RuMah (Rubrik Mahasiswa )

Belajar dari Jogja : Relasi, Ruang, dan Rasa yang Tumbuh Bersama.

Jogja selalu punya cara mengajari sesuatu  -bukan hanya lewat ruang kelas atau lembaran silabus, tapi lewat ruang-ruang tak terduga yang menjadi tempat tumbuhnya relasi, percakapan, dan rasa. Selama menempuh pendidikan di kota ini, aku menemukan pelajaran yang tak pernah tertulis dalam kontrak kuliah: pentingnya relasi sebagai bagian dari proses intelektual dan emosional sebagai seorang mahasiswa.      Awalnya, aku tidak benar-benar menyadari betapa besar pengaruh hubungan antarmanusia dalam hidupku. Sebagaimana mahasiswa pada umumnya, aku menjalani hari-hari dengan ritme akademik yang kaku : hadir di kelas, mencatat, pulang. Tapi suatu ketika, sebuah pertemuan kecil mengubah arah pandangku. Saat itu, aku bertemu kembali dengan seorang teman lama dari SMP. Kami duduk di sebuah coffee shop di kawasan Jogja, lalu ia memperkenalkanku pada teman-temannya dari kampus lain. Obrolan yang awalnya hanya nostalgia berubah menjadi diskusi serius tentang isu- isu kampus, topik penelitian, bahkan keresahan pribadi kami sebagai mahasiswa.      Itu bukan satu-satunya momen penting. Di acara umum seperti seminar, workshop, aksi dll. yang kuikuti di luar kampus, aku juga bertemu dengan banyak orang baru dari berbagai latar belakang dan universitas. Mereka datang dengan cerita dan cara pandang yang beragam—dan dari situ, aku merasa bahwa ruang-ruang seperti itu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam cara berpikirku.      Yang menarik, semua relasi yang terbentuk—baik dari teman SMP, teman mereka dari kampus lain, maupun kenalan baru dari seminar—secara alami menjadi bagian penting dalam proses belajarku. Mereka bukan hanya tempat bertukar informasi, tapi juga ruang untuk menguji gagasan, membahas pilihan, dan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Diskusi yang terbangun bersama mereka tak melulu bersifat akademik, tapi sering kali menyentuh dimensi praktis dan personal yang memperkaya pemahamanku tentang banyak hal.      Dari pertemuan-pertemuan ini, aku menyadari bahwa relasi bisa menjadi bentuk pengetahuan yang hidup. Melalui mereka, wawasan bertambah, pemikiran berkembang, dan keputusan menjadi lebih terarah. Dalam lingkungan yang penuh ketidakpastian seperti kehidupan kampus, kehadiran mereka menjadi bagian penting dari proses adaptasi dan pertumbuhan. Selama proses ini berlangsung, aku teringat pada sebuah kutipan dari Paulo Freire yang berbunyi: “Knowledge emerges only through invention and re-invention, through the restless, impatient, continuing, hopeful inquiry human beings pursue in the world, with the world, and with each other.” “Pengetahuan muncul hanya melalui penciptaan dan penciptaan kembali—melalui pencarian yang gelisah, tak sabar, terus-menerus, dan penuh harapan yang dijalani manusia dalam dunia, bersama dunia, dan bersama satu sama lain.”      Kutipan itu seolah menggambarkan bagaimana diskusi, pertemuan, dan hubungan sosial yang kujalani selama di Jogja telah menjadi bagian dari proses belajarku—bukan sekadar sebagai pelengkap, melainkan sebagai ruang tumbuh pengetahuan itu sendiri. Fenomena ini bisa dikaitkan dengan konsep “ruang ketiga” dari Ray Oldenburg, yakni ruang informal di luar rumah dan tempat kerja (atau kampus) yang memungkinkan percakapan santai namun bermakna. Coffee shop, seminar terbuka, bahkan obrolan yang tak sengaja terucap, mampu menjadikan ruang ketiga yang mempertemukan kami dalam percakapan bebas tekanan. Di sanalah pengetahuan tak lagi hanya dimonopoli oleh ruang kelas.      Selain itu, relasi yang terbentuk bisa dipahami sebagai modal sosial, istilah yang dipopulerkan oleh Pierre Bourdieu—yakni sumber daya yang berasal dari jaringan sosial yang dimiliki seseorang. Dalam konteks ini, modal sosial tidak hanya membantuku dalam aspek praktis seperti mencari referensi atau bantuan akademik, tetapi juga membentuk kerangka berpikir yang lebih terbuka dan reflektif.      Jogja, dengan segala kelonggaran dan kehangatannya, memberi ruang bagi relasi-relasi itu untuk tumbuh. Kota ini mengajarkan bahwa belajar bukan sekadar menghafal materi, tapi juga menyimak cerita orang lain, memahami sudut pandang baru, dan hadir dalam ruang-ruang bersama yang menciptakan rasa. Kini aku percaya, bahwa salah satu bekal terpenting yang kubawa pulang dari dunia kampus bukan hanya transkrip nilai, tetapi juga jaringan relasi yang pernah menemaniku di tengah malam yang kacau, pagi-pagi penuh keresahan, dan siang-siang penuh diskusi. Karena di antara buku dan tugas, relasilah yang membuatku bertahan dan bertumbuh.      Dan buat teman-teman kampusku, mungkin tulisan ini kesannya terlalu fokus sama relasi di luar kampus. Tapi jujur, kalian juga bagian penting dari cerita ini. Obrolan singkat di kelas, saling bantu pas tugas mepet deadline, atau sekadar duduk bareng di angkringan shaka—semua itu juga berperan besar dalam perjalanan belajarku di Jogja. Karena di antara tugas, deadline, dan segala tekanan, relasi-relasi kayak kalianlah yang bikin semuanya terasa lebih bisa dijalani tanpa menganal kata “Bersaing”. Dan aku bersyukur banget bisa punya kalian di cerita ini.Jadi, terima kasih juga untuk kalian. Karena di tengah sibuk dan riuhnya dunia kampus, kehadiran kalian bikin semuanya jadi lebih ringan dan bermakna. Awww… Penulis : Muhammad Azzam Muttaqien Mahasiswa Informatika Sains & Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @azmmuttaqin