Sirkel Pertemanan Lulusan Pesantren
Dari bervariasinya prasangka dan keresahan tentang warna yang orang-orang pada masa kuliahku akan tularkan, beruntungnya, aku dipertemukan dengan mereka yang … apa ya sebutannya, berada pada koridor yang aman? Ha, pokoknya kalian paham lah maksudku; tanpa disadari pun, satu sama lain selalu mengingatkan kebaikan. Mereka yang … waras. Rasional. Lebih lanjutnya, secara spesifik, kini teman-temanku lulusan pesantren semua. Hal terakhir yang bisa kutebak dari sirkel pertemanan yang akan kudapat pada masa kuliah. Pasalnya, kau harus selalu siap bertemu orang dengan beragam sifatnya yang tak terduga, pada jenjang kehidupan mana pun, apalagi pada masa peralihan usia remaja menjadi dewasa ini, dengan intensitas pertemuan yang melibatkan pola pikir logis, tapi juga berempati, tapi juga ‘bertahan hidup’ dengan mempertahankan imej, tapi juga rentan untuk menjadi tulus, kesemuanya memenuhi tuntutan sosial tapi jangan kehilangan prinsip dalam dirimu juga pada prosesnya. Aku nulisnya ribet banget ya, cape deh. Padahal maksud simpelku, ya, kita bakal terus ketemu orang banyak, dan masa perkuliahan ini lah notabene-nya orang mulai mengenal pergaulan yang bermacam-macam, paling buruknya; menyimpang dan bebas. Aku menjadi salah satu yang terhindar — kalau bukan menghindar — dari sekumpulan individu yang kegemarannya sangat menjauhi prinsipku; gaya hidup hedon, kecenderungan mengumbar hal privasi di media sosial, mengupload status berisikan energi negatif (menyindir seseorang tertentu, sarkas terhadap sesuatu yang gak penting), enteng melontarkan bahasa kasar, oh, banyak kalau mau disebutin di sini, tapi, poin yang paling kugarisbawahinya adalah -> pacaran. [Shout out to the thoughtful and most admirable high school friends of mine, I am able to prevent myself into engaged to numerous act of romantic approach from boys since then. Never been in a relationship became one of the accomplishment I most proud of. Though, if I am to put it more matter-of-fact-ly, I’ve been holding this ‘sad girl’ title ever since in junior high school, ha! No wonder. The boys I interested in were never once return the same feelings! Believe it or not, that is the truth. ANYWAY, back to the topic. Mau tahu persepsiku terhadap ‘anak pesantren’? Jujur, aku tidak mengkategorikannya akrab, atau ramah, tapi juga tidak buruk. Tapi lagi-lagi, aku bisa menetapkan penilaianku tersebut tidak berlandaskan pengalaman nyata yang valid, hanya terpengaruh dari pendapat pribadi dan tambahan kisah yang kudengar atau yang kubaca di berbagai media. Aku tidak mengabaikan bagian baiknya, tentu saja. Pesantren sebagai pembentuk karakter individu, tempat menempa mental, pilihan tepat agar anak membekali pengalaman dan pelajaran pertahanan hidup, belum lagi luar biasanya mereka yang mampu menghafal al-Qur’an sekaligus mengamalkannya, banyak. Aku mengakui itu semua, di beberapa pesantren yang berkualitas dan waras (nangkep kan, maksudku waras? terhindar dari penyelewengan yang lantas menjadi rahasia gelap pesantren). Seperti yang kubilang tadi, landasan persepsi ku tidak cukup kuat untuk membenarkan ‘ke-ogah-an’ ku berurusan banyak-banyak dengan anak pesantren, sampai ironisya, kini hampir semua teman di angkatan kuliah-ku lulusan pesantren semua, haha. Aku tidak menganggap itu pukulan telak, malahan bersyukur bisa dikelilingi pengaruh positif secara berkala. Kapan lagi kamu punya kehidupan kuliah yang dipenuhi ingatan untuk terus bermanfaat bagi orang lain, dorongan unruk murojaah hafalan Qur’an, kesadaran banyaknya ilmu agama yang tertinggal atau bahkan dilupakan, cincai menghadapi urusan hati terkait lawan jenis (alias galau, sad girl, kasmaran, apa pun itu) agar jangan sampai terbujuk bisikan setan untuk lantas pacaran? Oh, tidak semua orang bisa mendapat kemewahan tersebut, maka benarlah kalau kubilang aku ini sangat beruntung. Kesemuanya terlaksana sambil tidak lupa untuk menjadi gaul dan asik, tidak naif dan tanggap akan perubahan. Kami ini bukan yang konservatif, oke? Juga, aku memiliki sirkel kecil ini, terdiri atas lima orang; Aku, Afwa, Nabilla, Habib, Bayu. Sebelum ditanya, iya, mereka semua lulusan pesantren, cuma aku yang enggak. Sering gak ngumpul dan ada topik kamu gak bisa nyambung karena emang istilah yang mereka pakai banyak yang kamu gak tahu artinya? Sering, dong 🙂👍 dan dengan peka-nya, mereka suka mengartikan terlebih dulu bahkan ketika aku tidak menyuarakan ketidaktahuanku. Entah harus kusambut seperti apa inisiatif tersebut : ) Ada satu malam di mana kami semua ngobrol, garis besar topiknya adalah tentang pengalaman sekolah mereka di pesantren, dan momen itu menjadi titik poin yang mengubah persepsi ku terhadap ‘anak pesantren’. Kalau sebelumnya penilaianku hanya berkurang porsi ‘buruk’ nya, setelah mendengar kisah mereka menjadi berubah (oy, Bayu🫵🏻 kamu ini lebih muda dari aku [ya walaupun cuma satu tahun, sih], tapi kayaknya lebih banyak yang pernah kamu lalui dulu di semasa sekolah, dibanding aku). Dan memanglah terbukti, tentang persepsiku yang dulu tidak memiliki landasan kuat. Kini setelah bertemu langsung orang-orangnya, aku bisa mematahkan opini tidak ramah ku yang dulu itu dan beralih menjadi kekaguman tulus. Well done, guys. More Photos Penulis : Nurrida Aishya Shafa Mulya Mahasiswi Perpustakaan & Sains Informasi UIM Yogyakarta Instagram : @nurridashafa_

