut,” Lantas apa yang dimaksud dengan Universitas Islam menurut pandangan Pak Nur? Beliau menjelaskan panjang lebar terkait hakikat ilmu agama yang sebenarnya bukan terletak pada spesifikasinya seperti fiqh, hadist, atau tafsir. Melainkan bagaimana kita dapat mengombinasikan ketiga konsep dasar tersebut ke dalam bidang ilmu yang sedang ditekuni. Bagi Mahasiswa UIM saat ini berarti masuk dalam bidang teknologi, kesehatan, dan perpustakaan. “…agar setiap mahasiswa memiliki pola pikir yang luas terkait tujuan pembelajarannya di kampus ini, seperti adminkes misal, jangan sampai berfikir dangkal hanya menjadi bagian administrasi di rumah sakit, tetapi harus juga memiliki tujuan berperan dalam penertiban masyarakat. Memunculkan pola pikir ini berawal dari memadukan ilmu-ilmu dari kampus dengan kepribadian islami. Kombinasi keduanya akan menghasilkan prinsip ‘profesiku adalah jalan dakwahku’ di setiap individu,” Upaya pemaduan keduanya dapat terlihat dari adanya kurikulum BPI (Bina Pribadi Islam) dan SII (Studi Islam Intregatif) di setiap semester. Dua mata kuliah ini adalah tali penghubung yang menjadi kunci utama tercapainya kampus kontemporer sebagai pencetak pribadi professional berdaya guna, lengkap dengan pribadi islami. Setiap pernyataan beliau sangat sejalan dengan visi UIM yang berbunyi Menjadi Perguruan Tinggi berasaskan pada nilai-nilai islam holistik, rahmatan lil’alamin dan secara konsisten memberikan kontribusi kepada perkembangan kemajuan dan peradaban kemanusiaan serta siap menjadi Centre of Excellent (Pusat Unggulan). “…contoh lain pada materi kebidanan akan bersinggungan dengan ilmu fiqh terkait kenajisan darah, korelasi-korelasi sejenis itu akan mengasah cara berfikir mahasiswa. Sehingga hasil dari kampus ini nanti bukan sekedar bidan biasa,” tambah Pak Nur.     Dapat disimpulkan, UIM akan menjadi kampus yang berperan dalam penggebrakkan tembok sekularisme yang telah tebal menghalangi kemajuan peradaban islam di Indonesia. Bahkan secara logika, bukankah aneh memisahkan suatu ilmu dari sumbernya? Sebagai bangsa bermayoritas islam, kita semua sepakat pedoman setiap aspek hidup kita adalah Al-Qur’an bukan?   Penulis : Syifa Iswi Liani Mahasiswi Perpustakaan Sains & Informasi UIM Yogyakarta Mahasiswi Bahasa & Sastra Prancis UGM Yogyakarta Instagram : @sil_syifa05

Scroll to Top

Warning: getimagesize(): https:// wrapper is disabled in the server configuration by allow_url_fopen=0 in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Warning: getimagesize(https://s01.flagcounter.com/count/QvdR/bg_FFFFFF/txt_000000/border_022ACC/columns_2/maxflags_6/viewers_0/labels_0/pageviews_1/flags_0/percent_0/): Failed to open stream: no suitable wrapper could be found in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/media.cls.php on line 1038

Fatal error: Uncaught ErrorException: md5_file(/home/u1607603/public_html/wp-content/litespeed/js/ad609e7246daddf11ee0c2cef5e9e85a.js.tmp): Failed to open stream: No such file or directory in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php:148 Stack trace: #0 [internal function]: litespeed_exception_handler() #1 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php(148): md5_file() #2 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(842): LiteSpeed\Optimizer->serve() #3 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(392): LiteSpeed\Optimize->_build_hash_url() #4 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(265): LiteSpeed\Optimize->_optimize() #5 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(226): LiteSpeed\Optimize->_finalize() #6 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): LiteSpeed\Optimize->finalize() #7 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(205): WP_Hook->apply_filters() #8 /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/core.cls.php(464): apply_filters() #9 [internal function]: LiteSpeed\Core->send_headers_force() #10 /home/u1607603/public_html/wp-includes/functions.php(5481): ob_end_flush() #11 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(341): wp_ob_end_flush_all() #12 /home/u1607603/public_html/wp-includes/class-wp-hook.php(365): WP_Hook->apply_filters() #13 /home/u1607603/public_html/wp-includes/plugin.php(522): WP_Hook->do_action() #14 /home/u1607603/public_html/wp-includes/load.php(1308): do_action() #15 [internal function]: shutdown_action_hook() #16 {main} thrown in /home/u1607603/public_html/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php on line 148